Hukum Belajar Bahasa Arab

Senin, 18 Maret 2019 konsultasi | 403 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum Wr. Wb. Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya belajar bahasa Arab? Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Mempelajari bahasa Arab adalah perkara yang penting bagi umat Islam. Perkataan para ulama salaf menunjukkan bahwa mereka senantiasa mendorong umat untuk belajar bahasa Arab. Imam Al-Syafi’i (w. 204 H.) berkata;

فَعَلى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ مَا بَلَغَهُ جُهْدُهُ حَتَّى يَشْهَدَ بِه أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَيَتْلُوْا بِه كِتَابَ اللهِ وَيَنْطِق باِلذِّكْرِ فِيْمَا افْترضَ عَلَيْه مِن التَّكْبِيْرِ وَأمرَ بِه مَن التَّسْبِيْح وَالتَّشَهُّد وَغَيْر ذلِك. وَمَا ازْدَادَ مِن الْعِلْمِ باِللِّسَانِ الَّذِيْ جَعَلَ اللهُ لِسَانَ مَنْ خَتَمَ بِه نُبُوَّتَهُ وَأَنْزِلَ بِهِ آخِرَ كُتُبِهِ كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Setiap Muslim wajib mempelajari bahasa Arab semaksimal mungkin hingga dia bisa bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Juga agar bisa membaca kitabullah, mengucapkan lafaz zikir yang diwajibkan kepadanya seperti takbir, dan yang diperintahkan kepadanya seperti tasbih, tasyahhud dan yang lainnya. Pengetahuan bahasa Arab –yang dengannya Allah menjadikan bahasa untuk penutup Nabi, dan dengannya pula Allah menurunkan kitab terakhirnya-yang lebih dari hal itu adalah kebaikan untuknya.” (Al-Risalah, hlm 38-39).

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H.) berkata;

فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّيْنِ وَمَعْرِفَتهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ وَلاَ يُفْهَمُ إِلاَّ بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ وَمَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِه فَهُوَ وَاجِبٌ ثُمَّ مِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلى الأَعْيَانِ وَمِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلى الْكِفَايَةِ

“Bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mengetahuinya adalah fardhu dan wajib. Karena memahami Al-Quran dan As-As-Sunnah hukumnya wajib, dan tidak bisa difahami kecuali dengan memahami Bahasa Arab. Sebuah kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajib. Lalu, diantara bahasa Arab itu ada yang wajibnya bersifat ‘ain ada pula yang wajibnya bersifat kifayah” (Iqtidha’ As-Shirath Al-Mustaqim, hlm. 207)

وَلَا بُدَّ فِي تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ مِنْ أَنْ يُعْرَفَ مَا يَدُلُّ عَلَى مُرَادِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ مِنْ الْأَلْفَاظِ وَكَيْفَ يُفْهَمُ كَلَامُهُ ، فَمَعْرِفَةُ الْعَرَبِيَّةِ الَّتِي خُوطِبْنَا بِهَا مِمَّا يُعِينُ عَلَى أَنْ نَفْقَهَ مُرَادَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ بِكَلَامِهِ

“Untuk menfsirkan Al-Quran dan hadis, menjadi keharusan mengetahui sesuatu yang menunjukkan maksud lafaz-lafaz Allah dan RasulNya, dan bagaimana firmannya difahami. Jadi, mengetahui bahasa Arab yang dengan bahasa ini kita diseru adalah termasuk hal yang membantu agar kita memahami maksud Allah dan Rasulnya dalam ucapannya” (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 7, hlm 116)

Al-Syathibi (w. 790 H.) berkata;

أن القرآن نزل بلسان العرب على الجملة، فطلب فهمه إنما يكون من هذا الطريق خاصة، … فمن أراد تفهمه، فمن جهة لسان العرب يفهم، ولا سبيل إلى تطلب فهمه من غير هذه الجهة

“Al-Qur’an secara keseluruhan turun dalam bahasa Arab. Jadi, tuntutan untuk memahaminya hanyalah bisa dari jalan ini saja… barang siapa yang ingin memahami Al-Qur’an, maka hanya dari arah bahasa Arab saja bisa dipahami. Dan tidak ada jalan lain untuk menuntut memahaminya selain dari arah ini saja” (Al-Muwafaqat, jilid 2, hlm. 102)

Imam Al-Zarkasyi mengutip statemen Imam Fakhruddin (w. 606 H.) ketika membantah pendapat yang mengatakan bahwa mempelajari bahasa Arab hukumnya fardhu kifayah dengan mengatakan;

وَنَازَعَ الْإِمَامُ فَخْرُ الدِّينِ في شَرْحِ الْمُفَصَّلِ في كَوْنِهِمَا فَرْضَ كِفَايَةٍ لِأَنَّ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إذَا قام بِهِ وَاحِدٌ سَقَطَ عن الْبَاقِينَ قال وَاللُّغَةُ وَالنَّحْوُ ليس كَذَلِكَ بَلْ يَجِبُ في كل عَصْرٍ أَنْ يَقُومَ بِهِ قَوْمٌ يَبْلُغُونَ حَدَّ التَّوَاتُرِ لِأَنَّ مَعْرِفَةَ الشَّرْعِ لَا تَحْصُلُ إلَّا بِوَاسِطَةِ مَعْرِفَةِ اللُّغَةِ وَالنَّحْوِ وَالْعِلْمُ بِهِمَا لَا يَحْصُلُ إلَّا بِالنَّقْلِ الْمُتَوَاتِرِ فإنه لو انْتَهَى النَّقْلُ فيه إلَى حَدِّ الْآحَادِ لَصَارَ الِاسْتِدْلَال على جُمْلَةِ الشَّرْعِ اسْتِدْلَالًا بِخَبَرِ الْوَاحِدِ فَحِينَئِذٍ يَصِيرُ الشَّرْعُ مَظْنُونًا لَا مَقْطُوعًا وَذَلِكَ غَيْرُ جَائِزٍ

“Imam Fakhruddin dalam Syarh Al-Mufasshal mendebat pendapat yang mengatakan bahwa mempelajari ilmu Al-Lughah dan Nahwu adalah fardhu kifayah. Karena fardhu kifayah jika ada satu yang melakukan maka, kewajiban tersebut gugur bagi yang lain. Beliau mengatakan: Ilmu Lughah dan Nahwu tidak demikian, bahkan wajib setiap masa ada sekelompok orang yang mencapai derajat Mutawatir untuk mengetahuinya. Karena mengetahui Syara’ tidak mungkin kecuai dengan perantaraan ilmu Lughah dan Nahwu. Mendapatkan ilmu Lughah dan Nahwu tidak mungkin kecuali dengan penukilan Mutawatir. Karena jika penukilannya hanya sampai derajat Ahad maka istidlal syariat secara umum akan menjadi istidlal dengan khabar Ahad. Pada saat itu, syariat menjadi bersifat dugaan, bukan pasti dan itu tidak boleh. (Al-Bahru Al-Muhith Fi Ushul Al-Fiqh, vol.1, hlm 391)

Berangkat dari penjelasan para ulama di atas, mempelajari bahasa Arab hukumnya wajib atau fardhu. Tetapi sebagian ulama berbeda pendapat tentang bentuk kewajibannya. Ada yang merincinya menjadi fardhu ain dan fardhu kifayah. Imam Fakhruddin Al-Razi menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu ain. Demikian pula zahirnya pernyataan Imam Al-Syafi’i.