Adab Penanya Masalah Agama

Rabu, 16 Januari 2019 konsultasi | 150 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Assalamulaikum Wr. Wb. Admin yang baik, bagaimana adab bertanya dalam masalah agama. Misalnya, apakah pantas seorang netizen yang sebenarnya berstatus awam bertanya “mana dalilnya!” seakan menyepelekan. Bagaimana sebenarnya adab yang baik saat bertanya dalam masalah agama. Terima kasih. Wassalam.

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Terima kasih sudah bertanya. Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam salah satunya terletak pada keindahan ajaran akhlaknya. Islam mengajarkan akhlak untuk orang awam, orang alim, pelajar, pekerja, pengusaha, pejabat, suami, istri, anak, orang tua, dan lainnya. Ketika kita, sebagai orang awam ingin bertanya tentang masalah agama kepada orang yang ahli agama, ada adab-adab yang perlu diperhatikan. Demikian pula ahli agama yang akan memberikan jawaban, juga ada adab-adab dan akhlaknya.

Terkait adab seorang awam yang ingin bertanya masalah agama, hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Nawawi dalam kitabnya Adab Al-Fatwa Wal Mufti Wal Mustafti (adab berfatwa, mufti dan penanya masalah agama). Perlu digarisbawahi bahwa fatwa adalah pendapat hukum dari seorang mufti. Fatwa dan mufti adalah perkara yang memiliki aturan dan adab-adabnya tersendiri. Tidak semua penyampaian masalah agama adalah fatwa. Tidak semua orang yang ahli agama adalah mufti. Mufti adalah jabatan khusus yang diemban oleh orang-orang yang punya keahlian berfatwa. 

Terkait adab orang yang bertanya masalah agama, sedangkan dia termasuk orang awam, maka Imam An-Nawawi menyebutkan sepuluh macam adab. Berikut adalah sepuluh adab penanya masalah agama:

Pertama, setiap orang yang belum sampai tingkatan mufti maka ia tergolong muqallid. Ia wajib bertanya ketika menghadapi masalah keagamaan yang dialaminya yang ingin diketahui hukumnya. Jika tidak ditemukan di negerinya, dia wajib keluar dari negerinya sebagaimana dilakukan kaum salaf.

Kedua, muqallid wajib meneliti keahlian seorang mufti sebelum meminta fatwa. Tidak boleh sembarangan meminta fatwa kepada orang yang disebut ulama, guru agama, ustadz, atau kiai. Boleh meminta fatwa kepada orang yang dikenal sebagai mufti.

Ketiga, orang awam (muqallid) boleh memilih mazhab mana pun yang dikehendakinya.

Keempat, jika terdapat fatwa dua orang mufti, maka dia boleh mengambil yang paling berat atau yang paling ringan. Boleh pula mengambil pendapat mufti yang paling hati-hati.

Kelima, jika hanya ada satu mufti di negerinya, maka dia wajib mengikutinya.

Keenam, ketika orang awam telah bertanya, lalu mendapatkan jawaban, lalu terjadi lagi kasus serupa di kemudian hari, dia boleh menggunakan fatwa lama dan boleh pula bertanya lagi.

Ketujuh, boleh bertanya sendiri secara langsung atau mengutus orang yang terpercaya untuk memintakan fatwa.

Kedelapan, menjaga adab di hadapan mufti dengan ucapan yang penuh penghormatan kepada mufti. Tidak menunjuk-nunjuk wajah mufti, tidak mengucapkan “apa anda hafal dalilnya”, “apa pendapat panutanmu”, “Syekh fulan pernah berfatwa begini ke saya” dan lainnya. Tidak bertanya sambil berdiri atau lainnya yang dapat mengganggu suasana hati.

Kesembilan, hendaknya bertanya dengan menggunakan tulisan yang jelas, bagus dan tidak menimbulkan salah paham. Hendaknya orang awam tidak menuntut mufti untuk menyebutkan dalil atau berkata “Mengapa anda berpendapat begitu?” Jika ia ingin kemantapan hati, hendaknya dia mencarinya di majelis lain atau di majelis fatwa tersebut tetepi setelah selesai sesi khusus fatwa. Menurut Al-Sam’ani, tidak ada larangan menuntut dalil. Mufti wajib menyebutkan dalilnya jika dalilnya jelas dan tegas (qat’i). Tetapi tidak wajib menyebutkan dalilnya jika dalilnya tergolong butuh pemikiran yang mendalam sekira orang awam tidak akan mampu memahaminya. Menurut An-Nawawi, pendapat yang benar adalah yang tidak mewajibkan mufti menyebutkan dalilnya dan bahwa orang awam tidak pantas bertanya mengenainya.  

Kesepuluh, jika di sebuah negeri tidak ada seorang pun orang yang ahli dalam berfatwa dan tidak pula di negeri lain, maka tidak ada kewajiban hukum apapun bagi orang yang tertimpa masalah hukum sebagaimana kaum yang hidup sebelum datangnya syariat.

Berdasarkan keterangan di atas, bertanya “mana dalilnya” dengan nada kurang menghormati tergolong perbuatan yang kurang baik. Menurut Imam An-Nawawi, pendapat yang benar adalah orang awam tidak pantas bertanya seperti itu dan mufti tidak wajib menyebutkan dalilnya. Demikian penjelasan kami. Semoga bermanfaat.