Tradisi Qadha Shalat Orang Indonesia


Qadha shalat artinya melunasi shalat. Berarti yang bersangkutan pernah meninggalkan shalat, disengaja atau tidak, itu lain soal. Yang jelas, bagi orang-orang Indonesia utang kewajiban shalat sama halnya dengan utang kewajiban kepada Allah, ia harus dilunasi. Soal ada orang lain yang punya pendapat bahwa shalat yang ditingggalkannya itu tidak wajib dibayar, silakan saja. Umumnya, mereka yang tidak bersedia  mengqadha (membayar) shalat yang ditinggalkannya, sebab kewajiban itu terkait dengan waktu shalat yang harus dikerjakan saat itu. Jika sudah lepas waktu yang sudah ditetapkan, ya sudah, tak perlu dibayar lagi.

Hujjah atau alasan yang dipakai orang-orang Indonesia tidak begitu. Mereka lebih melihat bahwa shalat yang ditinggalkan itu disebabkan kelalaian kita. Kepada manusia saja utang harus dibayar, kenapa utang kita kepada Allah justru dipermudah? Walaupun kita tahu Allah adalah Dzat Maha Pemaaf, tapi itu masalah lain. Bagi orang Indonesia, dapat dibayar lain waktu yang senggang. Akan tetapi, lebih cepat membayar, lebih baik.

Soal, apakah dosa besar ketika kita meninggalkan shalat, tentu saja akan dilihat alasannya. Kalau alasan tidur, tidak ada yang membangunkan, tentu Allah Maha Tahu. Berbeda kalau kita meninggalkan shalat karena alasan bus yang kita tumpangi tidak berhenti, atau di kereta yang katanya tidak ada tempat, di pesawat yang katanya tidak ada air, atau sedang sakit, semua itu Allah Maha Tahu. Yang jelas, shalat bagi kaum muslimin merupakan suatu kewajiban yang harus dikerjakan pada waktunya, dalam kondisi apapun. Jika tidak bisa berdiri, duduk. Jika tidak bisa duduk, tiduran. Tidak bisa tiduran, isyarat mata. Tidak bisa isyarat mata, dengan hati. Begitu mudahnya syari’at islam, namun kemudahan itu masih saja dirasa berat oleh orang yang suka bermalas-malasan.

Sekarang, bagaimana jika utang shalat satu minggu karena sakit belum bisa membayarnya keburu meninggal, siapa yang harus membayar? Menurut orang Indonesia, utang shalat tadi bisa dibayar lewat 2 cara. Cara pertama, dilunasi keluarganya; dan cara kedua, bisa melunasinya dengan membayar fidyah (denda), yaitu 1 waktu shalat yang ditinggalkan sama dengan 6 ons beras. Berarti, keluarga harus membayarkan 6 ons beras x 5 x 7 dan diberikan kepada tetangga yang fakir dan miskin.

Beberapa dalil yang dipakai orang-orang Indonesia, pertama:

“Para ulama sepakat bahwa melunasi utang shalat yang ditinggalkan itu wajib hukumnya, baik karena lupa ataupun tertidur. Seperti yang pernah disampaikan Rasul: tertidur itu bukan kelengahan karena yang dikatakan lengah itu bila seseorang tidak tidur. Kalau ia lupa atau tertidur dan tidak mengerjakan shalat, shalatlah ketika teringat.”

Ada juga yang mengatakan, “Siapa meninggal dunia dan sedang punya utang shalat, baginya tak perlu diqadha. Tetapi menurut sebagian besar ulama mujtahidin: bagi keluarganya tetap terkena kewajiban membayar karena ada hadits riwayat Imam Bukhari tentang hal itu. Pendapat terakhir ini cenderung diikuti ulama-ulama Syafi’iyah, antara lain Imam Subky dan sebagian teman dekatnya.”

Pada dalil ketiga juga disebutkan dalam I’anatuthThalibiin:” pendapat yang benar adalah fatwa pertama yang mengatakan: Harus mengeluarkan Fidyah (denda) 40 mud (1 mud = 6 ons) karena yang bersangkutan telah meninggalkan shalat selama 8 hari, yang seharusnya ia mengerjakan shalat 5 kali sehari.” (Idah Mahmudah)