Konsep Cinta Tanah Air Menurut Kitab Al Tahliyah Wa Targhib

Kamis, 12 Desember 2019 hikmah 143 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Sayyid Muhammad, pengarang kitab Tahliyah, mengatakan bahwa tanah air adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut tempat di mana kita lahir, tumbuh dan mengambil segala manfaat yang ada di dalamnya.

Konteks kebangsaan yang ingin disampaikan oleh Sayyid Muhammad dalam kitab Tahliyah adalah sebuah konsep yang universal dan memuat segala hal yang berhubungan dengan konteks kebangsaan itu sendiri, baik berupa sikap terhadap bangsa dan negara maupun etika dalam berbangsa dan bernegara.

Konsep kebangsaan ditentang oleh kaum ekstremis. Mereka mencoba membaca isu kebangsaan berdasar faham yang mereka anut. Sebut saja pendirian sebuah negara yang berlandaskan Islam (khilafah) serta penegakan hukum syari’at di seluruh dunia. Hal ini menurut Zuly Qodir merupakan implikasi globalisasi yang melanda dunia (Radikalisme, hal 58). Kekecewaan atas ketimpangan yang terjadi di negara modern menjadi alasan bagi penganut faham radikalisme  untuk melakukan protes sosial terhadap demokrasi dan negara bangsa yang selama ini menjadi bangunan dasar sistem pemerintahan. Sistem ini dianggap gagal dalam melakukan perannya.

Cinta tanah air, seperti yang telah dipaparkan dalam keterangan di atas, juga dibahas dalam beberapa literature klasik (baca: kitab kuning), Imam Taqiyuddin yang mengutip pendapat al-Ghazali: keberadaan syarat-syarat (yang seharusnya ada bagi seorang pemimpin) secara utuh dan komprehensif adalah sulit bagi umat islam pada masa kita sekarang ini. Karena sudah tidak ada mujtahid independen (mustaqil). Dengan demikian, rakyat harus merealisasikan dan mematuhi semua keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh penguasa, walaupun bodoh atau fasik (asal adil) agar kepentingan dan kemaslahatan umat islam terpenuhi dan tidak disia-siakan. (Kifayatul Akhyar, hal 258)

Sejalan seperti apa yang disampaikan oleh Imam Taqiyuddin, Sayyid ‘Abdurrahman bin Husein bin ‘Umar Ba’alawy juga berpendapat bahwa: setiap tempat atau daerah yang pernah dihuni oleh ummat islam dengan nyaman dan damai serta dapat mencegah dari gangguan non-muslim (kafir harbi) disatu masa dimana hukum-hukum dan keadilan dapat ditegakkan dan dilaksanakan walau pemerintahannya fasik dan tidak paham, tetaplah harus patuh demi terjaganya kemaslahatan ummat/bangsa. (Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 254)

Baca Juga: Mau iPhone 11? Shalawatin Aja!

Cinta tanah air diposisikan sebagai hal yang urgent, sumber stabilitas serta garansi bagi kelestarian agama dan kemaslahatan pemeluknya. Bukankah esensi dari syari’at (maqosidu syari’ah) itu sendiri bisa berjalan dengan baik dengan ditegakkannya sebuah keadilan yang memuat seluruh kepentingan ummat, memihak kepada rakyat, tanpa memandang apakah berlandaskan pada suatu agama (secara menyeluruh) tertentu atau tidak.

Cinta tanah air adalah sebuah moral yang harus dimiliki oleh segenap elemen bangsa, cinta tanah air memberikan kontribusi dalam upaya meredam radikalisme. Sebagai moral yang terpuji cinta tanah air memiliki makna dan ruang yang berbeda, dengan artian, wujud cinta pada tanah air di implementasikan dengan konteks yang ada.

Baca Juga: Inilah Makna Cinta Menurut Para Ulama

Dalam perspektif al-Qur’an, Islam adalah sebuah agama yang mengharamkan setiap perbuatan yang merusak, membinasakan, melukai dan membunuh tanpa alasan yang benar. Bahkan dalam peperangan sekalipun, prinsip-prinsip moral, akhlaq, dan etika harus dijadikan pedoman dan acuan. Maka tidak disanksikan lagi bahwa terorisme adalah perbuatan kurang baik akhlaknya yang wajib dicegah dan diberi kajian pendidikan akhlak, siapapun yang melakukan; perorangan, kelompok ataupun negara. (Ahmad Syafii Maarif, Agama, Terorisme, dan Peran Agama. Hal: 247)

Oleh karena itu, Islam dalam bingkai kemanusiaan adalah perwujudan dari cinta tanah air yang memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan. Bentuk konkrit dan nyata dari cinta tanah air menurut penulis adalah dengan sebuah pengetahuan dan pengabdian, yang mana dengan keduanya realisasi akan konsep cinta tanah air  bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. (At-Tahliyah, hal: 28) (Idah Mahmudah)

Baca Juga: Iman Itu Buahnya Kasih Sayang, Bukan Teror dan Kebencian!

Subcribe Channel YouTube Harakah Islamiyah