Adab Buang Hajat Menurut Ulama


Kebanyakan orang buang hajat sesuai apa yang mereka inginkan, tanpa mengikuti tata cara yang baik. Padahal, terkadang hal itu dapat mempengaruhi kesehatan tubuh. Para ahli etika dalam sejarah Islam menjelaskan bahwa terdapat tata krama buang hajat yang baik yang hendaknya dilakukan.  

Kitab Maraqil Ubudiyyah Syarah Bidayatul Hidayah menyebutkan,

)واتكىء( أي اعتمد )في جلوسك على الرجل اليسرى( ناصباً يمناك بأن تضع اليمنى على الأرض وترفع باقيها، لأن ذلك أسهل لخروج الخارج مع راحة الأعضاء الرئيسة كالكبد والقلب، فإنها في جهة اليسار، فإن الإنسان كالجرة الملآنة فإذا أميلت سهل خروج الخارج منها، وإذا كبت معتدلة كان في خروج الخارج عسر ولأن المناسب لليمنى أن تصان عن استعمالها في هذا المحل القذر

Bertumpulah di atas kaki kiri di waktu engkau duduk sambil meluruskan kaki kananmu. Caranya engkau meletakkan kaki kanan di atas tanah dan agak sedikit mengangkat sebagiannya. Hal itu untuk  memudahkan keluarnya kotoran dengan rasa nyaman bagi beberapa anggota tubuh yang vital seperti liver dan jantung. Keduanya berada di sebelah kiri. Manusia itu seperti kendi penuh. Ketika dimiringkan, maka mudahlah keluar sesuatu darinya. Apabila ditegakkan, maka sulitlah keluarnya. Sepatutnya, anggota tubuh bagian kanan dijaga dari digunakan di tempat kotor.

وأماالقائم فيعتمد علي الرجلين معا في البول والغائط كما اعتمده الشيخ عطيّة اخذا من كلام المنهاج (ولاتبل) ولا تتغوّط (قائما) فذلك مكروه (الّا عن) أي لأجل (ضرورة) فلا كراهة ولاخلاف الأولي لأنّ النّبيّ صلّي اللّه عليه وسلّم أتي سباطة قوم فبال قائما

Apabila kencing sambil berdiri, maka bertumpulah di atas dua kaki, sebagaimana dikatakan oleh As-Syeikh Athiyyah yang menukil Al-Minhaaj. Usahakan waktu kencing maupun buang air besar tidak dengan berdiri, karena hal itu makruh, kecuali dalam keadaan darurat, maka tidak ada larangan dan tidak bertentangan dengan yang utama. Karena Nabi SAW pernah mendatangi tempat pembuangan sampah umum, lalu kencing sambil berdiri.

Mengenai hadits tersebut ada tiga pendapat sebagaimana dalam kitab Maraqil Ubudiyah:

وفي الحديث ثلاثة أوجه: أحدها أنّ رسول اللّه صلّي اللّه عليه وسلّم فعل ذلك لمرض منعه من القعود....الخ

Mengenai hadits tersebut ada tiga pendapat: Pertama, Rasulullah SAW melakukan itu karena tidak bisa duduk akibat adanya bagian tubuh yang sakit. Kedua, karena beliau berobat dengan cara itu untuk mengatasi sakit pada sulbinya sebagaimana kebiasaan orang arab yang mengobatinya dengan cara kencing sambil berdiri. Ketiga, beliau tidak bisa duduk di situ karena terdapat banyak barang najis.

واحذر الارض الصّلبة ومهب الرّيح واحترازا من الرّشاش لقومه صلّي اللّه عليه وسلّم (إنّ عامة عذاب القبرمنه)

Berhati-hatilah terhadap tanah yang keras dan tempat berhembusnya angin karena menjaga dari cipratan-cipratan, juga karena dawuhnya Rasulullah SAW “sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu dari cipratan-cipratan tersebut”

Janganlah kencing atau buang hajat di tanah yang keras atau kencing di tempat angin bertiup yang berlawanan arah sebagaimana yang dikatakan oleh Ar-Ramli. Maka janganlah menghadapnya demi menghindari percikan atau bau dari kotoran tersebut. Ibnu Hajar dan Asy-Syarbini mengatakan bahwa: “Yang diperhitungkan dalam karahah (bau yang ditimbulkan) itu adalah bertiupnya angin yang kencang pada saat itu, meskipun tidak selalu bertiup, karena boleh jadi ia bertiup setelah mulai kencing atau buang air besar sehingga terganggu olehnya.”