Kebolehan Berwudhu Dengan Gayung Menggunakan Telapak Tangan

Kamis, 3 Januari 2019 diskusi 494 klik

Akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan mengenai apakah boleh berwudhu dengan air yang ada di dalam gayung? Jika diperhatikan, air di dalam gayung tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai air yang lebih dari dua qullah, ini karena air tersebut tidak mencapai 270 liter atau setara dengan 81 rithl menurut perhitungan orang Syam.

Ada dua cara untuk menggunakan air dalam gayung untuk berwudhu. Cara yang pertama yang tidak diperdebatkan adalah dengan mengalirkan air, sedangkan cara yang kedua adalah dengan menjadikan telapak tangan (anggota wudhu) untuk mengambil air yang sedikit tersebut. Cara yang kedua ini masih banyak diperdebatkan oleh ulama.

Dalam Hasyiyah ‘Ianatut Thalibin, Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-Dimyathi (w. setelah 1302 H) menjelaskan persoalan kebolehan menggunakan air dalam ina’ (wadah; seperti gayung) untuk bersuci selama air tersebut tidak musta’mal. Adapun air dinamakan sebagai air musta’mal jika memenuhi empat hal berikut:

Pertama, air yang sedikit atau tidak sampai dua qullah

Kedua, air tersebut telah digunakan untuk melakukan hal-hal yang wajib. Ini seperti membasuh muka dalam berwudhu, atau membasuh rambut saat mandi besar.

Ketiga, air tersebut telah terpisah atau menetes dari anggota tubuh (anggota wudhu/janabah).

Keempat, tidak adanya niat untuk ightiraf (menggunakan tangan sebagai alat mengambil air) ketika hendak menyentuh air dalam wadah. Dalam kasus mandi besar, ketika telah berniat untuk mandi janabah dan ia tidak berniat menjadikan tangannya sebagai gayung (ightiraf), maka air tersebut tergolong musta’mal ketika telah disentuh oleh tangannya, sedangkan dalam berwudhu air ketika air dalam gayung telah digunakan untuk membasuh muka, dan ketika hendak membasuh tangan dan ia tidak berniat untuk ightiraf maka air tersebut akan menjadi musta’mal.

Berikut teks yang terdapat dalam Hasyiyah I’anah:

واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه. فلو نوى الغسل من الجنابة ثم وضع كفه في ماء قليل ولم ينو الاغتراف صار مستعملا. وفي الوضوء بعد غسل الوجه وعند إرادة غسل اليدين، فلو لم ينو الاغتراف حينئذ صار الماء مستعملا

Keterangan tentang ketidak musta’malan air yang sedikit tersebut selama ada niat ightiraf juga dapat dijumpai dalam beberapa kitab lain seperti, Mughni al-Muhtaj dan al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

Jika disimpulkan, maka air yang sedikit yang ada dalam sebuah wadah atau gayung tidak akan menjadi musta’mal selama ada niat ightiraf ketika hendak menggunakan telapak tangan sebagai alat untuk mengambil air tersebut.

Wallahu a’lam.