Tiga Hal yang Merusak Ingatan! Waspadalah!

Selasa, 28 Agustus 2018 diskusi 434 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Setiap manusia memiliki ingatan, kecuali orang-orang yang sudah dicabut akalnya oleh Allah SWT. Manusia yang berakal normal mampu mengingat semua yang pernah terjadi pada dirinya. Sedangkan manusia yang akalnya sudah abnormal sangat susah untuk mengingat apa yang telah dilaluinya. Ataupun masih mampu mengingat, tapi apa yang diingat sering berseberangan dengan apa yang dialaminya. Hal ini lumrah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Lemah atau kuatnya daya ingat seseorang disebabkan oleh dua faktor. Yaitu faktor keturunan dan faktor pengasahan.

Seseorang yang lahir dari orang tua yang memiliki ingatan kuat, umumnya dianugerahi ingatan yang kuat pula. Sebaliknya, orang-orang yang lahir dari keturunan yang lemah ingatannya, maka umumnya ingatannya lemah mengikuti jalur orang tuanya. Namun ingatan yang lemah bisa diasah untuk kemudian bisa menjadi kuat.

Ada tiga penyakit yang menggerogoti ingatan:

1. Bermaksiat

Allah Swt. Tidak pernah meminta jaminan terhadap nikmat yang telah dianugerahkan kepada hamba-Nya. Karena apa yang telah diberikan tidak pernah diminta kembali. Beda halnya dengan manusia, mereka ketika memberi sesuatu selalu meminta jaminannya. Namun ada pula yang memberikannya secara ikhlas.

Meskipun tidak ada jaminan, bukan berarti manusia bisa seenaknya menggunakan nikmat itu. Bukankan Allah telah memberikan satu syarat pada setiap nikmat yang telah diberikannya? Dalam firman-Nya:

“dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatku), maka sesungguhnya azabku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)

Azab yang diberikan Allah kepada orang yang kufur nikmat ada dua tempat, yaitu dunia dan akhirat. Azab di akhirat berupa siksa neraka, sedangkan di dunia berbeda-beda. Di antaranya dicabut keberkahan pada nikmat yang telah diberikan.

Seseorang yang memiliki ingatan kuat jika selalu bersyukur maka Allah akan menguatkan ingatannya. Ataupun Allah akan memberikan nikmat lain baginya di dunia dengan sebab bersyukur terhadap nikmat kuat ingatan tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang sudah dianugerahi nikmat kuat ingatan, lalu ia mengufurinya dengan bermaksiat, maka Allah akan mencabut keberkahan atau bahkan menghilangkan nikmat tersebut kepadanya, seperti dilemahkan ingatannya.

2. Menyibukkan diri dengan dunia

Para ulama dalam buku-bukunya mengatakan bahwa salah satu penyebab lemahnya ingatan adalah menyibukkan diri dengan dunia. Makna kalam ulama tersebut adalah ‘mengambil dunia untuk akhirat’. Sehingga mereka makan sekedar sanggup beribadah, berpakaian sekedar untuk menutupi aurat, dan berkendaraan sekedar memudahkan untuk berdakwah.

Menurut Imam Al-Ghazali, “tidak ada keberkahan hidup seorang muslim yang hari-harinya tidak dibumbui dengan membaca Al-Qur’an.” Tidak ada bacaan-bacaan yang dapat meningkatkan daya ingat dan memberikan ketenangan dalam pikiran selain membaca Al-Qur’an.

Jika mendengarkan musik klasik hanya dapat memengaruhi IQ, EQ, maka mendengar atau membaca Al-Qur’an dapat memengaruhi IQ dan EQ sekaligus SQ.

Lalu apa hubungannya para ulama berpendapat bahwa menyibukkan diri dengan dunia menyebabkan lemahnya ingatan?

Perbuatan dunia akan membuatmu sibuk dan membuatmu terlena padanya sehingga meluoakan perbuatan akhirat. Mungkinkan seseorang yang sudah sibuk dengan dunia menyempatkan untuk membaca Al-Qur’an?

3. Banyak kesibukan

Ketika baginda Nabi menghadap Allah menjemput perintah shalat di malam isra’ dan mi’raj, beliau berjumpa dengan Nabi Musa As. Nabi Musa bertanya, “apa yang dibebankan oleh Allah atas ummatmu wahai Muhammad?” Rasulullah menjawab, “perintah shalat 50 waktu sehari semalam.” Nabi Musa kaget mendengarnya, lalu beliau berkata, “mintalah keriganan pada Allah, sungguh ummatmu tidak akan sanggup melakukan seberat itu. Aku telah memimpin umat sebelummu, Allah membebankan atas mereka amalan yang lebih ringan dari itu, tapi mereka tidak sanggup melakukannya. Apalagi umatmu Muhammad yang sangat lemah pendengaran, penglihatan, dan keras hatinya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Setelah mengetahui bahwa diri kita merupakan makhluk yang lemah, maka kita hendaknya menjauhkan diri dari banyak kesibuka yang mengakibatkan lemahnya ingatan. Karena kesibukkan akan memaksa kita untuk terus berpikir. Ketika banyak hal yang harus dipikir, maka akan otomatis munculnya perkara-perkara yang perlu diingat. Sedangkan manusia sebagai makhluk yang lemah tidak sanggup memikir banyak hal. Yang jika dipaksakan untuk terus mengingat maka akan banyak yang terlupakan. (Ida Mahmudah)