Dua Fakta Sejarah di Balik Munculnya Ashabul Kahfi

Jumat, 17 Januari 2020 hikmah 179 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Ashabul Kahfi memang kisah terkenal. Bercerita tentang tujuh manusia dan satu ekor anjing yang tinggal di gua selama ratusan tahun karena menghindari penguasa yang dzalim, menjadi kisah inspiratif mengenai keteguhan iman dan keberanian. Namun yang paling menarik untuk ditelusuri adalah, apakah Ashabul Kahfi benar-benar terjadi?

Di artikel yang lain kami telah menyebutkan nama ketujuh anggota Ashabul Kahfi sekaligus anjingnya. nama-nama tersebut adalah bukti bahwa Ashabul Kahfi bukanlah kisah fiksi semata. Ia betul-betul terjadi dalam sejarah ummat manusia. pertanyaan berikutnya yang menarik untuk diajukan adalah, dalam babak sejarah semacam apa dan di mana kasus Ashabul Kahfi muncul?

Dari cerita yang sering kita dengar, satu variabel yang bisa dijadikan sandaran adalah gambaran mengenai rezim penguasa yang giat menindas penganut agama samawi. Berdasarkan variabel ini, para ulama kemudian mencari kemungkinan-kemungkinan sejarah di mana ia terjadi. M. Quraish Shihab misalnya, dalam Tafsir Al Misbah mengutip pendapat dari pengarang tafsir al-Muntakhab yang terdiri dari sekelompok ulama dan pakar Mesir berusaha mengungkap tempat dan waktunya melalui isyarat-isyarat al-Qur’an. Singkatnya, ditemukanlah dua kemungkinan [M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah jil. 8];

Peristiwa pertama terjadi pada masa kekuasaan raja-raja Saluqi, saat kerajaan itu diperintah oleh Raja Antiogos IV yang bergelar Nabivanes (tahun 176-84 SM.). Pada saat penaklukan singgasana Suriah, Antiogos yang juga dikenal sangat fanatik terhadap kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno mewajibkan kepada seluruh penganut Yahudi di Palestina, yang telah masuk dalam wilayah kekuasaan Suriah sejak 198 SM., untuk meninggalkan agama Yahudi dan menganut agama Yunani Kuno. Antiogos mengotori tempat peribadatan Yahudi dengan meletakkan patung Zeus, tuhan Yunani terbesar, di atas sebuah altar dan pada waktu-waktu tertentu mempersembahkan kurban berupa babi bagi Zeus. Terakhir, Antiogos membakar habis naskah Taurat tanpa ada yang tersisa. Berdasarkan bukti historis ini, dapat disimpulkan bahwa pemuda-pemuda itu adalah penganut agama Yahudi yang bertempat tinggal di Palestina, atau tepatnya di kota Yerusalem. Dapat diperkirakan pula, bahwa peristiwa bangunnya mereka dari tidur panjang itu terjadi pada tahun 126 M. setelah Romawi menguasai wilayah Timur, atau 445 tahun sebelum masa kelahiran Rasulullah saw. tahun 571 M.

Peristiwa kedua terjadi pada zaman imperium Romawi, saat Kaisar Hadrianus berkuasa (tahun 117-138 M.). Kaisar itu memperlakukan orangorang Yahudi sama persis seperti yang pernah dilakukan oleh Antiogos. Pada tahun 132 M., para pembesar Yahudi mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh rakyat Yahudi akan berontak melawan kekaisaran Romawi. Mereka memukul mundur garnisun-garnisun Romawi di perbatasan dan berhasil merebut Yerusalem. Peristiwa bersejarah ini diabadikan oleh orang-orang Yahudi dalam mata uang resmi mereka. Selama tiga tahun penuh mereka dapat bertahan. Terakhir, Hadrianus bergerak bersama pasukannya menumpas pemberontak-pemberontak Yahudi. Palestina jatuh dan Yerusalem dapat direbut kembali. Etnis Yahudi pun dibasmi dan para pemimpin mereka dibunuh. Orang-orang Yahudi yang masih hidup, dijual di pasar-pasar sebagai budak. Simbol-simbol agama Yahudi dihancurkan, ajaran dan hukum-hukum Yahudi dihapus.

Dari penuturan sejarah ini didapati kesimpulan yang sama bahwa para pemuda itu adalah penganut ajaran Yahudi. Tempat tinggal mereka bisa jadi berada di kawasan Timur Kuno atau di Yerusalem sendiri. Masih mengikuti alur sejarah ini, mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang itu kurang lebih pada tahun 435 M., 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah SAW. Tampaknya peristiwa pertama lebih mempunyai kaitan dengan kisah Ashabul Kahfi karena penindasan mereka lebih sadis. Adapun penindasan umat Kristiani tidak sesuai dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Demikian dalam tafsir al-Muntakhab yang dikutip oleh Quraish Shihab.

Wallahu a’lam bis shawab…