Sejarah Kelahiran Istilah Sufi

Kamis, 21 Maret 2019 diskusi 325 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Menurut Ibnu Khaldun, istilah sufi dan tasawwuf belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Islam pada abad pertama hijriyah. Istilah sufi dan tasawwuf baru dikenal sejak abad ke-2 hijriyah. Pada masa Rasulullah Saw sendiri tidak seorang pun dari sahabat beliau yang menyandang gelar sufi. Nama sufi memang tidak menjadi julukan seorang pun dari sahabat. Karena persahabatan dengan Rasulullah Saw memiliki kehormatan istimewa. Karenanya tidak boleh memberi gelar kepada mreka yang kesannya lebih istimewa dari gelar sahabat. Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa para sahabat adalah teladan kaum sufi dalam hal kezuhudan, ibadah, tawakal, fakir, ridha, kesabaran dan ketaatan kepada Allah Swt. Mereka memperoleh semua itu karena barokah persahabatan mereka dengan Rasulullah Saw.

Namun demikian, bukan berarti istilah sufi belum pernah dikenal sejak permulaan Islam. Bahkan ada indikasi bahwa istilah sufi sudah dikenal sejak paruh kedua abad pertama hijriyah, yaitu di masa Hasan Al-Bashri. Hasan Al-Bashri telah mengikuti masa sekian banyak sahabat Nabi Saw. dalam satu riwayat beliau berkata, “aku pernah melihat seorang sufi berthawaf di Baitullah, lalu aku memberinya sesuatu, tetapi ia menolak untuk mengambilnya dan berkata, ‘aku memiliki empat daniq, yang cukup untuk keperluanku’”.

Bahkan dalam riwayat lain, ada indikasi bahwa istilah sufi dikena sejak paruh pertama abad pertama hijriyah. Sejarawan Abu Mikhnaf Luth ibn Yahya Al-Kufi telah meriwayatkan dari Urwah ibn Al-Zubair bahwa seorang lelaki dari suku Udzrah telah mengajukan pengaduan kepada Khalifah Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, tentang ulah gubernurnya, Ibn Ummi Al-Hakam, yang memaksa lelaki itu untuk menceraikan istrinya. Sang gubernur Ibn Ummi Al-Hakam tertarik untuk menikahi istri lelaki itu, karena parasnya yang cantik. Lalu Mu’awiyah mengirim surat teguran keppada gubernur berupa bait syair, “engkau tak ubahnya seorang sufi yang memiliki banyak ajaran, dari sekian kewajiban atau ayat-ayat Al-Qur’an”

Ada juga riwayat lain yang mengindikasikan bahwa istillah sufi telah dikenal sejak masa jahiliyyah. Dalam sebuah kitab yang menghimpun tentang sejarah mekkah, terdapat riwayat dari sejarawan Muhammad ibn Ishaq ibn Yasar. Dia mengutip sebuah kisah bahwa sebelum Islam datang, sewaktu-waktu kota Makkah sepi sampai tidak ada seorang pun yang melakukan thawaf. Lalu datanglah seorang laki-laki sufi dari negeri jauh. Setelah selesai melakukan thawaf ia segera pulang. Menurut Al-Saraj, jika informasi ini benar maka dapat menjadi bukti bahwa istilah sufi telah dikenal sejak masa sebelum Islam menjadi nama bagi mereka yang menjalani keshalihan dan keutamaan.

Sebagai julukan (laqab) bagi seseorang, pada permulaan abad ke-2 H, julukan sufi pertama kali diberikan kepada seorang yang dikenal zuhud, menjalani riyadhah dan pakar dalam bidang kimia dari kuffah, yaitu Jabir ibn Hayyan al-Shufi.Dalam konteks keilmuan, istilah sufi telah digunakan oleh kalangan sufi sejak paruh pertama abad ke-2 H. Hal ini setidaknya dapat diketahui dengan memperhatikan riwayat Al-Hafidz Abu u’aim Al-Ashfahani dari Imam Ja’far ibn Muhammad As-Shadiq yang pernah berkata, “barang siapa menjalani kehidupan Rasul Saw secara lahir, maka ia seorang sunni. Dan barang siapa menjalani kehidupan Rasul Saw secara batin, maka ia seorang sufi.”

Al-Sarraj  juga meriwayatkan dari seorang tokoh sufi, murid Hasan Al-Bashri, yaitu Abdul Wahid ibn Zaid yang pernah ditanya “siapakan sufi itu menurut anda?” ia menjawab “orang yang memfungsikan akal untuk cita-cita, menekuni cita-cita dengan hati dan berlindung kepada Tuhan dari keburukan hawa nafsu”.