Ragam Cara Penerimaan dan Penyampaian Hadis


Dalam ilmu hadis kita mengenal istilah tahammul dan ada’. Tahammul adalah proses penerimaan hadis yang dilakukan oleh seorang rawi, sedangkan ada’ adalah proses penyampaian hadis yang biasa dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya, atau seorang rawi. Format atau simbol (shighat) tahammul dan ada’ menjadi tanda apakah hadis itu bersambung atau tidak.

Dalam tradisi periwayatan hadis, ada banyak metode dan cara menyampaikan dan menerima hadis. Berikut beberapa cara yang sudah dirumuskan dan ditulis oleh para ulama hadis dalam kitab-kitab ilmu hadis;

  1. as-sama’ min lafdzi-s-syaikh (mendengar dari perkataan guru)
  2. al-qira’ah ‘ala-s-syaikh (murid membaca kepada guru)
  3. al-ijazah (mengijinkan seseorang untuk menyampaikan sebuah hadis atau kitab)
  4. al-munawalah (menyerahkan kepada seseorang bahan tertulis untuk diriwayatkan)
  5. al-kitabah (menuliskan hadis kepada seseorang)
  6. al-i’lam (seorang guru mengabarkan kepada muridnya bahwa ia mendengar suatu hadis
  7. al-washiyyah (mewasiatkan suatu kitab kepada orang lain tentang hadis yang telah diriwayatkannya)
  8. al-wijadah (menemukan suatu tulisan dari seseorang yang di dalamnya terdapat hadis)

Lalu pertanyaannya, mengapa para ulama sampai sedetil itu merumuskan shighat atau bentuk penerimaan serta penyampaian hadis?

Ulama merumuskan detail-detail kecil shighat tahammul dan ada’ karena ingin memastikan sumber sebuah periwayatan. Delapan cara yang disebutkan di atas memiliki konsekuensi dalam penentuan kualitas hadis yang diriwayatkan. Misalnya: kalau sebuah hadis didapatkan seseorang dari langsung mendengar gurunya, maka hadisnya kemungkinan besar sahih. Namun jika seseorang mendapatkan hadis dari cara al-wijadah, riwayat yang dimilikinya tidak bisa didaku dan harus terlebih dahulu diuji kesahihannya.

Itulah cara-cara penerimaan dan penyampaian hadis yang sudah bergulir dalam tradisi periwayatan ulama hadis.