Pandangan Syekh Ibnu Taimiyyah Tentang Kaum Sufi


Sufisme mempunyai sejarah panjang dalam kehidupan umat Islam. Dalam rentang itu, posisinya selalu diperdebatkan. Sebagian kelompok secara berlebihan mencelanya tanpa melihat kebaikannya sama sekali. Sebagian lainnya, memujinya tanpa memperhatikan sedikit pun kekurangannya. Sebagian lagi memilah antara sufisme yang benar dan sufisme yang menyimpang.

Hari ini, sebagian umat Islam di Indonesia memandang sinis terhadap kaum sufi. Mereka mengaku mengikuti pandangan Syekh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H.). Padahal, mereka tidak memahami dengan baik pandangan beliau. Pandangan Syekh Ibnu Taimiyyah sangat objektif. Pendapat-pendapat yang saling berseberangan dihadirkan. Baik yang mendukung kaum sufi maupun yang menolaknya. Lalu, menyikapi perbedaan pendapat tentang kaum sufi, Syekh Ibnu Taimiyyah berpendapat,

وَ " الصَّوَابُ " أَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَمَا اجْتَهَدَ غَيْرُهُمْ مِنْ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ فَفِيهِمْ السَّابِقُ الْمُقَرَّبُ بِحَسَبِ اجْتِهَادِهِ وَفِيهِمْ الْمُقْتَصِدُ الَّذِي هُوَ مِنْ أَهْلِ الْيَمِينِ وَفِي كُلٍّ مِنْ الصِّنْفَيْنِ مَنْ قَدْ يَجْتَهِدُ فَيُخْطِئُ وَفِيهِمْ مَنْ يُذْنِبُ فَيَتُوبُ أَوْ لَا يَتُوبُ.

Pendapat yang tepat adalah mereka (kaum sufi) merupakan orang-orang yang berusaha tulus lagi bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sebagaimana kelompok Muslim taat lain bersungguh-sungguh. Di antara para sufi itu adalah yang terdepan dan terdekat dengan Allah sesuai kesungguhan mereka. Di antara mereka ada pula yang sedang-sedang saja. Mereka ini adalah Ahlul Yamin (kebaikan). Masing-masing dari kedua kelompok ini ada orang yang terkadang bersungguh-sungguh, lalu melakukan kesalahan. Di antara mereka juga ada orang yang melakukan dosa, lalu bertaubat atau belum bertaubat. (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 11, hlm. 18). 

Syekh Ibnu Taimiyyah kemudian menjelaskan macam-macam kaum sufi. Karena faktanya terdapat banyak sekali golongan di kalangan mereka. Bahkan ada oknum menyimpang yang menyebut dirinya sebagai sufi. Penisbatannya pada kaum sufi ini telah ditolak oleh para ulama yang benar-benar ahli dalam ilmu tasawwuf seperti Syekh Junaid Al-Baghdadi, Syekh Abu Abdurraham Al-Sulami Syekh Khatib Al-Baghdadi. Syekh Ibnu Taimiyyah kemudian menjelaskan bahwa kaum sufi memiliki tiga golongan:

Pertama, sufi hakiki (shufiyah al-haqaiq). Mereka adalah kaum sufi yang benar-benar tulus beribadah kepada Allah dan menjalankan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya sejauh kemampuannya. Mereka seperti yang sudah digambarkan di atas. Menurut Ibnu Taimiyyah, sufi hakiki adalah makhluk langka. Kebanyakan tidak mendirikan lembaga kesufian.

Kedua, sufi rejeki (shufiyah al-arzaq). Yaitu orang-orang yang mendapatkan rejeki dengan mengelola lembaga kesufian, seperti pemondokan sufi (al-khawanik). Mereka adalah orang-orang yang baik selama memenuhi tiga syarat. Pertama, menjalankan kewajiban syariat, seperti melaksanakan amal-ibadah wajib dan menjauhi perkara yang diharamkan syariat. Kedua, mereka menjalankan adab-adab ahli thariqah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Ketiga, tidak berlebihan dalam urusan duniawi. Jika sebaliknya, seperti gemar menumpuk kekayaan, tidak mengindahkan akhlakul karimah, serta tidak mempedulikan adab-adab syar’i, maka ia tidak layak mendapatkan kebaikan ini.

Ketiga, sufi simbolis (shufiyah al-rasm). Yaitu orang-orang yang tujuannya dalam menapaki jalan sufi hanya untuk mendapatkan simbol kesufian, seperti pakaian sufi, bicara dengan bahasa para sufi, serta bertingkah seperti para sufi sehingga orang awam akan menganggapnya sebagai sufi padahal sejatinya bukan (Majmu’ Al-Fatawa, jilid 11, hlm. 20). 

Demikian pandangan Syekh Ibnu Taimiyyah terhadap kaum sufi. Semoga setelah membaca ini, mereka yang suka mengutip perkataan para imam terdahulu untuk menjelek-jelekkan kaum sufi dapat lebih bersikap bijaksana. Tidak sembarangan dalam menilai suatu kelompok. Karena, sebagai sebuah kelompok, terdapat banyak golongan di dalamnya. Semoga kita terhindar dari berbicara yang tidak baik serta dapat mengamalkan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari). (M. Khoirul Huda)