Empat Fondasi Akhlakul Karimah


Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik perilakunya. Demikian sabda Rasulullah saw. kutipan tersebut menunjukkan bahwa kesempurnaan iman seseorang dapat dilihat dari perilakunya. Semakin baik perilakunya, semakin sempurna keimanannya.

Ada banyak perilaku positif yang dikenal dalam kehidupan kita. Namun, semua perilaku baik itu bermuara pada empat sikap pokok yang menjadi pondasi bagi sikap-sikap positif lainnya. Khalid bin Jum’ah dalam kitab Mausu’ah al-Akhlaq mengatakan bahwa akhlakul karimah mempunyai empat buah pondasi. Keempatnya merupakan sumber segala perilaku baik. 

Pertama, kesabaran (al-shabr). Sabar dapat membuat seseorang menjadi tenang, tidak mudah tergesa-gesa dalam merespon sesuatu, santun, tidak mudah marah, dan tidak gampang menyakiti orang lain. Baik melalui lisan maupun perbuatannya.

Kedua, ifah atau mengekang hawa nafsu (al-‘iffah). Ifah berfungsi menjaga seseorang dari perilaku tercela baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Ifah juga berfungsi menumbuhkan kesadaran untuk mengontrol diri agar tidak memperturutkan syahwat dan hawa nafsu. Selain itu, ifah dapat menahan diri seseorang dari melakukan gibah, menyebarkan hoaks, dan perilaku buruk lainnya.

Ketiga, keberanian (al-syaja’ah). Berani adalah kebalikan sifat penakut. Keberanian dapat mendorong seseorang memilih sikap positif guna menjaga kehormatan diri, tidak gampang menjual kehormatan diri, berbudi luhur dan bertindak berdasarkan pertimbangan kemaslahatan orang banyak.

Keempat, tengah-tengah (al-‘adl). Bersikap tengah-tengah adalah titik tengah antara dua sikap ekstrem berlebih-lebihan dan serba sedikit. Seperti sifat berani yang berada di antara sifat penakut dan ceroboh. Dermawan yang berada di antara pelit dan menghamburkan harta.