Bolehkan Berkurban dengan Ayam?

Rabu, 8 Agustus 2018 konsultasi | 597 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Jika melihat pendapat empat madzhab fikih selaku madzhab otoritatif dan menjadi pegangan umat Islam saat ini, mereka sepakat bahwa hewan yang bisa digunakan untuk berkurban hanya binatang ternak. Hal ini berpijak pada dalil:

وَلِكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِ (الحج: 34)

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. al-Hajj: 34).

Para imam madzhab tersebut memahami kata ‘binatang ternak’ antara lain kambing/ domba, sapi, kerbau, dan unta. Selain itu, hewan-hewan yang lain tidak dapat dijadikan hewan kurban. Dengan kata lain, jika berkurban dengan hewan selain tadi maka ibadah kurbannya tidak sah.

Akan tetapi, Syekh Abdurrahman Ba’lawi di dalam kitabnya Bughyatul Mustarsyidin menyatakan bahwa berkurban selain binatang ternak di atas seperti ayam dan angsa hukumnya boleh. Pernyataan beliau berdasarkan pada riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّهُ يَكْفِي فِي الْأُضْحِيَّةِ إَرَاقَةُ الدَّمِ وّلَوْ مِنْ دُجَاجَةٍ وَإِوَزٍّ

Diriwayatkan dari Ibn Abbas: sesengguhnya dalam berkurban cukup mengalirkan darah meskipun dari ayam atau angsa.

Kebolehan ini, kata beliau, berdasarkan analogi (qiyas) pada aqiqah, yang di dalam madzhab Ibn Abbas membolehkan menggunakan ayam untuk dijadikan hewan aqiqah.

Namun, kebolehan berkurban menggunakan ayam tidak bersifat mutlak. Syekh Abdurrahman menegaskan bahwa ketentuan tersebut dibolehkan hanya bagi orang fakir. Dalam fiqh, term fakir adalah orang yang penghasilannya lebih sedikit ketimbang kebutuhannya. Oleh karenanya, dengan kondisi mereka seperti itu, namun keinginan untuk melaksanakan ibadah kurban sangat kuat, maka solusi alternatifnya adalah dengan menggunakan ayam untuk dijadikan hewan kurban. Tentunya, ketentuan ini tidak berlaku bagi orang yang kaya atau yang sudah berkecukupan. (M. Syarofuddin Firdaus)