Bolehkah Mengambil Upah dari Mengajar Al-Qur’an?

Kamis, 30 Agustus 2018 konsultasi | 773 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Ass… salam harakah. Saya mau tanya, apakah boleh tenaga pengajar menerima dan mengambil upah dari pekerjaannya?

Waalaikumsalam. Berikut penjelasannya!

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللّهِ

“Sesungguhnya sesuatu yang paling berhak kamu ambil upah adalah Kitab Allah.” (HR.Al-Bukhari)

Al-‘Asqalaniy dalam Fath al-Bariy (4): 453 menjelaskan adanya perbedaan pendapat para ulama dalam sistem penggajian, honor, atau upah dalam pendidikan dan pengajaran:

  1. Jumhur ulama memperbolehkan menerima upah dalam pengajaran berdasarkan Hadis di atas.
  2. Ulama Hanafiyah melarang penerimaan upah dalam pengajaran dan memperbolehkannya dalam pengobatan atau ruqiyah saja. Alasan mereka mengajarkan Al-Qur’an adalah ibadah pahalanya dari Allah, kebolehan menerima upah dalam ruqiyah karena adanya Hadis tersebut.

 

Syekh ‘Athiyah Muhammad Salim dalam Syarah Bulugh Al-Maram, menjelaskan bahwa berdasarkan Hadis di atas hukum menerima upah atau gaji dalam pengajaran Al-Qur’an atau membacakannya ada beberapa pendapat:

  1. Jika pemberian upah atau gaji dari kehendak sendiri dari orang yang diajar atau yang dibacakannya boleh saja.
  2. Jika diupahkan mengajar atau diberi upah karena membaca Al-Qur’an tidak diperbolehkan.

Kesimpulanya, tidak ada larangan secara mutlak dan secara tegas dalam sistem gaji, honor dan upah dalam pendidikan dan pengajaran, tetapi bergantung pada kondisi yang dihadapi karena memungkinkan kompromi pada Hadis-Hadis Shahih yang lahirnya kontra.

Abd. Al-Muhsin Al-Ibad dalam Syarah Abi Daud (3): 403 pada bab upah adzan menyatakan bahwa upah atau penggajian pada tukang adzan, imam masjid, dan guru pengajar Al-Qur’an atau ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah para ulama berbeda pandangan ada 3 pendapat:

  1. Boleh menerima upah dengan alasan Hadis upah pada ruqiyah sebagaimana Hadis di atas.
  2. Tidak boleh menerima upah secara mutlak. Bolehnya menerima upah apabila berbentuk barang yang diwakafkan bagi kaum muslimin atau uang kas dan atau amal dari dermawan.
  3. Perumpamaan pengajaran Al-Qur’an bagaikan wali anak yatim, jika dia orang mampu tidak mau mengambil upah dan bila ia miskin ambillah dengan makruf.

Dari berbagai pendapat di atas tidak ada yang memperbolehkan honor atau gaji secara mutlak. Bolehnya, selalu ada catatan yang intinya dalam profesionalis guru  agama atau Al-Qur’an jangan tawar menawar seperti tukang kayu, tukang besi, atau profesi lain yang semata mencari upah, bukan karena kewajiban dan bukan mencari pahala dari Allah SWT. (Ida Mahmudah)