Hukum dan Niat Tajdidul Wudhu

Rabu, 16 Januari 2019 konsultasi | 366 klik
Faza Grafis:Faza

Salam, admin Harakah yang budiman. Saya ingin bertanya tentang niat memperbarui wudhu, apakah sama dengan niat wudhu seperti biasa atau ada yang lain. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Dalam fiqih, memperbarui wudhu disebut dengan tajdidul wudhu. Yang dimaksud tajdidul wudhu adalah melakukan wudhu meskipun wudhu yang pertama belum batal. Hukum memperbarui wudhu adalah sunnah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw berikut;

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي ، لَأَمَرْتُهُمْ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ بِوُضُوءٍ ، ومَعَ كُلِّ وُضُوءٍ بِسِوَاكٍ ، وَلَأَخَّرْتُ عِشَاءَ الْآخِرَةِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ

“Jika sekiranya tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka melakukan wudhu setiap hendak shalat, dan melakukan siwak setiap hendak wudhu, dan sungguh aku akhirkan waktu isya’ akhir sampai sepertiga malam.” (HR. Imam Ahmad dan Nasai).

Dalam kitab al-Majmu’, Imam Nawawi berkata sebagai berikut;

اِتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى اسْتِحْبَابِ تَجْدِيْدِ الْوُضُوْءِ وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى وُضُوْءٍ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْدِثَ

“Sahabat kami (ulama Syafiiyah) telah bersepakat atas kesunahan memperbarui wudhu, yaitu ketika ada orang yang dalam kondisi punya wudhu kemudian wudhu lagi tanpa menunggu hadas terlebih dahulu.”

Adapun niatnya tidak sama dengan niat wudhu karena hadas. Niat tajdidul wudhu tidak boleh niat untuk menghilangkan hadas kerena bukan dalam kondisi sedang hadas. Tetapi niat karena melaksanakan wudhu atau fardhu wudhu. Untuk lebih jelasnya, lafadaz niat tajdidul wudhu sebagai berikut;

نَوَيْتُ الْوُضُوْءِ| فَرْضَ الْوُضُوْءِ|اَدَاءَ الْوُضُوْءِ | لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitul wudhu-a/fardhal wudhu-i/ada-al wudhu-i lillahi ta’ala.

“Saya niat wudhu/fardhu wudhu/melaksanakan wudhu karena Allah Ta’ala.”