Bolehkah Melakukan Talfiq (Memperadukkan Madzhab)?

Senin, 10 Desember 2018 konsultasi | 384 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Assalamualaikum Ustadz, saya mau bertanya soal mencampuradukkan madzhab, apakah boleh atau bagaimana ya?

Waalaikumsalam…

Hal pertama yang patut diperhatikan adalah, bagi orang awam yang tidak mengetahui seluk beluk sumber hukum berikut metode penggaliannya, ulama mengeluarkan ijma’ bahwa mereka wajib hukumnya bertaqlid kepada imam mujtahid atau madzhab. Ini diatur demi keselamatan dan jaminan kebenaran segala hal yang berkaitan dengan ritual peribadatan yang dilakukannya.

Lalu dalam proses taqlid, dikenal istilah talfiq, yaitu mencampuradukkan madzhab. Soal ini, ada tiga pendapat utama sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Wahbah al-Zuhayli; 1) pendapat yang menyatakan bahwa seseorang wajib mengikuti satu madzhab dan tak boleh pindah ke yang lain, 2) pendapat yang menyatakan bahwa seseorang dibebaskan memilih dan berpindah-pindah madzhab, dan 3) pendapat yang menyatakan bahwa perpindahan madzhab boleh dilakukan asal berada di luar lingkup satu ibadah tertentu.

Dari ketiga pendapat tersebut, pendapat ketiga adalah yang paling mutakhir dan merangkum kedua pendapat lainnya. Artinya, seseorang bisa berpindah madzhab asalkan tidak dalam satu rumpun ibadah. Contoh: ketika shalatnya mengikuti Madzhab Syafi’I, maka rumpun ibadah yang berkaitan dengan shalat haruslah mengikuti Madzhab Syafi’i. begitu juga wudhu yang merupakan syarah sah shalat. Tidak boleh misalnya seseorang ketika wudhu; membasuh wajah cara Madzhab Syai’i, membasuh tangan cara Madzhab Maliki, mengusap kepala cara Madzhab Hanafi dan membasuh kaki cara Madzhab Maliki.

Ketika berada di rumpun yang berbeda, seseorang diperbolehkan berpindah madzhab. Ini seperti yang biasanya terjadi pada jamaah haji Indonesia yang hendak berangkat ke tanah suci mekkah. Dalam Madzhab Syafi’i dinyatakan bahwa wudhu seseorang batal ketika bersentuhan dengan yang bukan mahram, baik mengandung syahwat atau tidak. Aturan ini menyulitkan seseorang ketika berada di sebuah lokasi yang penuh dengan manusia seperti Mekkah. Bisa dibayangkan harus berapa kali wudhu seseorang yang bermadzhab Syafi’i ketika berada di Mekkah; lokasi yang meniscayakan sentuhan lawan jenis? Untuk mempermudah hal ini, biasanya mereka berpindah ke dalam madzhab yang memiliki aturan lebih longgar soal batalnya wudhu

Namun jika tidak ada dorongan untuk pindah madzhab, menurut kami, akan jauh lebih baik dan lebih aman jika kita konsisten berpegang pada satu madzhab saja. Apalagi untuk orang awam yang tidak tahu seluk beluk mengenai perbedaan-perbedaan pendapat dan cara dalam madzhab-madzhab yang ada.