Keutamaan Akal Manusia dalam Islam

Selasa, 13 November 2018 hikmah 431 klik
Misbahuddin LA Teks:Misbahuddin LA
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Pada dasaranya  persoalan tentang akal manusia sudah tidak perlu lagi dibahas karena akal manusia adalah anugerah yang paling tinggi yang Allah karuniakan kepada manusia. Untuk memperjelas kedudukan akal dalam Islam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menuangkannya dalam sub bab khusus dalam Ihya ‘Ulumiddin yang berjudul fi al-‘aql syarafihi wa haqiqatihi wa aqsamihi; Akal, kemuliaan, hakikat dan keutamaannya. Ada beberapa poin yang ingin disampaikan oleh al-Ghazali dalam hal ini:

1. Akal adalah sumber pengetahuan, poros dan asas pengetahuan.

Pengetahuan menurut al-Ghazali ibarat buah yang keluar dari pohon atau ibarat sinar yang muncul dari matahari. Baik pohon dan matahari adalah perumpamaan bagi akal manusia. Ketika Islam justru mengagungkan seorang muslim yang berpegetahuan, maka sudah pasti akal manusia menjadi bagian vital yang juga perlu diistimewakan. Pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh al-Ghazali terkait hal ini adalah:

وكيف لايشرف ما هو وسيلة السعادة في الدنيا وفي الآخرة؟

“Bagaimana mungkin akal manusia tidak dimuliakan ketika itu adalah media untuk menggapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat?

2. Akal manusia adalah anugerah yang membedakan antara manusia dengan binatang. Sekuat-kuatnya binatang ia akan minder dengan manusia dengan akal lihai mereka. Itulah mengapa tepat kiranya sebuah riwayat mengatakan,

الشيخ في قومه كالنبي في أمته

Seorang syeikh dalam suatu kamu sebagaimana seorang nabi dalam umatnya.” (Riwayat ini menurut al-‘Iraqi dikeluarkan oleh Ibn Hibban dalam Dhuafa’-nya yang bersumber dari Ibn ‘Amr).

Al-Ghazali menganggap bahwa seorang syeikh mengapa mereka dimuliakan dalam suatu kaum bukan karena harta dan tahta mereka, melainkan karena kebijaksaannya dan keluasan ilmunya. Dan tidak mungkin orang memiliki kebijaksanaan dan keluasan ilmu ketika ia tidak menggunakan akalnya.

3. Dalam banyak keterangan akal manusia diibaratkan sebagai cahaya. Hal ini sebagaimana banyak ayat Alquran yang dikutip oleh al-Ghazali di antaranya:

يخرجهم من الظلمات إلى النور

“Kami mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (QS:  al-Baqarah, 257)

Kegelapan dan cahaya dalam ayat di atas ibarat kebodohan dan pengetahuan. Di sisi lain pengetahuan sangat identik dengan akal manusia, itulah mengapa al-Ghazali menyebut bahwa akal manusia ibarat cahaya.

4. Keutamaan seseorang dengan orang yang lainnya diukur dengan kemampuan akal mereka. Sebagaimana diriwayatkan dari Al-Baihaqi dan al-Hakim al-Tirmidzi, sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، بِأَيِّ شَيْءٍ يَتَفَاضَلُ النَّاسُ فِي الدُّنْيَا ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بالعقل ، قلت : ففي الآخرة ؟ قال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بِالْعَقْلِ ، قَالَتْ : قُلْتُ : إِنَّمَا يُجْزَوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَهَلْ عَمِلُوا إِلَّا بِقَدْرِ مَا أَعْطَاهُمُ اللَّهُ تَعَالَى مِنَ الْعَقْلِ ، فبقدر مَا أُعْطُوا مِنَ الْعَقْلِ كَانَتْ أَعْمَالُهُمْ ، وَبِقَدْرِ مَا عَمِلُوا يُجْزَوْنَ

Dari ‘Aisyah RA, “Wahai Rasulullah dengan apa manusia diunggulkan antara satu dengan yang lainnya ketika di dunia?” “Dengan akal,” jawab Rasul Saw. Kemudian ‘Aisyah kembali bertanya: “Dan di akhirat?” “Dengan akal,” jawab Rasul Saw kembali. “Bukankah mereka akan dibalas sesuai dengan akal mereka?” Tanya ‘Aisyah ragu. Kemudian Rasul meyakinkannya dan mengatakan: “Dan bukankah manusia beramal sesuai dengan kemampuan akal mereka yang dikaruniai oleh Allah kepada mereka? pada tingkat mana akal mereka di sana perbuatan mereka berada, dan dari sanalah mereka dibalas.” (HR Al-Hakim Al-Tirmidzi).

Inilah beberapa keutamaan akal manusia sebagai anugerah yang diterima oleh manusia yang harus disyukuri. Bagaimana mungkin seseorang menolak akal mereka ketika banyak ilmu-ilmu agama yang sampai saat ini diterima baik oleh manusia justru lahir dari akal manusia? pada kenyataannya banyak sekali riwayat baik itu Alquran maupun hadis yang memuliakan akal manusia, sayangnya pada kesempatan kali ini penulis hanya ingin mengemukakan satu versi dari kemuliaan akal manusia perspektif al-Ghazali. Semoga bermanfaat.   (Misbahuddin)