Ketika “Khunsa” dan “Mukhannas” Menikah…

Jumat, 10 Januari 2020 diskusi 200 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Di dalam fiqih Islam ada dua sebutan untuk LGBT, Khunsa atau Mukhannats. Khunsa adalah seseorang yang terlahir mempunyai dua alat kelamin sekaligus, dan status nya bisa diputuskan apakah dia laki-laki atau perempuan, sedangkan muhkannats, yang merujuk ke al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (Ensiklopedi Fikih Kuwait), definisinya adalah “alladzi yusyabbihu al-mar’ah fil-liyni wal-kalam wan-nazhar wal-harakah wanahwi dzalika” (lelaki yang menyamai wanita dalam kelembutan, cara bicara, cara melihat, cara bergerak, dan semacamnya).

Namun bagaimana jika Khunsa dan Muhkannas menikah?

Menurut hukum Islam, perkawinan yang disyariatkan oleh Allah SWT adalah perkawinan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan dari jenisnya sendiri, yaitu jenis manusia. Dan, Allah SWT melarang penyimpangan hubungan seksual yang tidak sah (pelacuran) dan hubungan seksual yang tidak wajar seperti penyimpangan seks kaum Nabi Luth yang melampiaskan nafsunya dengan melakukan homoseksual (lelaki sesama lelaki) dan mereka menjauhi perempuan sebagai istrinya yang sah yang seharusnya digauli. Demikian juga terlarang wanita melampiaskan seksualnya dengan sesama wanita atau lesbi, dan juga penyimpangan hubungan seksual lainnya yang dianggap tidak wajar seperti sodomi, dan lain sebagainya. Diciptakannya jenis lelaki dan perempuan yang dilengkapi dengan berbagai perasaan akan menimbulkan daya tarik dan saling tertarik antara dua jenis lelaki dan perempuan. Jadi rasa tertarik dan mencintai lawan jenisnya adalah normal dan berarti rasa tertarik atau mencintai sesama jenisnya adalah abnormal atau suatu penyimpangan.

Dalil yang melarang untuk praktek seks menyimpang.

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn Terjemah Arti: Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Q. S. al-A`raf, 81.

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ - وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". Q. S. asy-Syuara. 165-166.

Jikalau dia muhkannas, maka jelas dia adalah lelaki sekaligus hukum yang berlaku adalah hukum untuk laki-laki. Namun apabila dia Khunsa, menurut sebagian ulama, hukumnya tergantung kecenderungan hormonalnya. Maka ketika khunsa musykil maupun ghairu musykil melakukan hubungan seksual dengan orang berjenis kelamin sama seperti kecenderungan hormonal dan fungsi kelaminnya, maka hal itu termasuk tindak pidana dalam Islam. Sebaliknya, jika ada khunsa yang kawin dengan pasangan yang tidak sejenis atau berjenis kelamin beda seperti yang terdapat pada khuntsa ghoiru musykil, maka setatus perkawinannya tak ubahnya status perkawinan manusia normal.

Oleh sebab itu, orang khunsa sebaiknya tidak melangsungkan pernikahan dengan sesama khunsa, kecuali bila status hukumnya sudah jelas lelaki atau perempuan. Hal ini untuk menghindari perkawinan sesama jenis kelamin. Bila terjadi seseorang lelaki mengawini khunsa, tapi kemudian ternyata si khunsa itu lelaki, atau seorang perempuan kawin dengan khunsa tetapi ternyata khunsa itu perempuan, maka hukumnya diperselisihkan antara sah dan tidak sah. Menurut ulama fikih, nikahnya tidak sah karena khunsa tersebut itu khunsa musykil dan menjadi fasid karena bertentangan dengan yang disyariatkannya pernikahan dan menyalahi kodrat.