Tingkatan Bersesuci Menurut Imam al-Ghazali

Senin, 25 Februari 2019 hikmah 1033 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Pada awal masa Islam, bersuci dari kotoran dan najis merupakan suatu kewajiban lahir dan batin kaum muslim itu sendiri. Namun Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sesungguhnya yang lebih penting dari itu adalah membersihkan diri dari perbuatan tercela.

Bagi Imam al-Ghazali, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, bersuci memiliki empat tingkatan dan empat lapisan:

  1. Membersihkan anggota lahir dari kotoran dan najis
  2. Membersihkan anggota badan dari kesalahan dan dosa
  3. Membersihkan hati dari akhlak tercela
  4. Membersihkan niat ibadah kepada selain Allah Swt.

Dengan bersih jiwa dan raga, seorang muslim layak mendapatkan cinta Allah Swt. Allah Swt berfirman,“Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS. At-Taubah: 108). Dengan mendapatkan cinta-Nya, seorang hamba akan mendapati kebersihan dan kebeningan jiwa, kepuasan batin dan kebahagiaan hati.

Wudlu juga dapat mengembalikan kebersihan jiwa dari segala dosa dan maksiat yag telah dilakukannya. Abdullah Al-Shanabanhi menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “apabila seorang hamba mukmin berwudhu, ketika dia menghirup air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya, maka keluar pula kesalahan-kesalahan yang ada dalam hidungnya. Ketika dia membasuh muka, keluarlah kesalahan0kesalahan yang ada di mukanya hingga kesalahan pada ujung kedua matanya. Ketika dia membasuh tangannya, keluarlah segala kesalahan yang ada pada tangannya hingga yang berada di bawah kukunya. Ketika mengusap kepala, keluarlah segala kesalahan yang ada di kepalanya hingga mengusap kepala, keluarlah segala kesalahan yang ada di kepalanya hingga di telinganya. Ketika membasuh kaki, keluarlah segala kesalahan yang ada di kakinya hingga yang berada di bawah kukunya. Lalu Nabi Saw melanjutkan sabdanya, kemudian dia (yang berwudlu) berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat sunnah syukrul wudlu.” (HR. Imam Malik, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Bersuci (thaharah) merupakan tanda keimanan yang hasilnya akan diketahui kaum muslimin pada hari kiamat. Jika bukan karena besuci, keadaan tubuh kaum mukminin dan kaum kafir pada hari kiamat akan sama. Akan tetapi, mandi, wudlu dan bersuci menjadikan wajah kaum mukminin pada hari kiamat menjadi bercahaya. Kedua tangan dan kakinya memancarkan sinar sebagai tanda orang-orang yang shalih.

Ada kondisi yang menempatkan pengertian bersuci bukan dengan air, melainkan dengan amal perbuatan, bukan dengan mandi, melainan dengan pengorbanan. Kondisi ini adalah kondisi untuk para syuhada yang mempersembahkan jiwanya dengan ikhlas hanya karena Allah, mengharap kesyahidannya, haus akan rahmat dan keridhaan-Nya. Sesungguhnya, ketika darah seorang syuhada mengalir, secara dhahir darah tersebut adalah najis. Akan tetapi, semua itu menjadi kecil ketika dipersembahkan kepada Tuhannya saat itu adalah hakikat rohnya yang bersih.

Oleh karena itu, orang yang mati syahid tidak perlu dimandikan. Mayatnya cukup dikafani sesuai kondisi keika ia gugur menghadap Tuhannya dengan warna darah dan bau harum minyak kesturi.

Kebanyakan, hukum taharah di dsarkan pada penerimaan terhadap perintah Allah Swt tanpa ada keraguan sedikitpun. Jika hikmah diballik thaharah itu tidak bisa dipahami oleh akal, ia tetap harus menerimanya dengan hati bahwa semua itu benar dan baik.

Sebagai contoh, bagi orang yang tidak mendapatkan air untuk bersuci, hendaklah ia melakukan tayamum. Tayamum adalah bagian dari tata cara bersuci, meskipun pada kenyataannya harus dilakukan dengan cara mengusapkan debu (yang secara dhahir kotor). Dalam tata caranyapun, tayamum tidak mensyaratkan agar debu meliputi seluruh badan layaknya orang yang mandi. Tayamum hanya mensyaratkan bahwa debu cukup terusap pada sebaian anggota wudlu.

Sifat tayamum adalah ibadah yang mengharuskan setiap muslim menerima setiapperintah Allah Swt. Sebagai ibadah, tayamum juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan kelapangan dada sehingga seorang muslim akan jauh dari bisikan syetan yang menganggap praktik ibadah itu harus sesuai dengan akal dan hati mereka.

Dengan memandang kepada kekuasaan Allah Swt, ketelitian setiap perbuatan-Nya, ciptaan-Nya yang begitu indah, serta memandang kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan kemukjizatannya, maka dapat dipahami bahwa setiap mukmin datang berdasarkan teks yang shahih, yang wajib kita yakini dan mengamalkannya. (Ida Mahmudah)