Boleh Mengakhirkan Shalat Karena Empat Uzur Ini

Kamis, 27 Desember 2018 konsultasi | 328 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Salam, admin Harakah yang budiman. Saya ingin bertanya, apakah boleh orang sakit mengakhirkan shalat hingga melewati waktunya? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

 

Orang yang sakit tetap wajib melaksanakan shalat tepat pada waktunya, tidak boleh mengakhirkan hingga waktunya habis. Jika tidak mampu berdiri, ia hanya diberi keringanan melaksanakan shalat sambil duduk, berbaring atau dengan kedipan mata. Namun ia tidak diberi keringanan untuk mengakhirkan shalat hingga melewati waktunya, karena sakit bukan termasuk uzur yang membolehkan seseorang mengakhirkan shalat.

Ada empat uzur yang boleh mengakhirkan shalat hingga melewati waktunya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Zubad berikut;

لَا عُذْرَ فِيْ تَأْخِيْرِهَا اِلَّا لِسَاهٍ # أَوْ نَوْمٍ اَوْ لِلْجَمْعِ اَوْ لِلْاِكْرَاهِ

“Tidak ada uzur untuk mengakhirkan shalat kecuali bagi orang yang lupa, atau tidur, atau jama’ atau karena dipaksa.”

Pertama, lupa. Jika kita lupa tidak shalat hingga waktu shalat habis, maka kita wajib mengqadha’ shalat tersebut ketika kita ingat dan kita tidak berdosa karena hal tersebut dinilai sebagai uzur mengakhirkan shalat.

Kedua, tidur hingga waktu shalat habis. Jika kita tidur hingga waktu shalat habis, maka kita wajib mengqadha’ shalat tersebut setelah bangun tidur dan kita tidak berdosa karena hal tersebut merupakan uzur mengakhirkan shalat. Nabi Saw bersabda;

ليْسَ فِي النّوم تَفْرِيط إِنَّمَا التَّفْرِيط على من لم يصل الصَّلَاة حَتَّى يَجِيء وَقت الْأُخْرَى

“Tidur tidak termasuk tafrith (meremehkan). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat berikutnya.” (HR. Muslim).

Ketiga, jama’ ta’khir shalat. Misalnya, mengakhirkan shalat Dhuhur pada waktu Ashar dengan niat jama’ ta’khir, atau shalat Maghrib pada waktu Isya’ dengan niat jama’ ta’khir.

Keempat, dipaksa untuk mengakhirkan shalat. Saat kita dipaksa oleh seseorang agar tidak shalat, maka kita boleh mengakhirkan shalat tersebut dan melakukannya pada saat paksaan itu hilang. Nabi Saw bersabda;

تجَاوز الله عَن أمتِي الْخَطَأ وَالنِّسْيَان وَمَا اسْتكْرهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku atas kesalahan yang tidak disengaja, karena lupa dan karena dipaksa melakukannya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

(Muhammad Juriyanto)