Mengenal Konsep Mubadalah

Selasa, 16 April 2019 diskusi 511 klik
Faza Grafis:Faza

Mubadalah dalam kamus al-Ma’ani artinya mengganti, pertukaran atau barter, baik bersifat fisik seperti perdagangan atau non fisik seperti tenggang rasa. Kata mubadalah sendiri digunakan lebih kepada gerakan perlawanan segala bentuk nilai yang sifatnya hegemonik dan tiran.

Prinsip dasar mubadalah  ada dua. Pertama, laki-laki dan perempuan adalah sama-sama hamba Allah. Kedua, laki-laki dan perempuan adalah sama-sama khalifah di muka bumi.

Kemudian, ada 3 pesan Islam di dalam buku ”Mubadalah”: Mabadi’  (untuk seluruh sendi kehidupan) yakni, pondasi ajaran Islam sepeti yang tertuang dalam maqasid al-syari’ah. Qawa’id  (untuk sendi kehidupan tertentu) yakni, prinsip-prinsip umum dalam bidang tertentu kehidupan. Seperti politik dan jual beli. Juz’i (ajaran partikular sehari-hari), juz’i sendiri tidak boleh bertentangan dengan mabadi’ dan qawa’id.

Selama ini kita hanya mengenal konsep tentang istri salihah untuk seorang suami. Tetapi jarang sekali dikenalkan dengan konsep suami saleh untuk istri. Sering pula ditanamkan sebuah asumsi bahwa perempuan adalah penggoda dan penebar pesona (fitnah). Sedangkan kita lupa kalau laki-laki juga termasuk penggoda dan penebar pesona. Selain itu sering juga disematkan apresiasi tersendiri bahwa laki-laki adalah bapak rumah tangga, padahal kita lupa bahwa ibu pun bisa menjadi kepala rumah tangga dan mampu juga untuk mencari nafkah. Bahkan terkadang menafikan bahwa perempuan mampu menjadi penopang bagi keluarganya. Untuk hal-hal ini perspektif Mubadalah penting untuk dihadirkan.

QS. Al-Nisa ayat 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ ...

Kaum laki-laki (suami) itu adalah pelindung bagi kaum wanita  (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada,...”

Pertama dari kata الرجال (laki-laki), Prof. Dr. Musdah Mulia dalam suatu forum diskusi menjelaskan bahwa kata الرجال disini maknanya definit (the man/tertentu) bukan bermakna “man”, (dalam artian hanya lelaki tertentu yang bisa memimpin wanita tertentu). Jadi ketika laki-laki yang bejat perangainya maka tentunya tidak dapat dikategorikan sebagai pemimpin. Laki-laki yang menjadi pemimpin di sini haruslah memiliki kualitas yang baik (baik itu dari segi agama, finansial, dan sebagainya). Dalam hal ini juga wanita bisa menjadi pemimpin dalam keluarganya jika memiliki kualitasnya yang baik. Pemimpin bagi anak-anaknya sebagai ibu rumah tangga. Sebagaimana dalam hadis ditegaskan bahwa:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi keluarganya, dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku”

Kedua, kata قَانِتَاتٌ (taat), taat yang dimaksud disini hanya pada Allah dan taat pada suami disini yaitu pada nilai-nilai yang tidak bertentangan dengan agama, implementasinya itu akan timbul sifat jujur, hormat dan segala yang baik-baik. begitupun sebaliknya bagi laki-laki.  

Mengapa Mubadalah  penting? Karena kehidupan ini diperuntukkan tidak hanaya bagi laki-laki saja melainkan perempuan juga serta manfaatnya harus dirasakan oleh keduanya. Ayat-ayat yang kelihatannya menunjukkan pemaknaannya pada laki-laki sebenarnya berlaku pula bagi perempuan sedangkan yang terjadi sekarang teks-teks lebih banyak yang dilihat laki-laki sebagai subjek sedangkan perempuan sebagai objek, padahal teks-teks harus dibaca dengan baik untuk memperoleh kebaikan dari keduanya. (Jung Nurshoba)