Pancasila Bukan Agama, Menerimanya Tidak Bikin Syirik


Setelah tersebar rencana pembebasa Abu Bakar Ba’asyir, banyak akun media sosial yang mengkampanyekan Pancasila adalah paham syirik, karena itu bertentangan dengan tauhid Islam. Pemahaman yang menyatakan Pancasila syirik berangkat dari asumsi bahwa Pancasila adalah agama. Menerima Pancasila sama dengan menerima agama selain Islam. Padahal, agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Di sinilah syirik itu timbul.

Paham”Pancasila sebagai agama” adalah mengada-ada, semaunya sendiri, tidak merujuk kepada pengertian yang diyakini mayoritas umat Islam Indonesia tentang Pancasila. Umat Islam di Indonesia hanya menempatkan Pancasila sebagai dasar falsafah dalam kehidupan bernegara. Bukan sebagai agama. Hal ini dapat dilihat dalam pandangan dua ormas terbesar di Indonesia terkait posisi Pancasila.

Pada tahun 1983, Nahdlatul Ulama (NU) telah menegaskan bahwa Pancasila bukan agama. Dalam dokumen Deklarasi Hubungan Pancasila dan Islam dikatakan bahwa “Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama”.Pada tahun 2015, Muhammadiyah menegaskan bahwa Pancasila bukan agama. Dalam dokumen berjudul “Negara Pancasila Sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah”, disebutkan “Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia adalah ideologi negara yang mengikat seluruh rakyat dan komponen bangsa. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam, yang menjadi rujukan ideologis dalam kehidupan kebangsaan yang majemuk. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Pancasila itu Islami karena substansi pada setiap silanya selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.”  

Kedua dokumen di atas merupakan pernyataan penting yang mewakili sikap mayoritas umat Islam di Indonesia terhadap Pancasila. NU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas yang di dalamnya bergabung ratusan juta penduduk Indonesia. Anggotanya terdiri dari para ulama dan umat Islam yang terus berusaha menjalankan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Mereka adalah umat Islam mayoritas di negeri ini. Ulamanya juga terbanyak. Tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesyirikan. Mereka adalah al-jama’ah kelompok tempat keselamatan ketika terjadi perselihan dalam masalah akidah. Rasulullah SAW memerintahkan agar kita mengikuti al-jama’ah dan berusaha tidak memisahkan diri. Rasulullah SAW bersabda, ittabi’u as-sawaad al-a’zham fa innahu man syadzdza syadzdza fi an-nar. Ikutilah golongan ulama terbesar. Orang yang memisahkan diri, ia akan memisahkan diri di neraka (HR Ibnu Majah). Rasulullah SAW juga pernah bersabda, inna allah la yajma’ ummati ‘ala dhalalatin wa yadullahi ‘ala al-jama’ah wa man syadzdza syadzdza fi an-nar. Allah tidak akan membuat umatku sepakat dalam kesesatan. Perlindungan Allah diberikan kepada al-jama’ah. Orang yang memisahkan diri, dia akan memisahkan diri di neraka (HR Al-Tirmidzi). Dalam kitab Umdatul Qari Syarah Shahih Al-Bukhari, Syekh Badruddin Al-Aini menjelaskan bahwa al-Jama’ah dalam hadis di atas adalah para ulama. Demikian pula as-sawad al-a’zham adalah golongan para ulama yang banyak. Berdasarkan keterangan ini, tidak mungkin mayoritas ulama di Indonesia sepakat dalam kesesatan dan kesyirikan karena telah menerima Pancasila. Pancasila bukan agama. Ia hanya merupakan dasar dan falsafah Negara dan sesuai dengan ajaran Islam. Wallahu a’lam.

(M. Khoirul Huda)