Hukum Memotong Kuku Ketika Hendak Berkurban


Salah satu etika ketika hendak berkurban adalah tidak memotong kuku dan rambut, baik rambut di kepala maupun lainnya yang menempel di badan. Etika ini dilakukan sejak memasuki tanggal 10 Dzul Hijjah, atau ketika hari raya Idul Adha tiba.

Imam Nawawi di dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab mengatakan bahwa pendapat yang lebih tepat mengenai hukum memotong kuku ketika hendak berkurban adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya makruh. Pendapat ini berpijak pada Hadis:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Ummi Salamah bahwa Nabi Saw bersabda: siapa saja yang memiliki hewan untuk dijadikan hewan kurban, maka ketika sudah tiba bulan Dzul Hijjah tidak boleh memotong apa pun dari rambut dan kukunya sampai (selesai) menyembelih.” (HR. Muslim).

Sekalipun persoalan ini terkait dengan etika, namun tetap terdapat hukum yang melekat terhadapnya. Jadi, kebalikan hukum (mafhum mukhalafah) dari Hadis tersebut adalah anjuran bagi orang yang hendak berkurban agar tidak memotong rambut dan kukunya. Anjuran ini juga sebagaimana ditegaskan Imam Syairazi di dalam kitabnya al-Muhadzdzab. (M. Syarofuddin Firdaus)