Hukum Foto Prewedding


Di zaman sekarang kiranya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia yang akan melangsungkan pernikahan melakukan sesi foto bersama kedua calon mempelai. Masyarakat Indonesia mengenal sesi foto tersebut dengan prewedding. Biasanya, prewedding itu dilakukan sebelum adanya ijab kabul nikah. Foto-foto tersebut nantinya digunakan untuk mempercantik atau menghiasi souvenir atau dipajang di undangan, bisa juga digunakan sebagai penghias ruangan pernikahan. Foto teresebut terlihat indah karena dipotret dengan latar belakang yang begitu indah.

Seluruh ulama fikih sepakat bahwa hukum foto prewedding itu haram jika terjadi:

1. Aktivitas Yang Mendekati Zina

Tidak bisa dipungkiri saat melakukan sesi foto prewedding akan terjadi hal-hal yang akan mendekati perbuatan zina. Seperti, bersentuhan, saling bertatapan, dan sebagainya. Padahal itu sudah jelas dilarang Allah dalam al-Quran:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra’: 32)

Ayat di atas Allah melarang keras hambanya untuk mendekati zina atau hal-hal yang mendorong terjadinya perbuatan zina. Pengertian zina bukan hanya berhubungan badan. Tetapi saling melihat atau menatap juga termasuk ke dalam zina, yakni zina mata. Berdua-duaan antara seorang laki-laki dan perempuan pun sudah dapat dikatakan sebagai perbuatan yang mendekati zina. Apalagi jika saling berpegangan, saling merangkul atau memeluk.

2. Ikhtilath dan Khalwat

Ikhtilath yakni pergaulan campur pria wanita, dan khalwat atau berdua laki-laki dengan perempuan. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan (bukan mahram) karena yang ketiga adalah setan.” (HR Abu Daud).

Walau calon mempelai wanita memakai jilbab saat foto prewedding, tetap saja tidak boleh, karena Islam melarang berdua-duan antara pasangan yang belum halal, dan campur-baur antara laki-laki dan perempuan yang belum akad nikah.

Bersentuhan dengan lawan jenis. Dalam proses foto prewedding hampir dipastikan terjadi persentuhan antara calon mempelai pria dan calon mempelai wanita. Ada ancaman keras dari sabda Rasulullah SAW: “Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR at-Thabrani)

3. Tabarruj

Tabarruj artinya berhias diri. Untuk sesi foto prewedding sudah pasti para wanita mempersiapkan diri dengan berdandan atau berhias. Hal ini lah yang disebut dengan tabarruj. Bergaya atau berpose secara berlebihan yang merangsang timbulnya syahwat laki-laki lain, jelas tidak dibolehkan. Dalam foto prewedding dapat dipastikan si wanita akan berdandan, bergaya, dan berpose sebaik mungkin, semenarik mungkin, padahal jelas disadari bahwa foto tersebut akan dilihat banyak lelaki.

Itulah mengapa islam melarang wanita untuk tabarruj. Allah sudah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS al-Ahzab: 33)

Maksud dari berhias dan perhiasan  adalah wajah atau bagian tubuh yang sudah sengaja diperindah dengan menggunakan makeup atau macam-macam aksesoris . Hal ini juga berlaku untuk wanita yang memakai kerudung. Jika ia menggunakan kerudung tetapi ditambah dengan berbagai aksesoris, dililit-lilit sedemikian rupa, kemudian menggunakan makeup berlebihan, sama saja ia telah melakukan tabarruj.

4. Bermesraan

Seperti sudah diketahui kedua calon mempelai masih berstatus orang lain, belum menjadi suami istri, belum halal karena belum akad nikah, tetapi dalam perbuatan foto prewedding pastilah mereka berpandangan dan diupayakan tampak semesra mungkin. Ini jelas haram.

Dari Jabir RA: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW perihal melihat dengan tiba-tiba kepada wanita yang bukan mahram, maka Beliau bersabda: palingkanlah segera penglihatanmu.” (HR Muslim).

Hukum haram ini tidak hanya berlaku pada calon mempelai berdua saja, melainkan fotografer juga terkena hukum haram, karena umumnya fotografer melihat dan bahkan meyentuh bagian anggota tubuh calon mempelai wanita untuk menata dandanan dan penampilan agar tampak lebih indah dan menarik. Atau minimal para fotografer itu rela terhadap tindakan foto prewedding yang merupakan perbuatan terlarang tersebut.[]

Namun perbuatan foto prewedding itu tidak mutlak haram, melainkan ada peluang untuk diperbolehkan jika dalam proses pelaksanaannya dapat dihindari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, tidak mengandung unsur perbuatan mungkar. Hal ini bisa ditempuh, misalnya dengan cara kedua calon mempelai melakukan pengambilan foto secara terpisah, dan juga dipajang atau dipasang secara terpisah, atau pengambilan gambar itu dilakukan setelah melaksanakan akad nikah, sebelum resepsi pernikahan, yang berarti keduanya sudah halal. Walaupun demikian si wanita harus tetap berpakaian sopan, islami, dan tidak ber-tabarruj. Akan tetapi, jika diyakini foto prewedding tersebut dapat memunculkan penilaian negatif dari masyarakat, maka foto prewedding tersebut tetap dilarang. Walau dilaksanakan sesudah akad nikah.[]