Keutamaan Shaum Dahr, Puasa Tahunan


Pada umumnya, masyarakat Muslim yang awam hanya mengenal puasa sunnah pada hari-hari tertentu. Senin-kamis, puasa dawud, puasa asyura’, tasu’a, tarwiyah dan lainnya. Tetapi jarang yang tahu bahwa ternyata ada juga anjuran puasa setiap hari. Puasa tiap hari berturut-turut dikenal dengan istilah shaumud dahr atau shaumul abad.

Terdapat dua model puasa tahunan ini. Pertama, puasa setiap hari termasuk pada hari-hari dilarang puasa seperti saat Idul Fitri, Idul Adha, dan tiga Hari Tasyriq. Model ini tidak boleh.

Kedua, puasa tiap hari berturut-turut kecuali pada hari-hari yang dilarang berpuasa. Hal ini diperbolehkan. Bahkan dianjurkan. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang nilai keutamaannya apakah lebih utama puasa tiap hari berturut-turut atau puasa dawud dimana satu hari berpuasa satu kemudian tidak berpuasa.

Anjuran berpuasa dahr disertai syarat, yaitu selama puasa setiap hari itu tidak menyebabkan terbengkalainya kewajiban dan tidak pula mendatangkan bahaya pada diri pelakunya.

Dasar anjurannya adalah sebuah hadis riwayat Imam Al-Baihaqi,

عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " إن في الجنة غرفة يرى ظاهرها من باطنها، وباطنها من ظاهرها، أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, di surga terdapat ruangan yang bagian luarnya bisa dilihat dari dalam, dan bagian dalam bisa dilihat dari luar. Allah menyiapkannya untuk orang yang mau melembutkan pembicaraan, berbagi makanan, berturut-turut puasa, dan shalat di malam hari sedang manusia masih tertidur. (HR. Al-Baihaqi).

Para ulama menjelaskan bahwa sanad hadis ini adalah hasan.  Para sahabat mengamalkan puasa dahr di antaranya adalah Sayyidah Aisyah, Umar bin Al-Khatthab, Abdullah bin Umar, Abu Thalhah Al-Anshari, Abu Umamah dan istrinya, dan lainnya. Dari golongan tabiin yang diriwayatkan tekun melakukan puasa ini adalah Sa’id bin Musayyib, Abu Amr bin Hammas, Sa’id bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf Al-Tabi’I, dan Aswad bin Yazid.

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan,

عن عروة أن عائشة رضي الله عنها: كانت تصوم الدهر في السفر والحضر. رواه البيهقي

Dari Urwah bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha berpuasa tahunan, baik ketika bepergian maupun ketika di rumah. (HR. Al-Baihaqi)

Imam An-Nawawi mengatakan, hadis ini isnadnya shahih.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan,

وعن أنس قال: كان أبو طلحة لا يصوم على عهد النبي صلى الله عليه وسلم من أجل الغزو، فلما قبض النبي صلى الله عليه وسلم لم أره مفطرًا إلا يوم الفطر أو الأضحى. رواه البخاري.

Dari Anas yang berkata, “Abu Thalhah tidak pernah berpuasa Sunnah pada masa hidupnya Nabi SAW. karena mengikuti peperangan. Ketika Rasulullah SAW wafat, saya belum pernah melihatnya berbuka kecuali hari Idul Fitri atau Idul Adha (HR. Al-Bukhari).

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah,

أن حمزة الأسلمي رضي الله عنه، سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إني رجل أسرد الصوم، أفأصوم في السفر؟ فقال:" صم إن شئت وأفطر إن شئت. "

Bahwa Hamzah Al-Aslami radhiyallu ‘anhu bertanya kepada Nabi SAW. dia berkata, “Rasulullah, saya adalah lelaki yang kuat berpuasa setiap hari. Apakah saya boleh berpuasa sunnah ketika dalam perjalanan?” Rasulullah SAW berkata, “Berpuasalah kalau mau, dan berbukalah kalau mau.” (HR. Muslim).

Demikian adalah penjelasan singkat tentang puasa dahr. Puasa yang jarang diketahui oleh masyarakat Muslim. Semoga kita menjadi salah satu orang yang diberi anugerah dapat mengamalkan anjuran ini. Wallahu a’lam. (Khoirul Huda)