Batalnya Kebolehan Mengusap Sepatu

Senin, 11 Februari 2019 konsultasi | 294 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum Ustadz, ini pertanyaan yang lama saya pikirkan. Saya adalah orang yang sering bepergian. Terkadang saya merasa kesulitan kalau harus membuka sepatu ketika berwudhu di dalam kereta. Apakah boleh saya berwudhu tanpa melepaskan sepatu dan apa yang saja yang membatalkan kebolehannya?

Waalaikumsalam…

Islam adalah agama yang peka dan pengertian. Islam tidak pernah memaksakan sebuah aturan untuk diterapkan apa adanya di segala situasi dan kondisi. Dalam kondisi dan situasi tertentu, hukum Islam bisa diperingan dan dilonggarkan. Termasuk salah satunya mengenai kebolehan untuk membasuh sepatu (al-mashu al-khuffayn) bagi mereka yang ada di perjalanan dan terasa sulit untuk berwudhu dengan melepas sepatunya.

Aturan mengenai al-mashu al-khuffayn atau mengusap sepatu sudah dijelaskan para ulama dan tertera dalam kitab-kitab fiqih. Dasar pensyariatannnya pun didasarkan pada hadis Nabi yang bisa dikatakan masyhur dan diriwayatkan oleh hampir mayoritas Mukharrij Hadis. Dalam artikel lainnya berjudul “Kebolehan Mengusap Sepatu Ketika Berwudhu Dalam Perjalanan” kami sudah menjelaskan seputar syarat, cara serta jangka waktunya. Berikutnya, kami akan menjelaskan soal hal-hal yang membatalkan kebolehan mengusap sepatu.

1. Mengalami Junub

Junub, baik karena hubungan suami-istri, atau mimpi, akan menggugurkan kebolehan mengusap sepatu. Mengapa? Karena ada kewajiban bersesuci yang lebih besar yang harus dia lakukan, yakni mandi besar. Ketika mandi besar, otomatis sepatu harus dilepas, karena mandi besar meniscayakan seluruh anggota tubuh tersiram air.

2. Melepas Sepatu

Apabila selama hari-hari dibolehkannya mengusap dua khuff, seseorang melepas sepatunya, maka kebolehan mengusap khuff dengan sendirinya menjadi gugur. Sebab syarat pelaksanan syariat ini adalah selalu dikenakannya kedua khuff tanpa dilepaskan. Jadi 24 jam dalam sehari harus tetap mengenakan. Sekali dilepas, maka batal kebolehannya.

3. Terdapat Robek atau Lubang Besar pada Sepatu

Dengan bolongnya sepatu sehingga kaki yang di dalam sepatu bisa terlihat, maka kebolehan mengusap dua khuff dengan sendirinya menjadi batal. Namun para ulama berbeda pendapat soal besar dan kecilnya lubang atau robekan. Yang menjadi ukuran di sini adalah robekan terlalu besar sehingga kaki terlihat.

4. Basahnya Kaki di Dalam Sepatu

Apabila kaki dalam sepatu terkena air hingga basah, maka kebolehan mengusap dua khuff menjadi batal dengan sendirinya. Dalam hal ini, keringnya kaki dalam khuff menjadi syarat sahnya syariat ini.

5. Jangka Waktu Habis

Yaitu satu hari satu malam buat mereka yang muqim dan tiga hari bagi mereka yang dalam keadaan safar. Bila telah habis waktunya, sesorang wajib berwudhu' dengan sempurna, yaitu dengan mencuci kaki. Namun setelah itu boleh kembali mengusap khuff seperti sebelumnya.

Itulah lima hal yang menggugurkan kebolehan mengusap sepatu dalam rangkaian wudhu…