Tingkatan-tingkatan Mujtahid

Senin, 1 Oktober 2018 diskusi 27380 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Setelah mengetahui syarat-syarat utama dan penyempurna seorang Mujtahid, maka kali ini kita akan mendiskusikan tingkatan-tingkatan Mujtahid berikut perannya dalam proses perumusan hukum Islam. Secara umum, ada tiga tingkatan Mujtahid sebagai berikut;

Mujtahid Mutlak Mustaqil adalah Mujtahid yang mengaplikasikan kaidah-kaidah yang dirumuskannya sendiri secara independen dan dijadikannya metodologi berpikir dalam proses penggalian hukum Islam.

Nama-nama yang masuk dalam tingkatan ini adalah seluruh fuqaha dari kalangan Sahabat dan beberapa fuqaha’ Tabi’in seperti Sa’id bin al-Musayyib dan Ibrahim an-Nakho’i. berikut juga beberapa Imam Mujtahid seperti Ja’far Shadiq, Abu Hanifah, Malik bin Anas, as-Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, al-Awza’I, Sufyan al-Tsauri dan al-Laits bin Sa’ad.

Mujtahid Mutlak Muntasib adalah Mujtahid yang memiliki kemampuan untuk menerapkan kaidah-kaidah, menggali hukum dan memilah ushul-furu’ (asal dan cabang), namun belum bisa merumuskan metode ijtihad sendiri. Mereka masih berada dan mengikuti pedoman metode dari para Imam Mujtahid Mutlak Mustaqil.

Nama-nama yang masuk dalam tingkatan ini semisal Abu Yusuf dan Zafr bin al-Hudzail dari Madzhab Hanafi; Abu al-Qasim dan Asyhab dari Madzhab Maliki; Abu Ya’qub al-Buwaythi dari Madzhab Syafi’I; al-Khiraqi dan Abu Bakr al-Khalal dari Madzhab Hanbali.

Mujtahid Madzhab adalah Mujtahid yang tidak memiliki kemampuan seperti Mujtahid Mutlak, baik yang mustaqil maupun yang muntasib. Artinya dia mengikuti satu madzhab imam tertentu, baik dalam mengadopsi metode berpikirnya maupun proses penerapannya. Mujtahid Madzhab dibagi lagi menjadi tiga;

1. Mujtahid Muqayyid

Yaitu para Mujtahid yang memiliki kompetensi untuk menggali dan menetapkan hukum, serta menjadikan teks atau nash Imam madzhabnya sebagai rujukan. Ketika adalah persoalan yang dihadapinya, maka dia akan melakukan kontekstualisasi melalui nash imam madzhab. Jika belum cukup, dia akan merujuk pada kaidah umum yang menjadi dasar di balik penetapan hukum dalam nash imam madzhabnya.

Al-Syairazi, al-Kurkhi, al-Thahawi, dan al-Mawarzi merupakan contoh nama Imam Mujtahid Muqayyid.

2. Mujtahid Tarjih

Adalah Mujtahid yang mengikuti imam madzhabnya, baik dalam perkara ushul maupu furu’. Dia tidak menetapkan hukum baru. Perannya hanya mengumpulkan pandangan-pandangan yang berbeda dan terlihat bertentangan di kalangan imam madzhab, lalu menentukan satu pendapat yang lebih unggul.

3. Mujtahid Hafidzul Madzhab

Yaitu Mujtahid yang sama sekali tidak memiliki ijtihad fiqhi. Perannya hanya pada proses pengumpulan, pembukuan dan penjagaan atas berbagai macam kaum imam madzhabnya, berikut perbedaan dan perdebatan yang terjadi.(Hilmy Firdausy)