Lima Macam Makna Kafir

Rabu, 6 Februari 2019 diskusi 1135 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Oleh: Habib Ali Al-Jifri*

Hari ini banyak orang menggunakan kata “Kafir”. Kata ini dihadapkan pada kekacauan permainan kata dalam wacana kontemporer. Sebagian orang cenderung kepada pengertian-pengertian ekstrem ketika menggunakan kata ini. Satu kelompok berlebihan dengan menggunakan kata ini kepada orang seagama yang memiliki pemahaman berbeda dalam perkara agama lebih-lebih orang yang beda agama. Sebagian lagi lebih ekstrem menggunakan kata tersebut untuk orang yang punya sikap politik berbeda dengan dirinya.

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim,

أيما رجل قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما

Setiap lelaki yang berkata kepada saudaranya, “Wahai, kafir”, maka kekafiran itu akan kembali kepada salah satunya. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim menambahkan dalam riwayat lain,

إن كان كما قال ، وإلا رجعت عليه

Jika kekafiran itu seperti yang dia katakan. Jika tidak, maka kekafiran itu akan kembali pada dirinya (HR Muslim)

Di antara mereka, ada yang lebih ekstrem lagi dengan menyebut konsekuensi kekafiran adalah diperangi dan dimusuhi. Seakan agama dibangun di atas paksaan. Atau sekadar kekafiran sudah otomatis membolehkan pembunuhan, dirusaknya harga diri dan harta benda. Ini adalah pemahaman batil dan bertentangan dengan firman Allah,

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Qs. Al-Baqarah: 256)

Keliru orang yang mengatakan ayat ini telah dinasakh, karena ayat ini turun di Madinah Al-Munawwarah setelah adanya izin dari Allah untuk memerangi orang-orang kafir yang memusuhi.

Kelompok lain juga mengambil sikap ekstrem dengan tidak mengakui adanya kata tersebut sekalipun jelas terdapat dalam teks Al-Quran. Mungkin dia sedang hidup dalam kondisi murtad sebagai bentuk perlawanan terhadap kecenderungan kelompok pertama. Dia tidak dapat membedakan antara kekafiran dan pembolehan memerangi.

Makna bahasa kata dasar “kufur” adalah tertutup. Seorang petani disebut kafir karena dia menutup benih dengan tanah.  Sebagaimana malam disebut kafir karena menutup segala sesuatu dengan kegelapan. Karena itu pula, penentangan disebut kufur karena pelakunya menutupi kebenaran dengan cara mengingkarinya. Aspal (dalam bahasa Arab) yang digunakan melapisi kapal disebut kufur. Debu tanah disebut kafir karena dia menutup segala yang terpendam di dalamnya. Begitu pula negeri yang jauh karena tidak kelihatan kasat mata, serta kampung kecil pedalaman karena tak pernah disebut-sebut. kata Kufur diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “Cover” dan digunakan untuk menyebut sebuah tutup.

Di sana ada pengertian syar’i (sebagaimana digunakan dalam Al-Quran dan Sunnah) dimana banyak orang dimana pengertiannya sering bercampur-baur dengan pengertian yang sehari-hari dalam penggunaan kata tersebut. Pengertian syar’i ini sangat perlu dijelaskan dan dihilangkan kesamarannya berikut konsekuensi duniawi dan ukhrawinya, sebagai berikut:

Ada perbedaan antara pengertian syar’i dan pengertian sehari-hari tentang kata kafir ini. Masyarakat Mesir, sebagai contoh, menggunakan kata kafir sebagai bentuk cacian terhadap orang yang sangat lalim dan keras dalam menentang sesuatu. Karena itu, dalam dialek Mesir anda akan menemukan ungkapan seperti “Duwal ‘Alam Kafarah” (Dunia internasional sangat lalim), “Ya Kafarah” (Wahai orang-orang lalim). Dan tentu saja, secara alamiah yang paling selamat adalah menjauhi ungkapan-ungkapan tersebut.

Pengertian sehari-hari punya tempat dalam syariat dimana syariat mendorong untuk bersikap toleran dalam penggunaannya. Karena itu, Amirul Mukminin Umar bin Khatab menerima persyaratan suku Bani Taghlib agar menyebut pajak yang dibebankan mereka sebagai sedekah. Pajak bagi mereka mengandung unsur penghinaan yang tidak pantas karena kedudukan mereka yang terhormat di antara suku-suku Arab.

Pengertian syar’i kata kafir terdapat lima macam:

Pertama, kufrun duna kufrin (kekafiran di bawah kekafiran). Istilah kafir semacam ini digunakan untuk menakut-nakuti. Pelakunya tidak keluar dari Islam. Tetapi dia dianggap melakukan perbuatan yang mengandung semacam penentangan saat berinteraksi dengan sesama.  Sebagaimana perkataan Nabi SAW,

اثنتان في الناس هما بهم كفر : الطعن في النسب ، والنياحة على الميت

Dua perkara di masyarakat yang menyebabkan kekufuran, mencela nasab dan meratapi mayit. (HR. Muslim)

Mencela nasab dan meratapi mayit merupakan kemaksiatan yang mengandung unsur penentangan. Tetapi ia tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Pelakunya adalah Muslim yang berdosa dan bermaksiat (sekalipun dalam teks hadis disebut “kufur”).   

Kedua, kafir munafiq (menyembunyikan kekafiran). Yaitu orang yang menampakkan identitas keislaman namun menyembunyikan kekafirannya. Hukumnya selama di dunia adalah hukum seorang Muslim. Karena isi hati termasuk perkara gaib, sedangkan hukum syariat di dunia diterapkan untuk amaliah lahir. Prinsip pergaulan dengan sesama adalah mengedepankan baik sangka dan mengasumsikan dia jujur kecuali jika ada bukti menunjukkan sebaliknya. Kaum munafikin shalat di belakang Nabi SAW, beliau mengetahui itu dan tidak melarang mereka ikut shalat. Meneliti niat dan motif seseorang tidak menjadi perhatian kita.

Banyaknya hadis-hadis yang menyebutkan sifat-sifat kaum munafik adalah agar kita waspada dan tidak terjatuh ke dalamnya sehingga penyakit nifaq tidak merembet masuk ke dalam hati kita. Waliyadzu billah. Di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW, 

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

Tanda orang munafik ada tiga. Ketika bicara, dia dusta. Ketika berjanji, dia mengingkari. Ketika dipercaya, dia mengkhianati. (HR Al-Bukhari).

Orang yang berulang kali melakukan perbuatan-perbuatan di atas, maka dia telah berkarakter dengan karakter orang munafik. Sedangkan hukum ukhrawi bagi orang munafiq dia adalah kafir.

إن المنافقين في الدرك الأسفل من النار

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (Qs. An-Nisa’: 145)

Ketiga, kafir bi jahalah (kafir karena ketidaktahuan). Ini adalah keadaan mayoritas penduduk dunia yang belum mendapatkan informasi tentang Islam secara jelas, memuaskan secara logika, menenangkan secara hati, dan jauh dari keraguan. Statusnya di dunia adalah kafir yang tidak diberlakukan hukum Muslim dalam masalah pernikahan, warisan, dishalati ketika mati, dan lainnya dari hukum-hukum jenazah. Tidak dibebani kewajiban syariat sebagaimana Muslim seperti kewajiban shalat, zakat dan hijab.

Sedangkan statusnya di akhirat, menurut pendapat yang kuat, adalah dia termasuk ahli fatrah sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah,

وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Qs. Al-Isra: 15)

Inilah pemahaman yang sangat jelas kesesuaiannya dengan keadilan ilahi dan kasih sayang Allah.

Keempat, kafir mu’anid (kafir yang menentang). Yaitu orang yang telah mendapatkan dakwah risalah Islam tanpa gangguan baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan yang menghalanginya dari informasi yang benar tentang Islam. Dia tetap dalam kekafirannya terhadap risalah Islam. Dia tetap ingkar terhadapnya sebagai bentuk penentangan terhadap apa yang sudah menetap dalam akal dan hati tentang kebenaran Islam dan menerima kebenarannya. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam firman Allah,

وجحدوا بها واستيقنتها أنفسهم ظلما وعلوا

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) Padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (Qs. An-Naml: 14).

Status duniawi sebagai kafir ini ditambah hukum ukhrawi bahwa ia termasuk golongan penghuni neraka jika dia mati dalam keadaan seperti itu. Hal ini sebagaimana dikabarkan Al-Quran,

والذين كفروا وكذبوا بآياتنا أولئك أصحاب النار هم فيها خالدون

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Qs. Al-Baqarah: 39).

Seluruh macam kekafiran di atas tidak diperbolehkan dimusuhi dan diperangi sebab kekafirannya. Tidak boleh memaksan mereka masuk Islam karena tidak ada paksaan untuk masuk Islam. Masuk Islam adalah sebuah pilihan. Iman adalah ketika pikiran terpuaskan dan hati termantapkan. Allah SWT berfirman,

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Qs. Al-Baqarah: 256).

ولو شاء ربك لآمن من في الأرض كلهم جميعا أفأنت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Qs. Yunus: 99).

وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". (Qs. Al-Kahfi: 29).

من كفر فعليه كفره ومن عمل صالحا فلأنفسهم يمهدون

Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu. Dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). (Qs. Ar-Rum: 44).

ومن كفر فلا يحزنك كفره إلينا مرجعهم فننبئهم بما عملوا إن الله عليم بذات الصدور

Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati. (Qs. Luqman: 23)

Kelima, kafir harbi (kafir yang memerangi). Yaitu orang yang mengumpulkan sifat kafir, memusuhi dan memerangi. Adakalanya secara langsung memusuhi dan memerangi, atau secara terang-terangan menggerakkan peperangan, atau melakukan langkah-langkah yang telah ditetapkannya untuk proyek perang, atau dengan cara mencegah hak masyarakat memilih iman Islam, atau memaksa mereka tetap dalam kekafirannya. Status kafir mereka di dunia serta status ukhrawinya jika mereka mati dalam keadaan seperti itu, akan ditambah keharusan jihad melawan mereka dengan cara memerangi secara langsung terhadap mereka yang memusuhi tersebut. Dan diberi pilihan antara masuk Islam, membayar jizyah, atau dibunuh bagi orang yang menggerakkan, melakukan langkah-langkah, atau mencegah masyarakat dari haknya dalam kebebasannya untuk memilih. Kepada orang-orang semacam inilah, ayat-ayat perang ditujukan yang seringkali dalam penyebutannya disertai penyebutan kekafiran. Dalilnya adalah praktik Nabi SAW dan para sahabatnya yang mulia yang bermuamalah dengan selain kafir harbi tanpa perang. Rasulullah SAW wafat sedangkan tameng bajanya masih tergadaikan di tangan seorang beragama Yahudi. Jelaslah bahwa sekadar kafir saja bukan alasan untuk memerangi atau membenarkan peperangan.

Inilah makna kata “kafir” secara bahasa dan syara’. Sekarang yang tersisa adalah bahaya kekekacauan yang timbul karena tampilnya orang-orang yang tidak punya keahlian di atas mimbar-mimbar, ruang-ruang mengajar di masjid-masjid, mengadakan forum-forum kajian, dan chanel di dunia maya. Mereka mengangkat ayat-ayat dan hadis-hadis tetang perang untuk menebar fitnah, kebencian, dan pembunuhan.

وإذا تولى سعى في الأرض ليفسد فيها ويهلك الحرث والنسل والله لا يحب الفساد . وإذا قيل له اتق الله أخذته العزة بالإثم فحسبه جهنم ولبئس المهاد

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Qs. Al-Baqarah: 205-206).

Ya Allah jadikan hati kami merasa tenteram dan yakin akan bertemu dengan-Mu, ridha dengan keputusan-Mu, jadikan kebaikan sebagai penutup segala urusan kami, selamatkan kami dari kehinaan di dunia dan azab di akhirat, wahai Dzat yang Maha Pemurah. 

 

Diterjemahkan oleh: M. Khoirul Huda

Judul Asli Artikel: “Kaffara-Yukaffiru-Kafiran”

Sumber: buku Al-Insaniyyah Qabla Al-Tadayyun