Inilah Makna Cinta Menurut Para Ulama

Selasa, 25 September 2018 diskusi 6414 klik
Misbahuddin LA Teks:Misbahuddin LA
Faza Grafis:Faza

Kita sudah sangat sering mendengar kata-kata cinta dari orang-orang di sekeliling kita. Baik anak-anak, remaja hingga dewasa, mereka memiliki ungkapan dan pemaknaan sendiri mengenai hal ini. Namun penting kiranya kita mengetahui bagaimana makna cinta menurut para ulama yang sangat ahli dalam masalah yang berhubungan dengan hati dan perasaan.

Dalam al-Risalah al-Qusyairiyah, al-Imam Abu al-Qasim ‘Abd al-Karim bin Hawazin al-Qusyairi al-Naisaburi al-Syafi’i (w. 465 H.) mengumpulkan banyak sekali ungkapan para ulama yang menjelaskan perasaan cinta. Baik cinta mereka kepada Tuhannya ataupun cinta kepada mahluk-Nya.

Sebelum itu perlu diketahui bahwa cinta dalam bahasa Arab disebut juga dengan mahabbah. Dalam dunia tasawuf, mahabbah merupakan bagian dari ahwal atau hal. Yaitu suatu kondisi yang muncul dalam hati manusia tanpa ada kesengajaan alias tanpa adanya upaya, seperti rasa sedih, rindu, rasa cemas dan lain sebagainya. Allah SWT sendiri dalam sebuah hadis qudsi menunjukkan rasa “cinta-Nya” dengan ungkapan, man ahaana lii waliyyan fa qad baarazanii bil muhaarabah (barangsiapa yang menghina kekasih-Ku, maka dia telah menunjukkan permusuhannya terhadap-Ku), hadis ini diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik dengan redaksi yang lumayan panjang.

Perasaan “cinta” Tuhan di atas tentu saja berbeda dengan perasaan cinta yang dimiliki oleh manusia. Sayangnya, artikel ini hanya akan membahas tentang bagaimana ulama mendeskripsikan rasa cinta mereka kepada Tuhannya atau sesamanya.

1. Abu Yazid al-Busthami menyebut bahwa cinta adalah

اِسْتِقْلَالُ الْكَثِيْرِ مِنْ نَفْسِكَ، وَاسْتِكْثَارُ الْقَلِيْلِ مِنْ حَبِيْبِكَ

“Menganggap sedikit sesuatu yang  banyak yang berasal darimu, dan menganggap banyak hal yang sedikit yang berasal dari kekasihmu.” Ungkapan ini menunjukan bahwa cinta itu adalah memberi, memberikan segalanya yang kita miliki untuk pujaan hati, jika menurut orang lain pemberian kita telah banyak, maka kita perlu memberi lebih banyak lagi, selebihnya jika sang pujaan hati memberikan sesuatu, maka sesuatu yang sedikit itu sangatlah berarti dan banyak sekali bagi orang yang mencinta.

2. Junaid al-Baghdadi menyebut bahwa cinta adalah

دُخُوْلُ صِفَاتِ الْمَحْبُوْبِ عَلَى الْبَدْلِ مِنْ صِفَاتِ الْمُحِبِّ

“Masuknya sifat-sifat orang yang dicintai sebagai ganti dari sifat-sifat orang yang mencintai.” Di sini tampak bahwa orang yang menurut Junaid al-Baghdadi sebagai orang yang dimabuk cinta adalah ketika sifat-sifat dia sendiri telah melebur dengan sifat yang dicintainya.

3. Al-Syibili mengatakan, sebagai berikut:

سُمِّيَتْ الْمَحَبَّةُ مَحَبَّة، لِأَنَّهَا تَمْحُو مِنَ الْقَلْبِ مَا سِوَى الْمَحْبُوْبِ

“Cinta dinamakan dengan cinta karena cinta menghapuskan siapapun yang ada di dalam hati selain dari pada sang kekasih.” Ungkapan ini sangat dalam seperti ungkapan-ungkapan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa orang benar-benar dikatakan mencintai ketika yang ada di dalam hatinya hanya ada sang kekasih.

4. Abu ‘Ali al-Rudzabali mengatakan tentang cinta, sebagai berikut:

اَلْمَحَبَّةُ اَلْمُوَافَقَةُ

“Cinta adalah kesesuaian (-chemistry).”

Dari beberapa ungkapan cinta di atas dapat sedikit diambil kesimpulan bahwa cinta itu memberi, cinta itu meleburnya sifat orang yang dicintai ke dalam dirinya, cinta itu kecenderungan hati hanya mengingat orang yang dicintai, dan cinta itu adalah chemistry atau kesesuaian antara dua orang yang saling mencintai.

Demikian beberapa hal tentang cinta, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Misbahuddin)