Enam Sikap Buah Puasa Ramadan


Tujuan puasa yang paling mendasar adalah terbentuknya pribadi yang bertakwa dengan melaksakan perintah dan meninggalkan larangan penciptanya. Sebagaimana dengan jelas disebutkan dalam al-Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة: 183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa merupakan sarana yang efektif dalam menanamkan kebiasaan yang baik dan menghilangkan kebiasan buruk. Bahkan semua syariat yang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya bermuara pada penyempurnaan perilaku yang baik. Sebagaimana dasar diutusnya Rasulullah adalah dalam misi pembentukan akhlakul karimah. Sabda Rasulullah,

" إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ". (رواه البيهقى)

 “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. al-Baihaqi)

Perilaku baik yang muncul dari takwa sebagai hasil penanaman nilai-nilai puasa Ramadan akan menjadikan seseorang lebih peka terhadap masalah sosial masyarakatnya. Perbuatan, ucapan, bahkan kata hatinya akan memberi dampak positif pada lingkungannya. Puasa menggambarkan kondisi ketakwaan yang menjadikan seorang hamba berakhlak dan beradab dalam ucapan, perbuatan, bahkan perangainya, jujur terhadap kawan maupun lawan, terhadap orang tua maupun anak kecil.

Di antara nilai yang bisa dipetik dari pelaksanaan puasa yang memenuhi syarat, rukun dan adab-adabnya adalah:

1. Kesabaran

Hamba yang sedang berpuasa ditempa dengan tiga jenis kesabaran sekaligus;

  1. Sabar terhadap tha’at kepada Allah SWT dengan melaksanakan puasa
  2. Sabar dari maksiat dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang bagi orang yang berpuasa, meskipun sebelumnya mubah apalagi haram.
  3. Sabar terhadap ketentuan Allah SWT dengan menerima rasa lapar, dahaga, dan turunnya stamina sebagai konsekuensi puasanya.

Karena alasan inilah, Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan bahwa puasa adalah suatu bentuk kesabaran yang paling utama.

2. Kedermawanan

Amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah pada waktu-waktu yang diutamakan, seperti Ramadan. Sepatutnya bagi yang puasa, yang menahan diri dari mubah yang membatalkan puasa dan hal yang diharamkan, untuk berbuat lebih banyak ibadah dengan berbagai macam bentuknya, berhias akhlak mulia dengan berbagi, saling memberi makanan untuk berbuka. Rasulullah adalah teladan terbaik dalam hal ini, karena diriwayatkan bahwa kedermawanan beliau pada bulan Ramadan digambarkan melebihi angin yang menghembus kencang. Rasulullah SAW bersabda,

" من فطَّر صائمًا، كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئًا". (رواه الترمذي وأحمد والنسائي والطبراني)

“Barang siapa memberi makan berbuka orang puasa, dia mendapat seperti pahalanya tanpa mengurang pahala orang yang berpuasa tersebut”. (HR. Al-Tirmidzi, Ahmad, al-Nasa’i, dan al-Thabrani)

3. Kejujuran

Pelajaran penting dari puasa adalah kejujuran terutama kepada Allah SWT, karena puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan tuhannya. Seseorang diketahui puasa atau tidak dari niatnya, dan hanya Allah yang tahu. Rasululllah SAW bersabda,

" قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به ". (أخرجه البخاري ومسلم)

“Allah Azza wa Jalla berfirman “semua amal perbuatan anak adam adalah miliknya, kecuali puasa. Dia adalah untuk-Ku dan aku sendiriyang akan membalasnya".” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Puasa membutuhkan kejujuran, kesesuaian antara lahir dan batin. Orang yang berpuasa menahan diri secara lahir dari makan dan minum, dan secara batin, mendekatkan diri dengan penciptanya, membenarkan segala yang bersumber dari-Nya, menjauhkan diri dari maksiat dan dosa serta menghadap Allah dengan seluruh jiwanya. Dengan demikian lahir dan batinnya menyatu dalam pengabdian, inilah kejujuran yang sesungguhnya. Pemilik kejujuran menjauhkan diri dari kata-kata kotor dan bohong, dan segala yang menyakiti orang lain. Rasululllah bersabda,

" من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه ". (أخرجه البخاري)

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak mengharapkan darinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya". (HR. Al-Bukhari)

Hamba yang berpuasa akan terjaga kesucian dirinya. Secara umum berdasarkan al-Baqarah: 183, bahwa kita diwajibkan berpuasa agar bertakwa. Seseorang yang bertakwa akan menjauhkan dirinya dari perbuatan nista yang menjatuhkan harga dirinya.

Secara khusus, Rasulullah juga menjelaskan bahwa puasa dapat menjaga kesucian diri dan mencegah sesorang dari perbuatan kotor yang bersumber dari syahwat mata dan kelamin. Rasulullah bersabda,

" يا معشر الشباب، من استطاع الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم، فإنه له وجاء". (أخرجه البخاري ومسلم)

Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia nikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

4. Tidak mudah marah dan pemaaf

Sudah sepatutnya bagi hamba yang sedang berpuasa untuk tidak membalas segala perbuatan jahat yang ditujukan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda,

" وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب فإن سابه أحد، أو قاتله فليقل: إني امرؤٌ صائم". (أخرجه البخاري ومسلم)

Jika salah seorang dari kalian berpuasa pada satu hari, maka janganlah berkata-kata kotor dan keji. Jika ada orang yang mencelanya dan menyakitinya, hendaklah dia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5. Terbebas dari penyakit hati

Puasa merupakan media untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

" صوم شهر الصبر، وثلاثة أيامٍ من كل شهر، يذهبن وَحَرَ الصدر". (رواه البزاروالمنذري)

Puasa Ramadan (bulan sabar) dan puasa tiga hari di setiap bulan (puasa ayyamul bidh) dapat menghilangkan keangkuhan di dada." (HR. Al-Bazzar dan al-Mundziri)

Yang dimaksud dengan wahara al-shadr adalah kebencian, permusuhan, kemarahan, atau kemunafikan dalam hati.

6. Ketenangan jiwa

Yang menjadikan puasa sebagai pendorong ketenangan jiwa adalah bahwa puasa dapat meleburkan dosa-dasa dan kesalahan yang menyebabkan gelisah dan kerasnya hati. Puasa mendorong seseorang untuk selalu dzikir dan berfikir posistif, sebaliknya, memberikan ruang nafsu syahwat dapat menimbulkan khilaf dan kerasnya hati. Dengan demikian pelaku puasa merasakan kebahagiaan ruhaniyyah yang timbul dari zikir dan fikir positif tersebut. Allah SWT berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد: 28)

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du:28)

Rasulullah bersabda,

" فتنة الرجل في أهله وماله وولده وجاره، تكفِّرها: الصلاة والصوم والصدقة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر". (أخرجه البخاري).

Fitnah seseorang pada keluar, harta, anak dan tetangganya dapat gugur dengan shalat, puasa, shadaqah, amar ma’ruf dan nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari)

Akhlak-akhlak terpuji di atas pasti akan tertanam kuat pada diri orang-orang yang menjalankan puasa dengan penuh kesadaran ibadah, memenuhi syarat, rukun dan adab-adab puasa Ramadhan, karena hal tersebut merupakan janji Allah dan Rasul-Nya. Jika yang terjadi justru sebaliknya, maka pasti ada yang salah dalam puasanya, karena Allah SWT tidak akan mengingkari janji-Nya. (HM. Afif Al Mubarak)