Lima Keistimewaan Menjadi Penghafal Al-Quran

Minggu, 15 Desember 2019 hikmah 282 klik
Faza Grafis:Faza

Al-Qur’an merupakan masdar atau sinonim dari kata qiro’ah yang berarti bacaan, sebagaimana tersebut dalam surat al-Qiyamah ayat 17-18 :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ - فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Pendapat lain mengenai pengertian al-Qur’an ini datang dari Manna’ al-Qathan yang merumuskan pengertian al-Qur’an sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bernilai ibadah dalam membacanya.

R. Wahidi & M. Syukron Maksum dalam Beli Surga dengan Al-Qur’an, (Media Pressindo: Yogyakarta, 2013), 50-53 menjelaskan lima macam keistimewaan menjadi penghafal Al Quran.

Didahulukan Menjadi Imam Shalat

Sebagaimana diriwayatkan oleh ibnu Mas’ud al-Ansori, bahwa Nabi SAW. Bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ اَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang paling berhak memimpin kamu adalah yang paling bagus bacaan al-Qur’annya diantara kamu.” (H.R.Muslim)

Di dalam shalat, seorang penghafal al-Qur’an mempunyai peran penting karena ia yang lebih berhak menjadi imam diantara mereka. Seorang imam harus fasih dalam melafalkan ayat-ayatnya, sehingga nantinya memberikan pengaruh bagi imam itu sendiri dan makmumnya. Ketika imam membaca ayat-ayat tentang siksa ia akan menangis karena ia menegtahui ayat yang dibaca. Ketika membaca ayat sajdah, ia akan melakukan sujud. Hal ini tidak mungkin dilakukan bagi orang yang tidak mengetahui ayat-ayat sajdah. Disini bukan berarti orang yang tidak hafal al-Qur’an tidak boleh menjadi imam shalat. Namun, mereka ahli al-Qur’an lah yang lebih utama atas mereka.

Kedudukan Penghafal al-Qur’an Berada Sesuai Akhir Ayat yang Dibaca

Nabi SAW. bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada pemilik (penghafal-penghafal) al-Qur’an akan diperintahkan bacalah dan bangkitlah! Bacalah sebagaimana kamu membaca di dunia! Maka sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Ahmad)

Menurut Albani, yang dimasud ‘membaca’ di sini adalah menghafal al-Qur’an dan yang dimaksud dengan shahib al-Qur’an adalah orang yang menghafal al-Qur’an disertai pemahaman yang baik tentang al-Qur’an.

Al-Qur’an Memberi Syafa’at bagi Pemiliknya

Dari Abi Umamah al-Bahily ra. Ia mengatakan pernah mendengar Nabi bersabda :

اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه اقرءوا الزهراوين البقرة وسورة آل عمران فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان أو كأنهما غيايتان أو كأنهما فرقان من طير صواف تحاجان عن أصحابهما اقرءوا سورة البقرة فإن أخذها بركة وتركها حسرة ولا تستطيعها البطلة قال معاوية بلغني أن البطلة السحرة. رواه مسلم (804) و البخاري معلقا

“Bacalah al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari qiyamat nanti sebagai pemberi syafa’at kepada pemiliknya, bacalah az-Zahrawain (dua surat cahaya) yakni surat al-baqarah dan ali-imran karena keduanya datang pada hari qiyamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membantangkan sayapnya (bersambung satu dengan yang lainnya), keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca kedua surat tersebut. Bacalah pula surat al-baqarah. Mengambil surat tersebut adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya akan mendapat penyesalan. Para tukang sihir tidak mungkin menghafalnya.” (HR.Muslim)

Hadis di atas memerintahkan kita untuk membaca al-Qur’an, karena dengan membaca al-Qur’an maka kelak pada hari kiamat akan menjadi penolong bagi pembacanya. Hadis ini juga menerangkan keutaman bagi orang yang membaca atau menghafalkan al-Qur’an surat al-Baqarah dan ali-Imran. Kedua surat ini akan menjadi pembela atau hujjah bagi pembaca atau penghafalnya.

Satu Hal Yang Manusia Boleh Hasud Kepadanya

Dari Ibnu Umar ra. Nabi SAW. Bersabda, “Tidak diperbolehkan hasud kecuali pada dua hal: seseorang yang diberi Allah al-Qur’an, dan menyibukkan diri siang dan malam dan seseorang yang diberi harta, kemudian dari harta itu ia infakkan pada siang dan malam hari.”

Pengertian hasud secara umum adalah sikap seseorang yang mengharapkan agar nikmat yang diterima oleh orang lain hilang padanya. Dan hukum orang yang melakukan hasud adalah Haram. Sedangkan hasud yang dimaksud hadis diatas adalah ghibah, yakni seseorang yang menginginkan untuk memperoleh kebaikan seperti apa yang diperoleh orang lain, tanpa berkeinginan nikmat yang diterima orang lain itu hilang darinya. Hasud yang seperti ini diperbolehkan dalam agama islam.

Ibarat Rumah yang IndahDari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW. Bersabda, “Sesungguhnya seseorang yang didalam jiwanya tidak ada sedikit pun dari al-Qur’an, ibarat sebuah rumah yang rusak”

Jiwa yang kosong akan mudah dirasuki oleh syaitan. Jiwa yang selalu di isi dengan kaliat-kalimat penyejuk berupa ayat-ayat  al-Qur’an agar hati selalu mengingatnya dan Allah pun memberikan petunjuknya, sehingga hati menjadi tenang dan jernih.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد : ٢٨)

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.ar-Ra’du :28)

Demikian penjelasan tentang keistimewaan para penghafal Al Quran. SEmoga bermanfaat. (Ulfa Nimah)