Sejarah Pemberian Tanda Baca Alquran

Minggu, 27 Oktober 2019 diskusi 126 klik
Faza Grafis:Faza

Pada masa awal pengumpulan dan pembukuan mushaf Alquran, tidak ada tanda baca apapun yang dibubuhkan pada teks ayat-ayat Alquran. Tanda baca yang dimaksud adalah lambang-lambang tertentu seperti baris, tanwin, tasydid, hamzah, titik dan sebagainya yang umum kita jumpai pada mushaf Alquran saat ini. Jadi mushaf Alquran pada masa awal pengumpulan Alquran semata-mata hanya berisi batang tubuh huruf tanpa disertai dengan tanda baca apapun, selain itu batang tubuh huruf-huruf Arab saat itu tentu saja memilkik gaya dan format yang mungkin agak berbeda dengan apa yang kita baca sekarang.

Proses pemformatan dan modifikasi tanda baca mushaf sendiri baru muncul belakangan setelah pengumpulan dan pembukuan mushaf Alquran. Proses tersebut terjadi dalam beberapa tahapan yang memakan waktu puluhan tahun, melibatkan beberapa nama ulama besar dan usaha yang tidak mudah, tetapi semua itu dilakukan seluruhnya untuk memelihara dan menghindari kesalahan dalam pembacaan Alquran, pembubuhan tanda baca juga sebagai sarana untuk mempermudah kaum muslimim dalam membaca Alquran dengan benar, terutama semenjak agama Islam mulai tersebar secara masif ke daerah-daerah ‘ajam yang tidak terbiasa berkomunikasi dan menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran itu diturunkan.

Pada pembahasan ini, kita akan membahas tiga tahapan pokok dalam sejarah pemberian tanda baca Alquran, tiga tahapan tersebut menghasilkan format tanda baca yang berbeda dan melibatkan tokoh-tokoh ulama yang berbeda pula, dalam hal ini, tahapan yang terjadi belakangan bisa dikatakan sebagai penyempurna dan perbaikan terhadap tahapan sebelumnya. Masing-masing tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemberian Nuqthah al-I’rab

Nuqthah al-I’rab adalah tanda titik yang dibubuhkan pada akhir setiap kata dengan posisi tertentu untuk menunjukkan bunyi huruf terakhir dari sebuah kata. Perlu diingat bahwa saat itu, teks Alquran tidak dibubuhkan dengan titik apapun, jadi tidak ada tanda-tanda titik yang mengiringi huruf tertentu seperti huruf Ba’, ta, tsa’  dan sebagainya. Pemberian tanda baca Nuqthah al-I’rab dipelopori oleh Abu Aswad al-Dua’ly, tokoh yang sama yang mempelopori perumusan kaidah-kaidah ilmu nahwu. Dalam hal ini Nuqthah al-I’rab  juga sangat erat kaitannya dengan kajian nahwu.

Pemberian tanda titik sebagai rambu untuk menunjukkan bunyi huruf terakhir sebuah kata dilatarbelakangi oleh pengaruh besar dari bunyi akhir sebuah kata terhadap makna yang diberikannya dalam kalimat. Dalam bahasa Arab, kita mengenal bahwa berbagai kosakata memungkinkan untuk dibaca dengan bunyi huruf akhir yang berbeda, keadaan bunyi huruf terakhir itu sendiri ditentukan oleh gagasan atau kedudukan tertentu saat sebuah kata berada di dalam bangunan kalimat. Sederhanya misalnya sebuah kata ketika berkedudukan sebagai subjek maka bunyi huruf akhirnya dibaca Dhummah, lalu dalam kalimat yang berbeda, ketika ia berkedudukan sebagai objek bunyi huruf akhirnya menjadi fathah.

Keadaan di atas menyebabkan kesalahan pelafalan bunyi huruf akhir sebuah kata dalam Alquran akan berakibat fatal, ia akan menimbulkan kesalahan makna yang sangat besar. Hal ini lah yang melatarbelakangi pemberian Nuqthah al-I’rab menjadi gerakan awal dalam pemberian tanda baca Alquran. Contoh kesalahan yang umum disebutkan terjadi adalah kesalahan dalam membaca sebuah ayat dalam surah al-Taubah yang berbunyi sebagai berikut.

وَأَذَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلنَّاسِ يَوۡمَ ٱلۡحَجِّ ٱلۡأَكۡبَرِ أَنَّ ٱللَّهَ بَرِيٓءٞ مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ وَرَسُولُهُۥ

Artinya: Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

Perhatikan kata وَرَسُولُهُۥ dimana huruf terakhir dari kata رسول yaitu huruf ل  dibaca dengan bunyi Dhummah dengan memposisikannya sebagai athaf terhadap dhamir atau kata ganti yang terkandung pada kata بَرِيٓءٞ sehingga mengulang kembali gagasan dari kalimat sebelumya yaitu “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik, beitu juga Rasulnya juga berlepas diri dari orang musyrik”. Kesalahan fatal akan terjadi jika melafalkan huruf ل menjadi baris kasrah, sehingga kata رسول diposisikan sebagai 'athaf  terhadap kata ٱلۡمُشۡرِكِينَ, jika demikian maka رسول mengandung gagasan yang sama dengan kata ٱلۡمُشۡرِكِينَ yaitu bermakna “Allah berlepas diri dari orang-orang musyrikin dan juga berlepas diri dari rasulnya”. Ini tentu saja menghasilkan pemaknaan yang keliru dan menyesatkan. Berangkat dari keadaan tersebut dapat kita pahami betapa urgentnya pemberian tanda untuk menunjukkan bunyi akhir dari sebuah kata.

Nuqthah al-I’rab sendiri bentuknya adalah titik yang mengiringi huruf terakhir dari sebuah kata. Jika akhir sebiuah kata berbunyi fathah, maka titik dibubuhkan di atas huruf akhir. Jika akhir sebuah kata berbunyi dhummah, maka titik dibubuhkan di depan huruf akhir, jika akhir sebuah kata berbunyi kasrah, maka titik dibubuhkan di bawah huruf akhir. Adapun jika akhir sebuah kata berbunyi sukun, maka tidak dibubuhkan titik apa-apa. Lalu jika akhir sebuah berbunyi tanwin, maka ditambahkan satu titik lagi di atas titik yang sudah ada, sehingga jika akhir kata berbunyi tanwin fathah, maka ditambah satu titik lagi di atas titik tanda bunyi fathah. Hal yang sama juga berlaku untu tanwin dhummah dan tanwin kasrah.

Keberadaan titik-titik pada huruf terakhir setiap kata tersebut diharapkan dapat mencegah kekeliruan I’rab sebuah kata dalam Alquran yang mana dapat menimbulkan kesalah makna yang fatal. Titik tersebut menjadi satu-satunya tanda baca yang eksis pada saat itu. Adapun tanda baca lainnya belum ada.

2. Pemberian tanda baca Nuqthah al-I’jam

Fase atau tahapan ini terjadi pada masa kekhalifahan Abdul malik Ibn Marwan (65-87 H). Nuqthah al-I’jam merupakan tanda titik yang mengiringi huruf-huruf tertentu untuk membedakannya dengan huruf lain yang memiliki batang tubuh yang sama.

Keberadaan Nuqthah al-I’rab sendiri belum cukup untuk membendung kekeliruan dalam pembacaan Alquran, terutama di kalangan non Arab. Ia hanya meminimalisir kesalahan posisi I’rab sebuah kata dalam kalimat. Padahal saat itu ada banyak kekeliruan lain yang timbul disebabkan karena kesalahan dalam membaca huruf-huruf yang memiliki batang tubuh tulisan yang sama. Huruf-huruf yang dimaksud misalnya huruf  ب ، ت ، ث sebelum adanya pemberian titik Nuqthah al-I’jam  ketiga huruf tersebut tertulis dengan tulisan yang sama persis, mengingat ketiganya memiliki batang tubuh yang sama. Bahkan saat ketiganya berada pada pertengahan kata, huruf-huruf terseput juga serupa dengan huruf nun dan huruf ya’. Yaitu hanya berupa satu gigi tegak ke atas. Kesamaan batang tubuh juga dimiliki banyak pasangan huruf hijaiyah lainnya, kita mengenal ada banyak pasangan huruf yang memilki batang tubuh yang serupa dan hanya dibedakan dengan tanda titk dengan jumlah dan pada posisi tertentu.padahal, saat itu titik-titik tersebut belum ada.

Tokoh ulama yan berperan dalam pemberian Nuqthah al-I’jam adalah Nashr Ibn ‘Ashim (W 90 H) dan Yahya Ibn Ya’mur (W sebelum 90 H). Keduanya memberikan format berupa titik dengan jumlah dan posisi tertentu untuk menunjukkan perbedaan antara beberapa huruf yang memiliki batang tubuh yang sama. Misalnya huruf Ba’ ditandai dengan satu titik dibawah, huruf Ta’ ditandai dengan dua titik di atas, huruf Tsa’  ditandai dengan tiga titik di atas, huruf Nun ditandai dengan satu titik di atas dan huruf Ya’ ditandai dengan dua titik dibawah. Hal yang sama juga berlaku pada pasangan huruf dengan batang tubuh sama lainnya.

Sampai sejauh ini keberadan tanda baca Nuqthah al-I’rab dan Nuqthah al-I’jam dapat meminimalisir kesalahan bacaan posisi I;rab sebuah kata dan kesalahan dalam membedakan huruf dengan batang tubuh yang sama. Namun tentu saja dua jenis tanda baca tersebut masih menyisakan potensi kesalahan bacaan yang sangat banyak, misalnya kesalahan dlam membunyikan huruf di awal dan di pertengahan kata, kesalahan melafalkan huruf hamzah sebagai huruf yang saat itu belum memiliki tanda khusus seperti tanda hamzah sekarang dan berbagai kesalahan lainnya, sehingga sejauh ini, pemberian tanda baca Alquran masioh menyisakan pekerjaan besar untuk tahapan selanjutnya.

3. Pemberian Tanda Baca Ahmad Khalil al-Farahidy

Ahmad Khalil al-Farahidy merupakan tokoh yang menciptakan gebrakan besar dalam sejarah pemberian tanda baca Alquran. Beliau merumuskan berbagai hal untuk meyelesaikan berbagai problem dalam pembacaan Alquran dan menyempurnakan format tanda baca pada masa sebelumnya, berbagai tanda baca tersebut masih bertahan dan dipergunakan sampai sekarang. Artinya berbagai tanda baca yang kita kenal sekarang adalah buah fikir dan kerja keras Ahmad Khalil al-Farahidy dan beberapa ulama yang membantu beliau.

Keberadan tanda baca Nuqthah al-I’rab dan Nuqthah al-I’jam menyisakan satu problem baru yaitu adanya tumpang tindih keberadaan titik. Keadaan ini terjadi jika adanya Nuqthah al-I’jam pada akhir kata yang bercampur dengan Nuqthah al-I’rab. Hal ini  misalnya terjadi jika ada huruf Ba’ pada akhir kata yang berbunyi kasrah, maka huruf Ba’ tersebut akan diberikan satu titik dibawahnya sebagai Nuqthah al-I’rab karena ia berbunyi kasrah, pada saat yang sama ia juga harus diberikan satu titik di bawahnya sebagai  Nuqthah al-I’jam untuk membedakannya dengan huruf lain dengan batang tubuh serupa. Pada akhirnya saat itu Nuqthah al-I’rab dihilangkan dan diganti dengan format tanda baca yang lebih fleksibel, simpel dan efisien.

Untuk melambangkan bunyi sebuah huruf, al-Farahidi membuat tanda baca tertentu yang saat ini kita kenal dengan baris atau harakat, yaitu tanda dhummah (ُ) yang diambil dari huruf Waw  Yang diperkecil, tanda fathah (َ) yang diambil dari huruf alif yang direbahkan secara diagonal dan diperkecil dan tanda kasrah (ِ) yang diambil dari kepala huruf Ya’ yang diperkecil. Ketiga lambang atau baris tersebut dapat diaplikasikan pada huruf apapu dalam posisi apapun, baik di awal, pertengahn maupun di akhir kata. Sehingga dapat mencegah kesalahan bunyi setiap huruf dalam Alquran tidak hanya pada huruf terakhir dari sebuah kata.

Masih ada banyak Pemberian tanda baca lainnya selain ketiga baris di atas yang digagas pada masa al-Farahidy. Di antaranya seperti tanda sukun (ْ) untuk menunjukkan bunyi mati , tanda tanwin untuk menunjukkan bunyi nun mati yang tidak terlihat, tanda tasydid (ّ) untuk menunjukkan bunyi dua huruf sama yang digabungkan, tanda tasdid tersebut diambil dari gigi huruf ش , selanjutnya ada tanda hamzah (ء) yang diambil dari kepala huruf ع, tanda hamzah washal (آ) yang diambil dari kepala huruf  ص, beberapa tanda huruf kecil untuk melambangkan adanya alif, waw, atau huruf Ya’ yang tidak ditulis dalam tulisa, tanda mad shilah di depan ha dhamir, dan lain sebagainya.

Beragam tanda baca tersebut tetap bertahan dan dipergunakan hingga sekarang. Terdapat Kajian ilmu khusus yang mempelajari atutran dan kaidah pemberian tanda baca Alquran yaitu ilmu Dhabth al-Qura’n. kaidah-kaidah tersebut mengacu pada pemberian tanda baca di masa al-Farahidy. Berbagai tanda baca tersebut dan kaidah-kaidah yang berlaku di dalamnya merupakan pembahasan yang sangat luas dan perlu dibahas secara khusus masing-masing untuk setiap tanda baca. Pembahasan di sini hanya menjelaskan sekilas proses perkembangan dan tahapan sejarah pemberian tanda baca Alquran hingga seperti yang kita lihat saat ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya pemberian tanda baca Alquran ada;lah sesuatu yang penting dan sangat rumit. Ia berasal dari usaha para ulama yang menuras pikiran untuk menciptakan dan merumuskan hal tersebut. Semua itu dilakukan untuk menghindari kesalahan dan memelihara ayat-ayat Alquran. Tidak terbayang betapa sulitnya membaca ayat Alquran khusunya di luar bangsa Arab jika tidak ada pembubuhan tanda baca seperti yang kita kenal sekarang (Rudy Fachruddin).