Lima Pujian Ibnu Taimiyyah Terhadap al-Ghazali


Seakan semakin banyak saja Muslim awam yang gemar mencaci ulama. Sikap gemar mencaci ulama ini sebenarnya sikap yang salah kaprah karena tidak mencerminkan akhlakul karimah yang merupakan pilar utama ajaran Islam. Konon mereka mengikuti pendapat-pendapat Syekh Ibnu Taimiyyah Al-Harrani (w. 728 H.).  Ketika Ibnu Taimiyyah mengkritik sebagian kelompok atau tokoh yang menurutnya salah, sebagian orang hari ini bersikap ekstrem dan justru mengikutinya secara membabi buta. Padahal, Ibnu Taimiyyah sedang berusaha bersikap objektif terhadap posisi dan pemikiran seorang tokoh ulama Muslim atau suatu kelompok Muslim tertentu. Selain memberi kritik, ia juga memberi pujian.

Di antara kelompok yang menjadi sasaran kritik Ibnu Taimiyyah, lalu menjadi sasaran kebencian sebagian umat Islam hari ini adalah kaum sufi. Ibnu Taimiyyah, sekalipun ia seorang sufi, pengamal thariqah dan ketika meninggal dunia dimakamkan di pemakaman khusus kaum sufi, tetapi para pengikutnya banyak yang bersikap ekstrem dan seakan anti terhadap sufisme secara total. Mereka sama sekali tidak melihat sisi positif sufisme dan kaum sufi. Di antara tokoh sufi yang pemikirannya disikapi secara kritis dan objektif oleh Ibnu Taimiyyah adalah Imam Al-Ghazali. Ia mengeritik dan memuji Al-Ghazali. Tetapi orang yang mengaku mengikuti Ibnu Taimiyyah justru menghujat Al-Ghazali seakan tak ada kebaikannya sama sekali.

Al-Salabi dalam kitab Daulah Al-Salajiqah mencatat sejumlah pujian Ibnu Taimiyah terhadap al-Ghazali. Meskipun Ibnu Taimiyah sering mengkritik al-Ghazali dalam berbagai kesempatan serta mengutip pendapat para pengkritik al-Ghazali, tetapi ia terbilang cukup adil dan tidak lupa untuk memuji Al-Ghazali dengan sejumlah pernyataannya. Di antara pujian Ibnu Taimiyyah adalah sebagai berikut,

ولم يكن ممن يتعمد الكذب، فإنه كان أجل قدراً من ذلك، وكان من أعظم الناس ذكاء، وطلباً للعلم وبحثاً عن الأمور، ولما قاله كان من أعظم الناس قصداً للحق، وله من الكلام الحسن المقبول أشياء عظيمة بليغة، ومن حسن التقسيم والترتيب ما هو به من أحسن المصنفين لكن كونه لم يصل إلى ما جاء به الرسول من الطرق الصحيحة كان ينقل ذلك بحسب ما بلغه

Dia bukan orang yang dengan sengaja ingin berbohong. Derajatnya terlalu mulia untuk melakukan suatu kebohongan. Dia manusia paling agung dalam soal kecerdasan, pencarian ilmu pengetahuan dan pengkajian berbagai macam persoalan. Ketika dia mengatakannya, dia adalah orang yang paling besar dalam mencapai kebenaran.  Dia memiliki banyak sekali pendapat yang baik dan dapat diterima. Dari sudut klasifikasi dan sistematika pemikiran, dia adalah yang terbaik di antara para pengarang buku. Tetapi, ketika dia belum sampai pada hadis-hadis yang diriwayatkan melalaui jalur yang sahih, dia menukilnya sesuai dengan informasi yang datang kepadanya. (Bayan Talbis Al-Jahmiyyah Fi Ta’sisi Bida’ihim Al-Kalamiyyah, jilid 6, hlm. 125)

Ibnu Taimiyyah mengakui jasa Al-Ghazali dalam menolak pendapat para filsuf. Ia memujinya berulang-kali. Ketika para filsuf menafikan sifat-sifat Tuhan dengan argument strukturalistik berikut implikasinya, Al-Ghazali mengeritik mereka. Ibnu Taimiyyah menyetujui kritik Al-Ghazali tersebut. Dia mengatakan,

ما ذكره أبو حامد مستقيم مبطل لقول الفلاسفة وما ذكره ابن رشد إنما نشأ من جهة ما في اللفظ من الإجمال والاشتراك وكلامه في ذلك أكثر مغلطة من كلام ابن سينا الذي أقر بفساده وضعفه.

Pernyataan Al-Ghazali sudah benar dan sudah dapat mematahkan pendapat para filsuf. Pendapat Ibnu Rusyd masih penuh dengan generalitas dan ambiguitas. Pernyataannya dalam masalah itu lebih banyak bersifat sofistik dibanding pernyataan Ibnu Sina yang diakuinya mengandung kerancuan dan kelemahan. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql Wa Al-Naql, jilid 3, hlm. 402)

Ibnu Taimiyyah membela Al-Ghazali dari kritikan Ibnu Rusyd dalam beberapa pernyataannya. Dia mengatakan,

وهذه الطريق التي سلكها أبو حامد عن احتجاجهم بلفظ المركب جواب صحيح

Metode yang digunakan Abu Hamid untuk membantah argumen para filsuf yang menggunakan pernyataan tersusun adalah sebuah respon yang benar. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql Wa Al-Naql, jilid 3, hlm. 438)

وقد رد على أبي حامد في تهافت التهافت رداً أخطأ في كثير منه، والصواب مع أبي حامد ... وقد تكلمت على ذلك وبينت تحقيق ما قاله أبو حامد في ذلك من الصواب الموافق لأصول الإسلام، وخطأ ما خالفه من كلام ابن رشد وغيره من الفلاسفة، وإن ما قالوه من الحق الموافق للكتاب والسنة لا يرد، بل يقبل، وما قصر فيه أبو حامد من إفساد أقوالهم الفاسدة، فيمكن رده بطريق أخرى يعان بها أبو حامد على قصده الصحيح،

Ibnu Rusyd mengeritik Abu Hamid dalam kitab Tahafut Al-Tahafut dengan kritikan yang kebanyakan keliru. Kebenaran bersama Abu Hamid. Saya telah menjelaskan hal itu dan menegaskan kebenaran pendapat Abu Hamid dalam masalah itu yang memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip Islam dan kesalahan pendapat yang menyelisihinya dari pendapat Ibnu Rusyd dan para filosof lainnya. Pendapat para filosof yang benar dan sesuai Al-Quran dan Sunnah tidak perlu ditolak. Bahkan harus diterima. Kekurangan Abu Hamid dalam menghancurkan pemikiran para filosof yang rusak, masih mungkin didukung dengan argumen lain yang dapat membantu Abu Hamid mewujudkan misinya yang benar. (Minhaj Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, jilid 1, hlm. 356)

Ibnu Taimiyyah mendukung Al-Ghazali yang mengeritik pendapat Ibnu Sina tentang eksistensi Tuhan. Ibnu Taimiyyah berkata,

وهذا الوجه الذي ذكره أبو حامد أحسن فيه، وكنت قد كتبت على توحيد الفلاسفة ونفيهم الصفات كلاماً بينت فيه فساد كلامهم في طريقة التركيب قبل أن أقف على كلام أبي حامد، ثم رأيت أبا حامد قد تكلم بما يوافق ذلك الذي كتبته

Argumen yang diajukan Abu Hamid lebih bagus. Saya telah menulis tentang konsep tauhid kaum filosof dan penafian mereka terhadap sifat-sifat Tuhan, pembahasan yang menunjukkan kacaunya pendapat mereka dalam metode strukturalistik sebelum saya membaca pendapat Abu Hamid. Kemudian saya melihat Abu Hamid telah membahasnya dengan pembahasan yang sesuai dengan apa yang sudah saya tulis. (Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql Wa Al-Naql, jilid 8, hlm. 156)

Ibnu Taimiyyah menceritakan akhir hayat Al-Ghazali dimana ia menekuni kitab Sahih Al-Bukhari dan Muslim. Ia menulis,

واستقر أمره على التلقي من طريقة أهل الحديث، بعد أن أيس من نيل مطلوبه من طريقة المتكلمين والمتفلسفة والمتصوفة أيضاً

Al-Ghazali menetapi metode Ahli hadis setelah putus asa dari metode mutakallimin, filosof, dan para sufi.(Dar’u Ta’arudh Al-‘Aql Wa Al-Naql, jilid 6, hlm.210)

Demikian sejumlah pujian Ibnu Taimiyyah (w. 728 H.) terhadap Al-Ghazali (w. 505 H.). Tokoh besar dalam tasawuf yang pemikirannya masih diikuti oleh mayoritas umat Islam hari ini. Tokoh yang menjadi panutan sebagian Muslim hari ini justru tidak diteladani secara utuh kecuali sikap buruknya terhadap sesama Muslim lain. Wallahu a’lam.