Gibah Ketika Berpuasa, Bikin Pahala Zonk


Dalam kehidupan sehari-hari kita tak pernah luput dari pergaulan bersama masyarakat. Jika sudah bergaul maka besar kemungkinan untuk membicarakan aib seseorang (gibah), lalu bagaimana hukum orang yang bergibah ketika berpuasa?

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ بِأَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan kebohongan (perkataan kotor) di bulan Ramadan maka puasa yang dia lakukan tidak bernilai apa-apa di mata Allah, meskipun dia menahan lapar dan haus. (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat Al-Thabarani menggunakan redaksi,

مَنْ لَمْ يَدَعْ الخَنَا وَالْكَذْبَ

Barangsiapa tidak meninggalkan kebohongan. (HR. Al-Thabarani)

Jadi hukum gibah di bulan puasa adalah haram dan akan berdampak pada hangusnya pahala puasa. Lapar dan haus yang kita rasakan dari mulai terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari tidak bernilai apa-apa di mata Allah.

Mengapa gibah sangat dilarang? Karena gibah adalah perbuatan tercela yang dilakukan dengan mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan hal yang benar pun akan disalahkan dan menyebarkan aib tersebut.

Jika di hari-hari biasa saja dilarang untuk melakukan gibah apalagi ketika bulan puasa. Hal ini tak lain karena tujuan puasa sendiri juga untuk mencegah diri agar tidak mengikuti hawa nafsu dan melakukan perbuatan dosa.

Oleh karena itu gibah di bulan puasa sangat dilarang, begitu juga di hari-hari yang lain. Karena ketika gibah, orang yang melakukannya seakan-akan memakan daging pihak yang digibah. Dosa orang yang tengah digibahi akan habis karena berpindah kepada orang yang melakukan gibah itu sendiri.

Untuk menghindari hal seperti itu sebaiknya dengan memperbanyak ibadah di bulan puasa seperti tadarus al-Quran, berdzikir dan lain sebagainya. Jika diri kita sudah disibukkan dengan berbagai hal yang mendekatkan diri kepada Allah, maka insyaallah kita pun akan lupa dengan hal-hal semacam itu yang tidak ada artinya sama sekali. Wallahu a’lam. (Nur Faricha).