Bolehkah Menerima Hadiah Natal dalam Islam?

Selasa, 25 Desember 2018 konsultasi | 323 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Faza Grafis:Faza

Salam, admin Harakah yang budiman. Setiap perayaan Natal, ada teman saya yang selalu ngasih kue Natal ke saya. Meski saya sudah bilang saya Muslim, dia tetap selalu memberi kue Natal setiap tahun. Yang ingin saya tanyakan, bolehkah menerima hadiah Natal dalam Islam seperti kue di atas?

Menerima hadiah Natal atau hadiah perayaan agama lain hukumnya boleh dalam Islam. Kita tidak dilarang untuk menerima pemberian dari orang lain, meski berbeda agama dan keyakinan dengan kita. Sebaliknya, kita selalu dituntut untuk menghargai dan berbuat baik kepada orang lain, termasuk pada orang yang berbeda agama.

Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha-us Shirathil Mustaqim mengatakan, boleh menerima hadiah dari non muslim pada saat hari raya mereka. Hal ini karena Sayidina Ali pernah menerima hadiah dari orang Majusi pada saat hari raya Nourus atau perayaan tahun baru orang-orang Majusi di Persia. Beliau berkata;

واما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن ابي طالب انه اتي بهدية النيروز فقبلها

“Adapun menerima hadiah dari non muslim pada hari raya mereka, maka kami telah sebutkan dari Sayidina Ali bahwa dia pernah diberi hadiah Norouz (perayaan tradisional tahun baru di Persia) dan beliau menerimanya.”

Karena itu, berdasarkan riwayat ini dan riwayat lain Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa boleh menerima hadiah dari non muslim, baik pada hari raya mereka atau hari-hari yang lain. Beliau berkata;

فهذا كله يدل على أنه لا تأثير للعيد في المنع من قبول هديتهم ، بل حكمها في العيد وغيره سواء ؛ لأنه ليس في ذلك إعانة لهم على شعائر كفرهم

“Maka semua riwayat ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh karena hari raya terhadap larangan menerima hadiah dari non muslim. Bahkan hukum menerima hadiah di hari raya atau lainya sama saja. Hal tersebut karena di dalamnya tidak ada unsur membantu mereka atas syiar kekufurannya.”

Dengan demikian, menerima hadiah pada hari Natal atau hari raya agama lain diperbolehkan, apalagi hadiah tersebut berupa barang atau makanan yang kita yakini kehalalannya. (Muhammad Juriyanto)