Menyentuh Lawan Jenis Tidak Membatalkan Wudhu Kecuali Memenuhi Empat Syarat Ini

Selasa, 11 Desember 2018 diskusi 349 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Salah satu perkara yang bisa membatalkan wudhu adalah terjadinya persentuhan kulit antara lawan jenis, laki-laki dan perempuan. Jika terjadi persentuhan antara keduanya, baik disengaja atau tidak, maka wudhu keduanya menjadi batal. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Nisa’ ayat 43 berikut;

أَوْلاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ

atau kalian telah menyentuh perempuan.”

Melalui ayat ini, ulama Syafiiyah mengatakan bahwa persentuhan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan dapat membatalkan wudhu.  Namun demikian, persentuhan ini dapat membatalkan wudhu bila memenuhi empat syarat berikut;

Pertama, tidak ada ikatan mahram antara keduanya. Jika ada ikatan mahram, maka persentuhan antara keduanya tidak membatalkan wudhu.

Kedua, anggota yang disentuh atau tersentuh antara kulit dan kulit, bukan rambut, kuku atau gigi. Bila hanya menyentuh rambut, atau menyentuh dengan kuku, maka wudhu keduanya tidak batal.

Ketiga, terjadi persentuhan langsung antara kulit laki-laki dan perempuan, tanpa ada penghalang seperti kain, plastik dan lain sebagainya. Jika ada penghalang, maka wudhu keduanya tidak batal.

Keempat, keduanya sudah mencapai batasan umur yang sudah bisa disukai lawan jenisnya atau disebut dengan haddun yusytaha. Bila keduanya atau salah satu belum mencapai batasan umur yang sudah bisa disukai lawan jenis, maka wudhu keduanya tidak batal.

Ulama berbeda pendapat terkait batasan umur yang sudah bisa disukai lawan jenis ini. Menurut Syaikh Al-Sunbulawini, seorang laki-laki dan perempuan sudah mencapai haddun yusytaha jika sudah berumur 7 tahun ke atas. Imam Abu Hamid mengatakan 4 tahun, sementara ada ulama lain mengatakan 6 tahun.

Namun pendapat yang paling shahih dan diikuti kebanyakan ulama, bahwa yang menentukan seseorang sudah mencapai umur hadd yusytaha adalah urf atau kebiasaan. Artinya, jika menurut kebiasaan seorang anak laki-laki atau perempuan telah dianggap menimbulkan syahwat, maka menyentuhnya sudah membatalkan wudhu. Sebaliknya, jika belum dianggap menimbulkan syahwat, maka belum mencapai usia haddun yusytaha. Karena itu, tidak membatalkan wudhu jika menyentuhnya. (Jurianto).