Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah Ketika Ditraktir Makan?


Salam, admin harakah yang terhormat, bagaimana hukumnya membatalkan puasa sunnah?

Puasa ada dua macam: puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib dikerjakan selama bulan Ramadhan, sementara puasa sunnah boleh dikerjakan kapanpun kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk puasa, semisal hari raya idul fitri dan idul adha, hari tasyriq, dan lain-lain.

Puasa wajib tidak boleh dibatalkan dengan alasan apapun, kecuali dalam kondisi darurat. Kondisi darurat itu maksudnya kalau puasanya tidak dibatalkan bisa terjadi sesuatu yang berbahaya bagi kelangsungan hidupnya. Misalnya, orang yang sakit parah dibolehkan untuk tidak puasa.

Hal ini berbeda dengan puasa sunnah yang boleh dibatalkan. Sebagian ulama tidak mewajibkan qadha puasa sunnah, sementara ulama lain berpendapat kalau puasa sunnah sudah dikerjakan, kemudian dibatalkan, wajib diqadha pada hari berikutnya. Meskipun demikian, tetap dianjurkan untuk tidak membatalkan puasa sunnah.

Lalu bagaimana bila dihadapkan pada situasi ada teman yang mengajak makan atau pada saat bertamu ke rumah orang dihidangkan makanan? Dalam situasi ini kita memang berada dalam situasi dilema antara tetap puasa dan membatalkannya.

Menurut Syeikh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Muin, dalam situasi ini bagi orang yang mampu menahan untuk tidak makan dianjurkan untuk tetap melanjutkan puasa. Tapi bagi orang yang tidak mampu menahannya, membatalkan puasa lebih utama dengan alasan menghargai orang yang memberi makanan.

Dengan demikian, kalau ditawari makan teman saat puasa, ada dua pilihan antara melanjutkan atau membatalkannya. Mana yang harus dipilih? Tergantung pada situasinya.[]