Memahami Term “Khunsa” dalam Islam

Rabu, 8 Januari 2020 diskusi 470 klik
Faza Grafis:Faza

Pernah mendengar berita orang dengan kelamin ganda? Mempunyai kelamin laki-laki dan juga perempuan? Di dalam Islam ini disebut Khunsa. Khunsa menurut ahli bahasa Arab, dalam kamus Al-Munjid dan Kamus Al-Munawir, diambil dari kata “takhannuts” yang berarti “mendua” dan “terpecah”, yaitu lemah dan pecah. Menurut Ensiklopedi Hukum Islam, khunsa adalah seseorang yang diragukan jenis kelaminnya apakah laki-laki atau perempuan karena memiliki alat kelamin secara bersamaan ataupun tidak memiliki alat kelamin sama sekali, baik alat kelamin laki-laki atau perempuan. Dalam Mu’jam Lughat al-Fuqaha’, karya Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Jie, disebutkan bahwa khunsa adalah al-ladzi lahu alat ad-dzakari wa alat al-untsa (orang yang mempunyai kelamin pria dan wanita).

Imam al-Syai’i juga mempunyai pengertian tentang Khunsa, yaitu seseorang yang memiliki kelamin laki-laki dan kelamin perempuan atau seseorang yang tidak memiliki kelamin laki-laki dan kelamin perempuan, ia hanya memiliki liang untuk kencing.

Menurut Ibnul Arabi, yang namanya “khunsa” itu ada dan dia mempunyai hukumnya tersendiri, selama dia tidak bisa dimasukkan atau dikelompokkan ke dalam salah satu jenis kelamin: laki-laki atau perempuan. Adapun jika dia sudah bisa digolongkan ke dalam salah satu jenis kelamin, maka dia dihukumi dengan salah satu jenis kelamin tersebut; laki-laki atau perempuan.

Khunsa dibagi lagi menjadi dua;

  1. Khunsa ghairu musykil (khunsa identik) yaitu orang yang terlahir dengan dua alat kelamin sekaligus, namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan, yaitu orang yang jelas tanda-tanda kelelakiannya (maskulinitas) atau tanda-tanda keperempuanannya (feminitas). Tanda-tanda ini bisa dilihat secara fisik, mana yang lebih dominan. Untuk yang belum baligh, biasanya dilihat dari saluran mana dia kencing. Jika air kencing keluar dari kemaluan laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan, jika keluar dari kelamin perempuan, maka dihukumi sebagai perempuan. Adapun setelah baligh, jika dia mimpi junub, dan penisnya lebih menonjol dari sebelumnya, suaranya lantang, menyukai tantangan, keluar jenggot atau kumis, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Adapun jika dia mengalami menstruasi, payudaranya membesar, suaranya lembut, menyukai permainan atau aktivitas yang cenderung disukai wanita, suka berdandan, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai perempuan.
  2. Khunsa musykil (khunsa tidak identik atau sulit diidentifikasi) yaitu seseorang yang sulit mengenal statusnya, karena sulit, samar dan unik tidak seperti umumnya. Sesuai namanya, khunsa musykil (sulit) terlahir dengan dua kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Untuk kasus ini dikembalikan kepada para ulama dan medis untuk menentukan status kelaminnya (memiliki rahim atau tidak), yaitu orang/ khunsa yang mempunyai tanda-tanda maskulinitas dan feminitas dalam dirinya, misalnya; dia buang air kecil dari saluran kencing perempuan dan laki-laki secara bersamaan, atau tumbuh jenggot dan payudara dalam satu waktu; sehingga tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan. Namun demikian, jika seorang khuntsa musykil mengaku sebagai laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan, jika dia mengaku sebagai perempuan, maka dia dihukumi sebagai seorang perempuan.

Dalam al-Mausu’ah al-Fikihiyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan, “Siapa yang tampak jelas pada dirinya tanda-tanda maskulin atau feminin, maka diketahui bahwa dia adalah laki-laki atau perempuan. Yang seperti ini, bukan khunsa yang musykil (sulit). Karena sesungguhnya dia adalah lelaki yang memiliki anggota tubuh (kelamin) tambahan, atau perempuan yang memiliki anggota tubuh (kelamin) tambahan. Hukum khunsa jenis ini dalam masalah waris dan dalam semua masalahnya adalah sesuai dengan hukum yang tampak pada tanda-tanda yang ada padanya.”