Patah Hati di Tanah Suci: Cerita Dua Buah Kerinduan

Rabu, 28 November 2018 hikmah 180 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Judul                :     Patah Hati di Tanah Suci
Penulis            :     Tasaro GK
Penerbit           :     PT BentangPustaka
Cetakan           :     Pertama, Juli 2018
Tebal               :     vii + 332 halaman

Bulan Rabiul Awal disambut dengan suka cita oleh mayoritas umat Islam. Peringatan kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW merupakan faktor utama mengapa bulan ini begitu istimewa. Pada saat bersamaan, kita baru saja memperingati Hari Ayah. Ya. Hari Ayah. Figur penting dalam kehidupan kita.

Buku Patah Hati di Tanah Suci karya Tasaro GK ini menceritakan dilema batin seorang anak laki-laki yang telah kehilangan ayah. Sebelum kehilangan, sang anak hampir tidak peduli pada sang ayah. Hubungan mereka jauh, dingin, dan cenderung tidak bersahabat. Sang anak baru sadar setelah ayahnya wafat. Betapa dia merasa sangat kehilangan orang yang sejatinya telah berjasa besar untuk dirinya. Perasaan kehilangan itu telah membuatnya memutar memori kenangan hidupnya bersama sang ayah. Perasaan kehilangan serta penyesalan itu semakin kuat ketika sang anak dapat melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci. Kenangan bersama ayahnya kembali membayanginya dengan sangat jelas. Sang anak seakan ingin mengajak sang ayah membersamainya ke Tanah Suci.   

Sementara aku akan mengajak­mu dalam perjalanan yang tak akan aku lupakan hingga napas terakhir nanti. Se­waktu berbagai keajaiban mengantarku ke dua Kota Suci. Aku ingin Bapak mera­sa­kannya, mengalaminya, menikmatinya. Ber­tawaflah bersamaku, Bapak (hal. 330).

Tanah Suci, suatu tempat yang paling ingin didatangi oleh bapaknya sepanjang hidupnya, tetapi tidak pernah kesampaian bahkan hingga akhir hayatnya. Ketika menuliskan surat-surat panjang itulah Tasaro kembali pada kenangan-kenangan yang telah ia lewatkan. Ia lalu sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya bapaknya selalu membersamainya pada berbagai peristiwa, meski tanpa kata-kata. Dan saat menjelang akhir hayat bapaknya, Tasaro berbisik lirih, “Jika Bapak hendak pergi, jangan ragu. Kami telah meng­ikhlaskanmu. Mengunci segala yang baik tentangmu dan melupakan apa yang dianggap buruk darimu. Lalu, kami akan mengirimi doa yang tak terputus untuk­mu,” (hal. 2).

Kisah tentang tanah suci yang mengharu biru sudah banyak ditulis. Buku Patah Hati di Tanah Suci karya Tasa­ro GK ini sedikit berbeda. Karena perjalanannya disertai ingatan tentang seorang anak kepada ayah. Jika penyair Kedung Darma Romansya menuliskan puisi berjudul “Surat Bapak kepada Anaknya”, Tasaro GK, menuliskan sebaliknya, tentang “Surat Anak kepada Bapaknya”. Sang anak yang justru menemukan kede­katan dengan bapaknya ketika sang bapak sudah wafat. Pada pusara bapaknya, Tasaro memutar ulang memorinya, dan ia mene­mukan betapa selama ini hubu­ngan­nya dengan ba­pak­nya terbilang long­gar. Tak banyak percakapan yang mereka lewatkan. “Akan tetapi, aku tahu, bahkan jika tidak ada orang bercerita kepadaku. Aku membaca rumah kita. Mem­baca keseharian ke­luar­ga kita. Menyadari, aku berdiri di atas bara api. Segala hal yang tak bisa kuterima dengan kepala kecilku. Sebab, seoarang anak tak membuuhkan alasan mengapa dunianya berantakan. Mereka hanya menginginkan semua baik-baik saja… Aku tumbuh dengan diam. Menelan semua ketidak­sempurnaan masa kanak-kanak sembari membangun pertahanan diriku sendiri. Sebuah dinding yang memisahkan kita kemudian,” (halaman 9).

Di tengah kenangan tentang sosok ayah yang senantiasa muncul selama perjalanan umrahnya, sang anak merasa sedang menyusuri lorong-lorong sejarah perjalanan hidup Rasulullah SAW. sejak di kota Mekah hingga kota Madinah.

“Aku tidak mencintai Nabi kita dengan serta merta. Masa pertumbuhanku bahkan hampir-hampir tidak mengenal­nya dengan benar selain sebatas beberapa hafalan. Sebatas nama ibu, ayah, kakek, paman, yang memang aku butuhkan untuk menjawab pertanyaan-per­tanyaan sewak­tu ujian,” (ha­laman 19).

Dalam perjalanan suci ini, sang anak merenungkan perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan ajaran Islam. Namun, sang anak merasa bahwa belakangan ini ada sejumlah aksi kekerasan mengerikan yang menodai kesucian agama yang diperjuangkan Rasulullah SAW tersebut. Aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama Nabi Agung Muhammad SAW itu sesungguhnya tidak mencerminkan ajaran beliau. Mereka yang seolah-olah sedang membela agama Rasulullah SAW tetapi sejatinya merusaknya.

“Ada rasa tidak terima. Tidak bahagia, ingin ber­teriak. Ingin menjelaskan kepa­da dunia bahwa satu miliar manusia memilih Islam dengan alasan yang bisa diper­tanggung jawab­kan,” (halaman 22). Rasa tak diterima inilah semakin menjadi rindu yang membuncah kepada Rasulullah SAW.

Tasaro sendiri sebelum menulis buku ini telah menulis novel seri Muhammad (Muhammad I: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad II: Para Pengeja Hu­jan, Muhammad III: Sang Pewaris Hujan, Muhammad IV: Generasi Peng­gem­gam Hujan). Maka dapatlah pula dikatakan buku ini merupakan catatan napak tilas novel tetralogi Muhammad saw.

Buku karya Tasaro GK ini telah menggabungkan dua buah kerinduan; kerinduan kepada Ayah dan kerinduan kepada Rasulullah. Sangat pas untuk mengingatkan kita kepada peran penting ayah dan Rasulullah. Keduanya adalah pejuang-pejuang hebat yang menghabiskan umurnya untuk kebaikan generasi umat manusia.  (M. KHoirul Huda)