Empat Tujuan Puasa


Berdasarkan petunjuk al-Quran, hadis, dan telaah para ulama, kita temukan sedikitnya empat tujuan diwajibkannya puasa, yaitu:

1. Meningkatkan ketakwaan

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة:183]

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S al-Baqarah: 183).

Dalam puasa terdapat usaha keluar dari keinginan nafsu menuju perintah Allah SWT, membebaskan dorongan nafsu menuju ketentuan syariat, mendahulukan cinta Allah daripada selain-Nya. Semua itu, mendorong jiwa untuk melaksanakan taat dan menjauhi penyimpangan, menerpa hati untuk selalu ikhlas karena Allah SWT.

Ketika nafsu merasa kenyang, maka akan mendorong berbuat maksiat dan penyimpangan. Sebaliknya, jika lapar, dia terdorong berbuat taat dan mengingat tuhannya.

2. Mengendalikan Nafsu

Rasa lapar dan dahaga dapat melemahkan keinginan nafsu untuk berbuat maksiat. Karena maksiat yang paling merusak dan membahayakan bagi individu maupun masyarakat adalah yang berhubungan dengan syahwat perut dan kelamin, maka Allah menundukkannya dengan cara puasa.

Rasulullah SAW bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

“Wahai para pemuda, barang siapa dari kalian yang mampu biaya nikah, maka hendaklah ia menikah, karena itu lebih bisa memejamkan mata dan menjaga farji” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Melipatkan Pahala Ibadah

Ibadah puasa Ramadan menjadikan ibadah lainnya dilipatkan pahalanya. Di antara ibadah lain itu adalah:

a.      Sedekah

b.      Shalat malam

c.       Menghidupkan Lailatulkadar dengan ibadah

d.      Membaca al-Quran

4. Mensyukuri Kemudahan Syariat Allah

Orang yang mempelajari fikih puasa akan menemukan berbagai kemudahan dalam ketentuan-ketentuan puasa. Misalnya, puasa hanya wajib bagi orang-orang yang memenuhi syarat. Orang yang tidak mampu karena usia, dapat mengganti puasanya dengan sedekah makanan kepada orang miskin. Orang yang sakit, musafir, ibu hamil dan ibu menyusui juga boleh tidak berpuasa dengan ketentuan tertentu. Allah SWT berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [البقرة:185]

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Maka kita bersyukur atas segala hikmah yang terkandung dalam perintah puasa Ramadan. Juga bersyukur atas keringanan dan kemudahan yang Allah berikan dalam menjalankannya. (Afif Al Mubarok)