Ruqyah Aswaja Syirik? Hukum Kerjasama dengan Jin


Setelah mereka membidahkan Yasin Tahlil, memvonis syirik terhadap ziarah ke makam para wali, ranah lainnya yang tak kalah sengit adalah Ruqyah (Suwuk). Mereka menangani orang kesurupan setelah jin ditanya mengapa mengganggu orang ini, jin tersebut menjawab: "Orang ini sering datang ke kuburan, sering baca Rotib, Hizib, istighosah, dan lainnya".

Artinya melalui praktik yang mereka sebut sebagai Ruqyah Syar'iyyah mereka gunakan untuk memberantas TBC (Takhayul, Bid'ah dan Churafat) versi mereka, tentunya agar berpindah menjadi pengikut mereka.

Mereka pun memvonis syirik pada Ruqyah Aswaja karena saat sebelum melakukan ruqyah massal, para ustadz kita membaca Tawassul, ada ada yang menggunakan kertas dengan tulisan ayat Al-Qur'an (jimat).

Tentu tuduhan ini tidak benar. Masalah Tawassul dan jimat masuk dalam daftar khilafiyah Ulama. Sekali lagi dalam Ruqyah Aswaja tetap berpedoman pada hadis:

ﻋﻦ ﻋﻮﻑ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ اﻷﺷﺠﻌﻲ، ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺎ ﻧﺮﻗﻲ ﻓﻲ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ ﻓﻘﻠﻨﺎ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻛﻴﻒ ﺗﺮﻯ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻓﻘﺎﻝ: «اﻋﺮﺿﻮا ﻋﻠﻲ ﺭﻗﺎﻛﻢ، ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﺎﻟﺮﻗﻰ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﺷﺮﻙ»

Dari Auf bin Malik Al-Asyjai bahwa: "Kami melakukan Ruqyah di masa jahiliah. Wahai Rasulullah apa pendapatmu?" Nabi menjawab: "Perlihatkan Ruqyah kalian kepadaku. Tidak apa-apa dengan Ruqyah, selama tidak ada kesyirikan di dalamnya." (HR Muslim)

Mereka juga keras melarang menggunakan jin sebagai media untuk menghadapi jin yang lain. Benarkah demikian? Berikut pendapat dari ulama mereka sendiri:

فقد ذكر شيخ الإسلام ابن تيمية في دقائق التفسير أن استخدام الإنس للجن على ثلاثة أقسام : الأول : ما يكون محرماً ، وذلك كالاستعانة بهم في المحرمات ، من الشرك والفواحش والقول على الله بلا علم. الثاني: ما يكون مباحاً ، وذلك كمن يستخدمهم في أمور مباحة ، كإحضار ماله ، أو دلالته على ما ليس له مالك معصوم ، أو دفع من يؤذيه ، ونحو ذلك من الأمور المباحة. الثالث: أن يستعملهم في طاعة الله ورسوله فيأمرهم بما أمر الله به ورسوله ، كما يأمر الإنس وينهاهم ، وهذه حال نبينا صلى الله عليه وسلم ، وحال من اتبعه واقتدى به من أمته وهم أفضل الخلق.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menuturkan dalam Daqa’iq Al-Tafsir bahwa hukum memperbantukan jin oleh manusia ada tiga model. Pertama, memperbantukan yang diharamkan. Yaitu seperti meminta tolong kepada jin untuk melakukan perbuatan yang diharamkan; syirik, mesum, dan bicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu. Kedua, memperbantukan yang mubah. Hal itu seperti memperbantukan jin dalam perkara yang hukumnya mubah, seperti mengembalikan harta benda atau menunjukkan posisi benda yang tidak dimiliki seseorang yang maksum, atau menolak bahaya dari orang jahat, dan lainnya dari perbuatan yang diperbolehkan syariat. Ketiga, memperbantukan jin dalam urusan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah. Seseorang memerintahkan jin menjalankan perintah Allah dan Rasulullah, sebagaimana ia memerintahkan dan melarang manusia. Yang terakhir ini adalah akhlak Nabi kita SAW, orang yang mengikuti beliau, dan orang yang diikuti oleh umat beliau. Mereka adalah makhluk Allah yang paling utama. (FB/Ma'ruf Khozin)