Khutbah Idul Fitri 2018


Khutbah Pertama

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه... اللهُ أَكبَر (7 x) لَا إلهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكبَر، اللهُ أَكبَر ولله الحَمد الله أكبر كَبِيرًا والحَمدُ لله كَثِيرًا وسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً وَأَصِيلًا، لَا إلهَ إلا الله وَحدَة صَدَقَ وَعدَهُ وأَعَز جُندَهُ وهَزَمَ الأَحزَابَ وَحَدة... لَا إله إلا الله ولَا نَعبُدُ إِلا إِياهُ مُخلِصِينَ لَهُ الدِين وَلَو كَرِهَ الكَافِرُونَ... لَا إله إِلا اللهُ وَاللهُ أَكبَر، اللهُ أَكبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اَلحَمدُ لله الذِي جَعَلَ هَذَا اليَوْمَ عِيْدًا وَسَعَادَةً لِلمُسلِمِينَ، وَخَتَمَ بِهِ شَهرُ رَمَضَان الُمبَارَك الَّذِيْ كَتَبَ فِيهِ الصِّيَامُ لِلمُؤْمِنِينَ، وَأَنْزَلَ فِيهِ القُرآنُ هُدًا لِلمُتقِينَ. أَشهَدُ أَن لَا إلهَ إِلا اللهُ وَحدَهُ لَاشَرِيكَ لَهُ، وَأَشهَدُ أَن مُحَمدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِي بَعدَه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأْصْحَابِهِ والَّذِينَ اتَبَعُوهُم إِلَى يَومِ القِيَامَة. أَمَّا بَعدُ: مَعَاشِرَ المُسلِمِينَ رَحِمَكُمُ الله، أُوْصِي نَفسِيْ وَإِيَّاكُم بِتَقْوَى الله. إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُسلِمُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القُرآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ... وَإِذَا قِيلَ لَهُم لَاتُفسِدُوا فِي الأَرضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحنُ مُصلِحُونَ، أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ المُفسِدُونَ وَلَكِنْ لَايَشعُرُونَ. وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ الرَّاحِمُونَ يَرحَمُهُمُ الرَّحمَنُ إِرْحَمُوْا مَن فِي الأَرْضِ يَرحَمُكُم مَن فِي السَّمَاءِ.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah.

Pertama-tama marilah sama-sama kita bangkitkan dan tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Tidak hanya bertakwa dalam arti terus meningkatkan ibadah pribadi kita kepada Allah, tapi juga bertakwa dalam arti terus menerus berusaha menebar kebaikan kepada sesama manusia dan alam semesta. Karena sejatinya, keimanan dan ketakwaan seseorang kepada Tuhannya, akan turut berbekas dalam tingkah laku, ucapan dan seluruh gerak tubuhnya. Kebaikan, kasih sayang, cinta dan kedamaian adalah ciri paling utama yang membuktikan keberadaan iman dan takwa dalam diri seseorang.

Semua itu tentu tidak akan bisa dicapai ketika diri kita masih dikuasai hawa nafsu. Kebaikan tidak akan bisa diwujudkan ketika diri kita masih dikekang oleh ambisi pribadi. Kasih sayang dan cinta kepada sesama tidak akan lahir ketika diri kita masih dipenuhi oleh kebencian, iri dan dengki. Kedamaian tidak akan pernah dirasakan ketika masing-masing dari diri kita masih menyimpan amarah dan hasrat untuk menjatuhkan orang lain.

Pasca Perang Badar, Nabi Muhammad ditanya oleh seorang sahabat, “apakah ada perang yang lebih besar dibanding Perang Badar wahai Rasulallah?”, Nabi menjawab, “Ada. Yaitu perang melawan hawa nafsu”. Bulan Ramadhan... bulan ampunan dan kasih sayang Allah... sejatinya adalah medan pertempuran tempat kita bertarung melawan diri kita sendiri. Dengan berpuasa, kita dilatih untuk mengekang syahwat dan melawan pengaruh setan. Dengan berpuasa dan banyak meningkatkan ibadah, kita dilatih untuk sedikit demi sedikit mengikis keburukan yang bercokol dalam diri kita, sekaligus sedikit demi sedikit menumbuhkan benih-benih kebaikan dan kebijaksanaan. Maka Ramadhan, pada hakikatnya bukan hanya ajang untuk meningkatkan ibadah pribadi, tapi juga menjadi media latihan untuk mempertajam kepekaan sosial kita terhadap masalah orang lain dan alam semesta.

اللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ، لَا إلهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكبَرُ، اللهُ أَكبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah...

Iman dan takwa tidak hanya menjadikan seseorang rajin salat dan berpuasa, tapi juga menggerakkan pemiliknya untuk bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan, selalu menyuguhkan senyum dan tutur salam kepada setiap orang yang ditemui dan menjaga alam dari segala bentuk pengerusakan.

Sekali lagi, kalau kita bertanya, apa sebenarnya buah dari iman dan takwa? Jawabannya adalah tumbuhnya rasa cinta kasih dan sayang terhadap orang lain, baik yang muslim maupun yang nun muslim, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sebaliknya, jika Islam dan Iman yang kita miliki melahirkan teror dan kebencian, maka sejatinya ia bukanlah iman, tapi fatamorgana bikinan setan.

Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW sering kali bersabda mengenai iman sekaligus menyebutkan ciri-cirinya. Beliau sering menggunakan kata “la yu’minu” atau “man kana yu’minu” serta kalimat-kalimat lain yang berkaitan dengan keimanan.

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُم حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفسِهِ

Seseorang tidak dikatakan beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

Nabi juga pernah bersabda, “man kana yu’minu billahi bal yaumil akhir, fa-l-yukrim jarahu” (barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka muliakanlah tetangganya). Di kesempatan lain, Nabi juga bersabda, “man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khairan aw liyashmut” (barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka berkata-katalah yang baik atau diam). Tiga hadis yang disampaikan oleh Nabi ini menunjukkan kepada kita bahwa buah dari iman adalah lahirnya kehendak untuk berbuat baik, menebarkan cinta, kasih sayang, serta sikap menghargai orang lain.

Memuliakan tetangga, adalah ciri orang beriman dan bertakwa. Karena tetangga adalah orang yang paling dekat dengan rumah kita. Kalau ada masalah dan musibah, yang pertama kali tahu dan bisa membantu adalah tetangga. Nabi juga bersabda, ciri orang yang beriman adalah kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berfaidah, memberikan kesejukan kepada orang yang mendengarnya dan tidak mengandung umpatan ataupun caci maki. Jika tidak perlu, dia akan diam. Kata-kata adalah media komunikasi sosial. Kalau kata-kata kita baik dan lembut, orang lain akan nyaman dan bahagia. Sebaliknya, kalau kata-kata kita kurang baik, orang lain mungkin bisa tersakiti. Menjaga kata-kata adalah menjaga keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas.

اللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ اللهُ أَكبَرُ، لَا إلهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكبَرُ، اللهُ أَكبَر وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Sidang Jamaah Shalat Idul Fitri yang berbahagia...

Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Mereka yang disebut sebagai hamba Allah yang sejati adalah “orang yang berjalan dengan rendah hati dan merespon dengan salam ketika ada orang bodoh yang mengajaknya bicara.”

Rendah hati, tidak sombong dan menundukkan dirinya ketika berjalan adalah karakter seseorang yang beriman. Tidak ada yang perlu dibanggakan dan disombongkan. Diam, merespon perkataan orang yang bodoh hanya dengan senyum dan salam, juga merupakan ciri seseorang yang beriman. Keduanya adalah simbol kebijaksanaan dan sikap yang akan melahirkan dampak berupa terciptanya suasana yang kondusif dan harmonis.

Diam untuk meminimalisir terjadinya konflik dan pertikaian dan tidak sombong karena ingin menjaga perasaan dan kecemburuan orang lain adalah buah dari iman. Memperbaiki jalanan umum yang rusak, membuang batu dari tengah jalan dan membuang sampah di tempatnya adalah buah dari iman. Menanam pohon untuk mempersejuk udara, menghemat air dan tidak menebang pohon sembarangan juga merupakan buah dari iman.

Sebaliknya, umpatan, caci maki, kebencian, amarah dan teror bukanlah buah dari iman. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, mengotori sungai, menebang pohon tanpa aturan dan pertimbangan juga bukan buah dari iman. Menipu ketika berdagang, mendzalimi orang lain demi kepentingan pribadi dan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri juga bukan dampak dari keimanan.

Dari ayat al-Qur’an dan hadis-hadis sebelumnya, kita tahu bahwa tidak teror, kekerasan dan ujaran kebencian bukanlah nilai ajaran Islam. Seluruh inti ajaran keislaman bertujuan untuk merawat, melestarikan dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الأيآت وَالذَّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah kedua

اللهُ أَكْبَرُ (9 x) لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلَا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ... لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ... لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ الحَمْدُ لِلَّهِ أَفَاضَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا وَأَعْظَمَ. وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَسْبَغَ نِعَمَهُ عَلَيْنَا ظَاهِرَهَا وَبَاطِنَهَا وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن.أَمَّا بَعْدُ: أّيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْ تُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ الْكِتَابِ الْحَكِيْمِ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اسْتَجِيْبُوا لِلَّهِ وَلِرَسُوْلِهِ إِذَا دَعَاكُمْ لَمَّا يُحْيِيْكُمْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُخْشَرُوْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ, وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ, كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ إِبْرَاهِيْمَ فِىْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِى الْحَاجَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحِ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا. وَبَارِكْ لَنَا فِىْ عُلُوْمِنَا وَأَعْمَالِنَا. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِيْنَ الصَّابِرِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْعَامِلِيْنَ. رَبَّناَ أَتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىْ الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّناَ لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِىْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ