Syarat-Syarat Utama Seorang Mujtahid

Kamis, 27 September 2018 diskusi 44015 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Mujtahid adalah orang yang melakukan ijtihad. Selain harus Islam, baligh, berakal dan adil, ada lagi beberapa syarat terkait penguasaan ilmu yang harus dimiliki oleh seorang Mujtahid. Jadi tidak sembarang orang yang bisa melakukan proses ijtihad. Berikut syarat-syarat utama yang harus dipenuhi;

Menguasai pengetahuan tentang al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam mashadirus syariah tentu saja memegang peranan penting sebagai sumber hukum Islam. Maka, seorang Mujtahid, ketika hendak menggali hukum dari ayat-ayat al-Qur’an harus menguasai ilmu-ilmu terkait dengan al-Qur’an itu sendiri. Yakni ilmu seputar makna teks al-Qur’an, illat dan tujuan yang terdapat di dalamya, asbabun nuzul, nasikh-mansukh dan mampu mengidentifikasi ayat-ayat hukum.

Menguasai pengetahuan tentang Sunnah Kenabian. Hadis dan sunnah kenabian merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an. Maka, ketika hendak menggali hukum Islam dari teks-teks hadis, seorang Mujtahid harus menguasai seluruh ilmu terkait dengan hadis. Mulai dari menguasai mustalahul hadis, kritik sanad dan matan hadis, ilmu jarh wat ta’dil, dan berbagai macam ilmu dalam diskursus pemahaman hadis.

Menguasai Ilmu Bahasa Arab. Al-Qur’an dan Hadis sampai kepada kita dengan media Bahasa Arab. Seorang Mujtahid tidak akan mampu memahami teks tersebut ketika dia tidak menguasai Bahasa Arab. Nahwu, Shorrof, Balaghah, Manthiq dan ilmu kebahasaan lainnya mutlak harus dikuasai.

Menguasai Ushul al-Fikih. Ushul Fikih adalah tiang ijtihad. Di dalamnya ada sekumpulan teori dan konsep, berikut kaidah-kaidah untuk menggali hukum Islam. Maka sudah sepatutnya seorang Mujtahid mesti menguasai ilmu ini. Tidak boleh tidak!

Mengetahui hal-hal terkait Ijma’. Setelah al-Qur’an dan Hadis, Ijma’ adalah sumber syariat ketiga dalam Islam. Ijma’ berkaitan dengan kesepakatan yang telah dilakukan oleh para ulama terkait suatu hukum tertentu. Ijma’ ulama termasuk dalil qath’I (yang pasti), yang harus dirujuk oleh Mujtahid ketika hendak menentukan sebuah hukum.

Itulah syarat-syarat utama terkait pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang Mujtahid. Jika kalian masih belum menguasai itu semua, ya sudah taqlid saja kepada ulama yang memang mumpuni. Nah inilah hikmah di balik aturan mengapa kita harus bermadzhab, gak asal main kembali ke al-Qur’an dan Hadis?