Budaya Menyambut Ramadan Di Indonesia

Selasa, 7 Mei 2019 konsultasi | 94 klik
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum. Saya pernah baca postingan yang intinya berisi larangan mengekspresikan kebahagiaan atas kedatangan Ramadhan seperti saling memaafkan, berziarah ke makam keluarga yang telah wafat dan mandi beramai-ramai yg intinya adalah untuk menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Argumennya, karena Rasulullah tidak pernah mencontohkan ekspresi kebahagiaan untuk menyambut Ramadan. Pertanyaan saya, benarkah Rasulullah tidak pernah mengekspresikan kebahagiaan atas datangnya bulan? Terima kasih.

Waalaikum salam wr wb. 

Menyambut bulan Ramadan dengan penuh kegembiraan merupakan tuntunan Islam. Hal itu sudah pernah dilakukan Nabi saw. di depan para sahabatnya dimana beliau mengajak mereka untuk bersama-sama merayakan kedatangan bulan Ramadan. Dalam kitab Al Musnad, Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُبَشِرُ اَصْحَابَهُ بِقُدُوْمِ رَمَضَانَ يَقُوْلُ : ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Rasulullah saw. memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya tentang kedatangan bulan Ramadan seraya beliau berkat,  ‘Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Di bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, ulama besar mazhab Hanbali, mengatakan bahwa berdasarkan hadis ini para ulama menganjurkan untuk saling bertahniah atau saling mengucapkan, “Selamat menyambut kedatangan bulan Ramadan” di antara satu sama lain ketika menjelang bulan Ramadan. Di Indonesia tahniah tersebut biasanya diungkapkan dengan kalimat “Ahlan wa sahlan ya ramadan”. Kegembiraan dan kebahagiaan dalam menyambut bulan Ramadan harus ditampakkan satu sama lain. Orang Indonesia punya beberapa ekspresi tersendiri ketika menyambut momen bahagia nan sakral, seperti dengan saling meminta maaf, berziarah ke makam keluarga yang telah tiada dan mandi bersama di keramaian. Ini tentu saja adalah cara   orang-orang Indonesia mengekspresikan kebahagiaannya. Bagi orang Indonesia, tidak sempurna kebahagiaan yang kita peroleh tanpa melibatkan orang lain yang kita sayangi. Saling memaafkan adalah perbuatan mulia dalam Islam. Ia berpahala besar. Berziarah, menghadiahkan pahala bacaan, serta mendoakan keluarga yang telah wafat adalah cara lain orang Indonesia berbagi kebahagiaan dengan orang yang mereka sayangi. Ketiganya bisa berbuah pahala jika diniati dan dilakukan dengan cara yang benar. Begitu pula mandi beramai-ramai, bersama sanak saudara, teman-teman, orang sekampung berkumpul bermain air. Ia adalah ekspresi kebahagiaan. Ini hanyalah budaya bahagia orang Indonesia. Cara orang Indonesia mengungkapkan perasaan bahagianya. Karenanya, hendaknya budaya ini dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam 

Selain anjuran mengungkapkan perasaan bahagia, Islam menganjurkan memperbanyak doa ketika menyambut bulan Ramadan. Imam Nawawi dalam  Al-Majmu menyebutkan sebuah hadis yang berisi doa Nabi saw. ketika menyambut bulan Ramadan. Hadis tersebut diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dari Thalhah bin Ubaidillah, dia barkata;

انَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلالَ قَالَ اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Nabi saw ketika telah melihat hilal Ramadan, beliau berdoa; Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah (Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” 

Dengan demikian, menyambut kedatangan bulan suci Ramadan dengan ungkapan kebahagiaan yang tidak bertentangan dengan Islam adalah boleh. Ia pernah dilakukan oleh Rasulullah. Karena itulah menyambut kedatangan bulan Ramadhan dianjurkan dengan perasaan bahagia. Wallahu’alam.