Bolehkah Berkurban Padahal Belum Akikah?


Persoalan yang sering muncul adalah pertanyaan seperti di atas. Karena kedua ibadah ini memiliki kesamaan dalam praktek dan objek, maka wajar kiranya jika masih ada yang ‘bingung’ dalam menyikapi persoalan tersebut.

Dalam menyikapi persoalan itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan terlebih dahulu:

  1. Objek hukum atau penanggung jawab atas kedua ibadah tersebut berbeda. Dalam kurban, Islam telah menetapkan bahwa penanggung jawabnya adalah orang (dewasa) yang memiliki kelebihan harta, sehingga ibadah diperuntukkan untuk dirinya sendiri atau orang yang ditanggung nafkahnya. Sedangkan dalam akikah, yang menjadi objek hukum adalah orang tua yang baru memiliki anak, sehingga pahalanya diperuntukkan bagi orang tua tersebut.
  2. Penyebab dan waktu pelaksanaan keduanya berbeda ketentuan. Ibadah kurban dianjurkan bagi mereka yang dianugrahi kelebihan harta, dan waktu pelaksanaannya pada hari raya kurban, yakni 10 Dzul Hijjah. Berbeda dengan ibadah akikah, yang dianjurkan bagi orang tua yang dikaruniai seorang anak, dan waktunya seminggu setelah kelahiran anak, atau bisa juga pada hari keempat belas.

Setidaknya, dari kedua penjabaran di atas dapat dikatakan bahwa ibadah kurban dan akikah tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Artinya, tidak ada sebab-akibat keduanya sehingga jika salah satunya tidak diwujudkan maka tidak akan berpengaruh kepada yang lain. Ini berbeda, misalnya, dengan kasus wudu’ dan shalat, yang keduanya memiliki sebab-akibat atau relasi satu sama lain. Sehingga jika wudu’nya tidak sah, misalnya, maka shalatnya pun tidak sah.

Oleh karena itu, persoalan mengenai ibadah kurban yang sering disangkutpautkan dengan ibadah akikah mestinya tidak terjadi. Meskipun memang antara keduanya memiliki kesamaan banyak hal, seperti jenis hewan dan kriterianya. Hal ini sebagaimana kata Syekh Wahbah Zuhaili di dalam kitabnya, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.

Jadi, jika ada yang ingin melaksanakan ibadah kurban, sedangkan dia dulu ketika kecil belum diakikahi oleh orang tuanya, maka boleh saja melakukan ibadah tersebut. Dengan kata lain, ibadah kurbannya tetap sah –tentu asal syarat dan rukunnya terpenuhi. Begitu juga sebaliknya, jika dia dikaruniai seorang anak, namun belum mengerjakan ibadah kurban, maka diperbolehkan melaksanakan akikah untuk anaknya.

Dan pada kasus pertama itu, sebagian ulama seperti al-Khallal dengan mengutip riwayat Imam Ahmad:

ذَكَرَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ أَنَّ بَعْضَهُمْ قَالَ: فَإِنْ ضَحَّى أَجْزَأَ عَنِ الْعَقِيْقَةِ

Imam Ahmad menyebutkan bahwa  sebagian ulama mengatakan: Jika ada orang berkurban maka sudah bisa mewakili akikah.

Artinya, dengan melaksanakan kurban, sedangkan belum diakikahi dulu ketika masih bayi, maka hal tersebut sudah bisa ditutupi dengan ibadah kurban yang dikerjakannya.(M. Syarofuddin Firdaus)