Ketika Perempuan Mengejar Karirnya


Dalam budaya kehidupan masyarakat Indonesia, masih ada sebagian yang menganggap bahwa ruang gerak perempuan hanyalah terbatas pada kasur, dapur dan sumur. Ketiganya adalah simbol pekerjaan yang selama ini melekat pada diri perempuan. Berkarir, bekerja, dan mengejar mimpi di luar ketiga hal itu, bagi sebagian orang, masih dianggap tabu dan tidak sesuai dengan Islam.

Pertanyaannya, apakah Islam memang benar-benar membatasi ruang gerak perempuan? Ternyata tidak. Sebaliknya, Islam memberikan ruang gerak yang cukup luas bagi perempuan untuk berkarir. Tentu saja, keleluasaan dan kebebasan gerak perempuan harus berada dalam koridor aturan etika yang ada.

Dalam Al-Quran terdapat sebuah ayat;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al-Ahdzab: 33)

Ayat ini pada awalnya turun khusus untuk istri-istri nabi Muhammad SAW. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukum tersebut berlaku juga untuk perempuan lainnya berdasarkan kaidah al-ibrotu biumumi al-lafzhi la bikhusus as-sabab; bahwa keumuman lafazh yang harus diambil bukan sebab yang khusus. Namun selain itu, mayoritas ulama sepakat bahwa perintah untuk berdiam diri di rumah itu bukan harga mati tanpa adanya pengecualian.

Dasarnya adalah potongan ayat selanjutnya; wa la tabarrujna tabarrujal jahiliyyatil ula, yang memberikan isyarat bahwa bahwa istri-istri nabi dan perempuan lainnya pun boleh keluar rumah namun dengan syarat. Jadi ayat tersebut tidak bisa dipakai sebagai dasar bahwa perempuan harus tinggal di rumah dan menghentikan segala bentuk pekerjaannya di luar rumah.

Hal lain bahwa perempuan boleh berkarir ditunjukkan sendiri oleh istri Nabi. Khadijah binti Khuwaylid adalah seorang saudagar yang kaya raya. Beliau memiliki perusahan agensi perdagangan yang cukup besar dan tersebar di beberapa kota luar Mekkah. Dari perdagangan inilah Khadijah mampu membiayai dakwah Nabi Muhammad SAW di masa-masa awal Islam.

Maka tidak diragukan lagi bahwa Islam sangat mendukung perempuan untuk berkarir dan mengejar mimpinya. Namun ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan terkait hak dan kewajiban seorang perempuan sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya;

  1. Pekerjaan dan karir yang ditempuh adalah pekerjaan yang halal dan diperbolehkan oleh Syariat, bukan pekerjaan haram. Menjadi guru, dokter, dan profesi lain yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan oleh Islam.
  2. Memperhatikan nilai-nilai etika dalam hal berpakaian, bertingkahlaku dan lainnya. Perempuan karir juga harus memperhatikan gaya berpakaiannya, ucapan dan tingkah lakunya. Ia juga harus memperhatikan etika bersosialisasi dengan lawan jenis.
  3. Mendapat ijin orang tua atau suami. Jika kamu jomblo, maka kamu harus terlebih dahulu mendapat ijin orang tua. Jika kamu seorang istri, maka kamu harus terlebih dahulu mendapat ijin suami.
  4. Tidak mengabaikan kewajiban asasi. Seorang wanita karir juga harus memperhatikan kewajibannya sebagai seorang ibu ataupun istri. Jangan sampai bekerja menjadikannya lupa pada kewajiban-kewajiban tersebut.
  5. Senantiasa menjaga martabat dan harga diri keluarga.

Itulah beberapa ketentuan yang harus diperhatikan bagi perempuan yang ingin berkarir. Tentunya bukan hanya bagi perempuan, laki-laki juga harus memperhatikan kelima ketentuan tersebut dalam karir dan pekerjaannya.