Bolehkah Menggambar Makhluk Bernyawa?

Selasa, 25 September 2018 konsultasi | 6423 klik
Azkiatuttahiyyah Teks:Azkiatuttahiyyah
Faza Grafis:Faza

Masyarakat semakin kreatif karena teknologi digital. Semakin mudah saja ditemukan beragam model seni rupa. Salah satunya adalah seni menggambar makhluk hidup. Bagaimana hukum menggambarkan makhluk hidup dengan teknologi digital?

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda,

مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

Barangsiapa menggambar suatu gambar di dunia maka pada hari kiamat akan dibebankan kepadanya untuk meniupkan ruh ke dalamnya sedangkan ia tidak akan sanggup meniupkan ruh. (HR. Bukhari-Muslim)

Secara umum, hadis ini mengandung pengertian semua gambar atau ilustrasi baik yang bernyawa maupun tidak. Namun Imam Ibn Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam hadis lain yang semakna dikatakan bahwa yang dimaksud shuroh adalah patung makhluk bernyawa yang dibuat dengan tujuan untuk disembah, sehingga tidak termasuk di dalamnya pohon, tanaman, matahari dan bulan. Sedangkan Imam Abu Muhammad Al-Juwaini menambahkan bahwa dilarangnya menggambar makhluk yang bernyawa maupun tidak bernyawa karena pada saat itu dijadikan objek sesembahan dan  alat menyekutukan Allah. Adapun balasan untuk meniupkan ruh ke dalam gambar tersebut merupakan kiasan atas azab yang akan mereka terima, sekaligus untuk menunjukkan kelemahan mereka karena sebenarnya hal tersebut mustahil untuk dilakukan.

Hal terpenting yang juga harus dipahami dari hadis ini dan hadis-hadis lain yang mendukungnya tertuju pada makna mushawwir. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa yang dimaksud mushawwir adalah orang yang membentuk sesuatu untuk dijadikan sesembahan selain Allah, sehingga ia termasuk dalam berbuat kufur. Sedangkan Syekh Yusuf Al-Qaradhawi mengartikan sebagai orang yang membuat suatu benda atau objek yang mempunyai bayangan, yang tidak lain adalah patung atau seni rupa 3 dimensi.

Dengan demikian, seni rupa yang diharamkan adalah seni rupa dalam bentuk 3 dimensi dari suatu objek bernyawa maupun tidak bernyawa yang digunakan sebagai sesembahan selain Allah atau berniat menandingi-Nya sebagai Maha Pencipta. Adapun jika menggambar makhluk tidak bernyawa seperti pohon, pemandangan alam, tokoh-tokoh terkenal, dengan maksud untuk pembelajaran serta tidak ada unsur keharaman di dalamnya maka dapat dibolehkan. Wallahu a’lam. (Azkiatuttahiyyah).