Apakah Gaji Pegawai Bank Termasuk Riba?

Kamis, 8 November 2018 konsultasi | 2830 klik
Azkiatuttahiyyah Teks:Azkiatuttahiyyah
Faza Grafis:Faza

Saya bekerja di sebuah bank. Saya pernah mendengar bahwa transaksi di bank banyak ribanya. Apakah gaji saya termasuk riba?

Pada dasarnya gaji berbeda dengan riba. Dalam istilah fiqh, gaji disebut juga sebagai ujrah (upah). Ia diberikan kepada seseorang karena telah melakukan suatu pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Imam Sulaiman bin Muhammad Al-Bujayrami dalam kitabnya Hasyiyah al-Bujayrami ‘ala al-Minhaj mengatakan bahwa ujrah adalah nilai yang diberikan sebagai hasil dari usaha yang telah dilakukan.

Ujrah atau gaji diberikan adakalanya sebagai hasil dari kontrak kerja atau dalam bentuk ju’alah (sayembara), sekalipun keduanya memiliki perbedaan di dalamnya. Adapun bagi para karyawan bank, maka gaji diberikan berdasarkan kontrak kerja, sehingga jika mereka telah berhasil melaksanakan kerja maka mereka juga berhak mendapatkan upah atau gaji yang telah ditentukan, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

أجرك على قدر نصبك

“Upahmu sesuai kadar payahmu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hal ini tentunya berbeda dengan riba. Riba sendiri dalam fiqh berarti ziyadah yaitu kelebihan. Syekh Zakaria Al-Anshary dalam kitabnya Fathu al-Wahab menjelaskan bahwa riba terbagi menjadi tiga; Riba Fadl, yang terjadi akibat transaksi jual beli disertai kelebihan pada salah satu dari dua barang ribawi; Riba Yad, riba yang berasal dari jual beli dan terjadi akibat penundaan penerimaan; serta Riba Nasiah, yaitu riba yang terjadi akibat jual beli tempo/kredit. Selain itu ada juga riba yang berasal dari utang piutang, yang disebut Riba Qardl.

Dengan demikian gaji yang diterima oleh pegawai bank merupakan upah sebagai hasil kerja yang telah ia lakukan, bukan karena transaksi jual beli barang ribawi maupun utang piutang. Oleh karenanya gaji yang diterima bukan tergolong riba maupun tidak termasuk jenis riba. (Azkiatutahiyyah).