Mengenal Istilah dan Jenis “Mukhannas” dalam Islam


Dalam fiqih Islam, setidaknya terdapat dua macam penyebutan orang dengan karakteristik seksual yang berbeda dengan biasanya, seperti laki-laki dengan segala sifat maskulin dan machonya, pun perempuan dengan sifat-sifat femininnya. Ada yang disebut sebagai khunsa dan ada juga yang disebut sebagai muhkannats. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, dan memiliki konsekuensi yang berbeda pula.

Mukhannas, mudahnya adalah mereka yang memiliki kejelasan kelamin namun bersikap layaknya lawan jenis. Ada laki-laki yang bergerak, berbicara, bersikap dan bertingkah laku layaknya perempuan. Definisi ini dipertegas oleh pendapat Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim yang menjelaskan pria yang menyerupai wanita, baik dalam hal tutur kata, pakaian, gaya berjalan hingga penampilan fisik, disebut mukhannas, dan mukhannas itu ada dua jenis, yaitu:

Pertama, hal itu memang sifat asal atau pembawaannya bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan dirinya untuk bertabiat dengan tabiat wanita, bersengaja memakai pakaian wanita, berbicara seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaannya yang Allah SWT memang menciptakannya seperti itu. Mukhannats yang seperti ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tidak ada dosa serta hukuman baginya karena ia diberi uzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi SAW pada awalnya tidak mengingkari masuknya mukhannats menemui para wanita dan tidak pula mengingkari sifatnya yang memang asal penciptaan atau pembawaannya demikian. Yang beliau ingkari setelah itu hanyalah karena mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita (gambaran lekuk-lekuk tubuh wanita) dan beliau tidak mengingkari sifat pembawaannya serta keberadaannya sebagai mukhannats.

Kedua, mukhannats yang sifat kewanita-wanitaannya bukan asal penciptaannya bahkan ia menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita seperti berbicara dan berpakaian dengan pakaian mereka. Mukhannats seperti inilah yang tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dalam Hadis-hadis yang sahih. Adapun mukhannats jenis pertama tidaklah terlaknat karena seandainya ia terlaknat niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkannya pada kali yang pertama.” (Syarah Shahih Muslim, 14/164).

Keberadaan banci ini lebih karena faktor lingkungan, sebab, faktor ini yang sangat besar pengaruhnya terjadi saat perkembangan mulai dari kanak-kanak hingga dewasa parahnya hal semacam ini sudah di anggap lazim di lingkungan kita sehingga gampang ditiru alhasil media massa sangat membantu kelaziman tersebut. Terang saja bagi mereka yang sudah bakat ingin jadi waria merasa nyaman karena dukungan lingkungannya. Adapun alasan menjadi waria adalah karena faktor ekonomi, yang tadinya hanya untuk mencari uang akhirnya keterusan karena tidak luput dari lingkungan atau media masa yang mengeksploitasi keberadaan mereka.

Namun seperti yang dikatakan al-Haidz rahimahullah, mukhannats jenis pertama tidaklah masuk dalam celaan dan laknat, apabila ia telah berusaha meninggalkan sifat kewanita-wanitaannya dan tidak menyengaja untuk terus membiarkan sifat itu ada pada dirinya. Dalam Sunan Abu Dawud dibawakan Hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud no. 3575. asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata: Hadis ini hasan dengan syarat Muslim).

Bila penyerupaan tersebut belum sampai pada tingkatan perbuatan keji yang besar seperti si mukhannats berbuat mesum (liwath/ homoseks) dengan sesama lelaki sehingga lelaki itu “mendatanginya” pada duburnya atau si mutarajjilah berbuat mesum (lesbi) dengan sesama wanita sehingga keduanya saling menggosokkan kemaluannya, maka mereka hanya mendapatkan laknat dan diusir seperti yang tersebut dalam Hadis di atas. Namun bila sampai pada tingkatan demikian, mereka tidak hanya pantas mendapatkan laknat tapi juga hukuman yang setimpal.