Sholat Jum’at Diadakan Di Gedung Perkantoran

Jumat, 2 Agustus 2019 diskusi 111 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Sholat Jum’at merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan kewajibannya oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman melalui sebuah firman-Nya yang terdapat dalam Qs. Al-Jumu’ah: 9.

Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyyah Syarah Bidayatul Hidayah mengatakan:

اعلم انّ الجمعة عيد المؤمنين وهو يوم شريف خصّ اللّه عزّوجلّ به هذه الامّة, وفيه ساعة مبهمة لا يوافقها عبد مسلم يسال اللّه تعالي فيها حاجة الّا اعطاه ايّاها. فاستعدّ لها من يوم الخميس, بتنظيف الثياب, وبكثرة التسبيح والاستغفار عشيّة الخميس, فانّها ساعة توازي في الفضل ساعة يوم الجمعة. وانو صوم يوم الجمعة لكن مع الخميس أو السّبت اذ جاء في افراده نهي

“Ketahuilah bahwa Jum’at merupakan hari raya bagi orang-orang yang beriman. Ia merupakan hari mulia yang khusus diperuntukkan Allah bagi umat ini. Di dalamnya ada saat-saat penting yang apabila seorang mukmin meminta kebutuhannya kepada Allah SWT, pasti Allah akan mengabulkan. Oleh karena itu, persiapkanlah dirimu untuk menghadapi hari raya tersebut semenjak hari kamis dengan cara membersihkan pakaian dan banyak bertasbih dan beristighfar pada kamis petang (sore)nya, karena keutamaan saat itu sama dengan keutamaan hari jum’at. Berniatlah untuk berpuasa untuk hari jum’at. Tetapi harus dengan hari kamis atau hari sabtu, tidak boleh dikerjakan pada hari jum’at saja.”

Kewajiban tersebut kemudian dijabarkan oleh Rasulullah saw. tertuju kepada selain para budak, kaum perempuan, anak-anak yang belum baligh, orang yang sedang sakit dan dipandang sebagai uzur, serta orang yang sedang dalam bepergian dengan jarak yang telah memenuhi radius rukhsah (boleh tidak jum’atan).

Setelah melakukan analisa yang cukup mendalam mengenai dalil-dalil yang terkait dengan sholat Jum’at baik dari Al-Qur’an maupun Hadits, mayoritas ulama Syafi’iyyah berpandangan bahwa termasuk syarat sah khutbah Jum’at berikut sholatnya harus diikuti oleh minimal 40 orang ahli Jum’at (muslim, bukan budak, telah baligh dan dinyatakan sebagai penduduk tetap untuk satu daerah setempat yang mengadakan sholat jum’at/mustauthin).

Dalam kawasan perkotaan, terdapat permasalahan bagaimana jika para jamaah shalat Jumat bukan termasuk orang yang muqim-mustauthin. Apakah shalat jumatnya sah?

Permasalahan ini sebenarnya pernah dibahas dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama pada tahun 1997 di Lombok dengan keputusan bahwa Sholat Jum’at tanpa mustauthin dan muqimin atau dengan mustauthin dan muqimin, tetapi tidak memenuhi syarat, hukumnya tafshil atau dirinci sebagai berikut:

1. Tidak sah, menurut mayoritas ulama Syafi’iyyah. Sementara Imam Syafi’i sendiri dalam qaul qadim yang dikuatkan oleh al-Muzanni memandang sah bila jumlah jama’ah itu diikuti mustauthin minima 4 orang.

2. Imam Abu Hanifah mengesahkan secara mutlak. Adapun rujukan yang digunakan antara lain: Risalah Bulugh al-Umniyah fi Fatawa al-Nawazil al-‘Ashriyyah karya Muhammad Ali al-Maliki:

بل قال شيخنا في تقريره علي إعانته أنّ للشّافعي قولين قديمين في العدد أيضا أحدهما أقلّهم أربعة. حكاه عنه صاحب التّلخيص وحكاه في شرح المهذّب

Bahkan guruku, al-Bakri bin Muhammad Syaththa, dalam catatan atas kitab I’anatu Thalibinnya berkata, “Sungguh Imam Syafi’i punya dua qaul qadim tentang jumlah jamaah shalat Jum’at pula. Salah satunya adalah minimal empat orang. Pendapat ini dikutip oleh pengarang kitab al-Talkhish dan dihikayatkan al-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzdzab.

Apakah shalat Jum’at itu sah dengan jamaah terdiri dari para muqimin (penduduk) yang tidak menetap. Dalam hal itu terdapat dua wajah; Abu Ali bin Abi Hurairah berpendapat “Sholat Jum’at dengan mereka itu sah karena mereka berkewajiban sholat jum’at, sehingga sholat itu menjadi sah, sama seperti para penduduk tetap.”

Dari uraian ini, ada beberapa pilihan bagi kita dalam menghadapi masalah ini.

Pertama, mengikuti pendapat mayoritas ulama Syafi’iyyah yang menganggap jum’atan tersebut tidak sah dengan konsekuensi karyawan kantor mencari kampung terdekat yang menyelenggarakan sholat Jum’at oleh penduduk setempat.

Kedua, mengikuti pendapat qaul qadim Imam Syafi’i dengan konsekuensi harus ada atau kalau perlu mendatangkan minimal 4 orang penduduk di sekitar kantor untuk ikut sholat Jum’at di perkantoran.

Ketiga, mengikuti pendapat Imam Hanafi dengan konsekuensi mengetahui tata cara yang terkait dengan pelaksanaan sholat Jum’at mulai dari tata cara wudhu sampai dengan sholatnya berikut syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan menurut madzhab Hanafi. (Idah Mahmudah)